• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Kisah Di Balik Lagu What a Wonderful World

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Kisah Di Balik Lagu What a Wonderful World


Lagu "What a Wonderful World" yg dinyanyikan oleh Louis Armstrong adalah sebuah lagu yg indah & penuh harapan. Lagu ini ditulis oleh Bob Thiele & George Weiss, & jadi sangat populer pada masa Perang Vietnam. Lagu ini menggambarkan keindahan dunia & asa untuk masa depan yg lebih baik, meskipun ada banyak kekerasan & kebencian di dunia.

Lirik lagu ini sangat puitis & menggambarkan keindahan alam, seperti pohon hijau & mawar merah. Lagu ini juga menekankan pentingnya asa & sayang kasih, serta menggambarkan bahwa dunia ini adalah tempat yg indah & penuh kasih.

Lagu ini memiliki makna yg mendalam, khususnya dalam konteks Perang Vietnam. Perang ini menyebabkan banyak kematian & kehancuran, & lagu ini jadi simbol asa & perdamaian. Louis Armstrong, sebagai seorang musisi kulit hitam yg menghadapi diskriminasi rasial, menunjukkan bahwa bahkan di tengah kesulitan, kita masih dapat memiliki asa & sayang kasih.

Lagu "What a Wonderful World" juga menampilkan instrumen yg indah, termasuk biola, drum, flute, double bass, trumpet, & harpsi chord. Flute dimainkan pada verse ketiga untuk memberikan nuansa yg lebih ceria.

Secara keseluruhan, "What a Wonderful World" adalah lagu yg penuh asa & sayang kasih, yg mengingatkan kita untuk sering melihat keindahan dunia & memiliki asa untuk masa depan yg lebih baik.

Lagu "What a Wonderful World" oleh Louis Armstrong umumnya ditafsirkan sebagai pesan penuh asa & apresiasi kepada kehidupan, yg justru diciptakan & dinyanyikan di tengah gejolak sosial & penolakan industri musik. Lagu ini mengajak pendengar untuk melihat kebaikan & keindahan di sekeliling mereka.

Makna di Balik Lirik

Lirik lagu ini menggambarkan keindahan sederhana dalam kehidupan, & maknanya jadi lebih dalam kalau dilihat dari konteks penciptaannya:

Penghargaan pada Alam & Koneksi Manusia.Liriknya berfokus pada hal-hal mendasar yg indah, seperti pohon hijau, mawar merah, langit biru, & awan putih. Kemudian, lagu ini beralih pada kehangatan hubungan manusia, dengan menyebutkan warna-warni pelangi yg terlihat di paras orang-orang yg lalu lalang, & sapaan "how do you do" yg dianggapnya sebagai ungkapan "I love you". Ini menekankan pesan tentang persamaan & sayang kasih antar sesama manusia.
Harapan untuk Masa Depan. Pada bait terakhir, Armstrong menyanyikan, "I hear babies cry, I watch them grow / They'll learn much more than I'll ever know". Ini mencerminkan sebuah keyakinan bahwa generasi mendatang akan tumbuh dengan pengetahuan & pemahaman yg lebih baik daripada generasinya, membawa dunia ke arah yg lebih baik.
Sebagai Bentuk "Defiant Hope" Lagu ini ditulis pada tahun 1967, sebuah era yg penuh dengan perang Vietnam, kerusuhan rasial, & ketegangan sosial lainnya. Para pencipta lagu, Bob Thiele & George David Weiss, sengaja menulisnya untuk Armstrong dengan asa suaranya yg khas dapat menyatukan orang-orang & mengingatkan mereka bahwa dunia ini penuh dengan sayang & berbagi, meskipun keadaan saat itu suram. Lagu ini adalah pemberontakan penuh sukacita kepada keputusasaan.
Koneksi Pribadi Armstrong: Meski awalnya tidak terlalu menyukai lagu ini, Armstrong kemudian mengaitkannya dengan kehidupan pribadinya. Ia menyamakan lirik tentang melihat bayi tumbuh dengan pengalamannya menyaksikan tiga generasi anak-anak tetangga tumbuh di lingkungan tempat tinggalnya di Corona, Queens. Bagi mereka, Armstrong adalah "Paman Satchmo".

Ketenaran lagu ini tidak terjadi secara instan. Presiden perusahaan rekaman ABC, Larry Newton, sangat membenci lagu ini karena dianggap terlalu lambat & sentimental, serta bukanlah lagu pop ceria seperti "Hello, Dolly!" yg sebelumnya sukses.

Newton hingga berusaha menghentikan sesi rekaman & kemudian menolak mempromosikan lagu ini di Amerika Serikat. Akibatnya, singel ini awalnya cuma terjual sekitar 1,000 kopi di AS, meski sempat jadi nomor satu di Inggris. Popularitas global lagu ini baru benar-benar meledak setelah ditampilkan dalam film "Good Morning, Vietnam" (1988), & sejak itu jadi standar musik yg abadi.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.