Nemesis
IndoForum Activist E
- No. Urut
- 55724
- Sejak
- 26 Okt 2008
- Pesan
- 9.732
- Nilai reaksi
- 503
- Poin
- 113
Empat orang lelaki muda berada di suatu rumah sakit bersalin. Mereka menanti kelahiran bayi mereka.
Untuk menghabiskan waktu dan menghilangkan ketegangan, mereka mengobrol dan saling berkenalan.
Nama mereka masing-masing adalah: Hasan, Udin, Jamal dan Rudi.
Setelah beberapa lama mereka menunggu, pintu kamar tempat persalinan terbuka, dan seorang suster muncul dari balik pintu, “Pak Hasan?”
“Ya, Sus?” Pak Hasan menjawab dengan harap-harap cemas.
“Selamat Pak! Anak Anda lahir kembar dua”, kata suster itu lagi.
“Alhamdulillah.” Pak Hasan menarik napas panjang dengan penuh kelegaan. Dan dia melepaskan ketegangan dengan mencoba untuk melucu. “Anak saya kembar dua mungkin karena saya bekerja di Kacang Dua Kelinci”
Yang lain tertawa meskipun terasa dipaksakan, mungkin untuk mengurangi ketegangan di hati mereka.
Tak berapa lama, sang suster muncul lagi dari balik pintu.
“Pak Udin?” panggilnya.
“Saya Suster!” jawab Pak Udin. “Bagaimana anak saya?”
“Selamat Pak Udin, anak Anda kembar tiga. Semuanya sehat, termasuk ibunya.”
“Wuih”, Pak Udin menghembuskan napas penuh kelegaan. “Kembar tiga, ya Sus? Wah, ini mungkin karena saya bekerja di pabrik Semen Tiga Roda.”
Yang lain tertawa kecut karena mereka masih menanti kabar tentang bayi mereka.
Selang beberapa lama, pintu terbuka lagi.
Semua mata tertuju ke pintu itu, dan sang Suster mulai dengan ritualnya lagi, “Pak Jamal?”
“Ya Bu? Ya Bu?”, Pak Jamal menjawab dengan terbata-bata, “Bagaimana? Semuanya selamat.”
“Istri dan bayi-bayi Anda semua selamat.” kata suster.
“Bayi-bayi saya?” kata Pak Jamal dengan semangat. "Apa anak saya kembar empat?"
“Benar, Pak. Anak Bapak kembar empat. Bagaimana Bapak bisa tahu.”
“Wah, ini bukan kebetulan lagi." kata Pak Jamal dengan lebih semangat. "Saya bekerja di toko buku Empat Sekawan.”
Tiba-tiba pak Rudi, yang belum dipanggil namanya dan sejak tadi diam saja, terjatuh dan tergeletak pingsan.
Yang lain pada kebingungan. Mereka berusaha menyadarkan Pak Rudi. Ada yang memijitnya, ada yang mengoleskan minyak angin ke dada dan hidungnya.
Setelah Pak Rudi siuman, semuanya bergantian menanyainya.
“Ada apa, Pak?”
“Belum sarapan, ya?”
“Tadi malam apa kurang tidur? Bergadang terus?”
Dengan lirih Pak Rudi menjawab, “Saya bekerja di Auto 2000...”



Untuk menghabiskan waktu dan menghilangkan ketegangan, mereka mengobrol dan saling berkenalan.
Nama mereka masing-masing adalah: Hasan, Udin, Jamal dan Rudi.
Setelah beberapa lama mereka menunggu, pintu kamar tempat persalinan terbuka, dan seorang suster muncul dari balik pintu, “Pak Hasan?”
“Ya, Sus?” Pak Hasan menjawab dengan harap-harap cemas.
“Selamat Pak! Anak Anda lahir kembar dua”, kata suster itu lagi.
“Alhamdulillah.” Pak Hasan menarik napas panjang dengan penuh kelegaan. Dan dia melepaskan ketegangan dengan mencoba untuk melucu. “Anak saya kembar dua mungkin karena saya bekerja di Kacang Dua Kelinci”
Yang lain tertawa meskipun terasa dipaksakan, mungkin untuk mengurangi ketegangan di hati mereka.
Tak berapa lama, sang suster muncul lagi dari balik pintu.
“Pak Udin?” panggilnya.
“Saya Suster!” jawab Pak Udin. “Bagaimana anak saya?”
“Selamat Pak Udin, anak Anda kembar tiga. Semuanya sehat, termasuk ibunya.”
“Wuih”, Pak Udin menghembuskan napas penuh kelegaan. “Kembar tiga, ya Sus? Wah, ini mungkin karena saya bekerja di pabrik Semen Tiga Roda.”
Yang lain tertawa kecut karena mereka masih menanti kabar tentang bayi mereka.
Selang beberapa lama, pintu terbuka lagi.
Semua mata tertuju ke pintu itu, dan sang Suster mulai dengan ritualnya lagi, “Pak Jamal?”
“Ya Bu? Ya Bu?”, Pak Jamal menjawab dengan terbata-bata, “Bagaimana? Semuanya selamat.”
“Istri dan bayi-bayi Anda semua selamat.” kata suster.
“Bayi-bayi saya?” kata Pak Jamal dengan semangat. "Apa anak saya kembar empat?"
“Benar, Pak. Anak Bapak kembar empat. Bagaimana Bapak bisa tahu.”
“Wah, ini bukan kebetulan lagi." kata Pak Jamal dengan lebih semangat. "Saya bekerja di toko buku Empat Sekawan.”
Tiba-tiba pak Rudi, yang belum dipanggil namanya dan sejak tadi diam saja, terjatuh dan tergeletak pingsan.
Yang lain pada kebingungan. Mereka berusaha menyadarkan Pak Rudi. Ada yang memijitnya, ada yang mengoleskan minyak angin ke dada dan hidungnya.
Setelah Pak Rudi siuman, semuanya bergantian menanyainya.
“Ada apa, Pak?”
“Belum sarapan, ya?”
“Tadi malam apa kurang tidur? Bergadang terus?”
Dengan lirih Pak Rudi menjawab, “Saya bekerja di Auto 2000...”


