• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Kisah dari Medan, Kota Ini di Bawah Cengkraman Ormas & Preman

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Quote:
Kisah dari Medan, Kota Ini di Bawah Cengkraman Ormas & Preman


Sumber: Instagram | Okezone News​



Ormas & preman, dua mengatakan itu tak pernah dapat dilepaskan dari Kota Medan. Di Medan ada dua ormas akbar yg berkuasa, yakni Pemuda Pancasila (PP) & Ikatan Pemuda Karya (IPK). Tak cuma berkuasa, kedua ormas ini juga sering terlibat bentrokan yg merepotkan masyarakat.

Ironisnya, kebanyakan anggota ormas adalah preman. Sehingga tak heran, kasus pungli & kekerasan terus menghantui ibu kota Sumatra Utara ini. Pada dekade 1960 hingga 1980-an, banyak preman yg bergabung jadi anggota ormas Pemuda Pancasila & Ikatan Pemuda Karya.

Tenaga mereka kemudian dipakai untuk menjaga tempat hiburan & menggalang dukungan bagi kontestan pemilu. Perebutan lahan, pengaruh & kekuasaan menyebabkan bentrokan tak terhindarkan dari kedua ormas ini. Bagi warga Medan, bentrokan Pemuda Pancasila & Ikatan Pemuda Karya adalah hal yg jadi tontonan setiap tahun.

Mungkin banyak pembaca belum tahu, kalau mengatakan preman dipopulerkan oleh pemerintah kolonial Belanda sejak awal zaman 20. Tuan-tuan kebun Belanda (Planters) sebagai pemilik tanah Deli, dulu banyak mempekerjakan kuli non-kontrak alias tenaga lepas yg dibayar harian. Para pekerja itu kemudian disebut Vrije Man, berarti orang bebas.

Tapi, para Vrije Mansering jadi pengganggu bagi tuan kebun Belanda dalam usahanya. Vrije Man muncul sebagai pahlawan bagi kuli kontrak dari Jawa, Tionghoa, & India yg disiksa mandor kebun. Vrije Man membalas dengan merusak tanaman, mabuk & bikin keributan serta menantang berkelahi.

Sebagai balas jasa, Vrije Man kemudian boleh mengambil makanan & minuman di warung secara gratis. Dari sini sebutan Vrije Man berubah jadi preman."

Sampai tahun 1950-an, kehadiran preman masih diterima masyarakat Medan. Bahkan Wali Kota Medan waktu itu, Haji Muda Siregar, pernah memberikan preman penghargaan karena dianggap berjasa mendamaikan konflik antar suku & menolong warga yg alami pencurian.

Quote:
Kisah dari Medan, Kota Ini di Bawah Cengkraman Ormas & Preman


Sumber: Pelita Harian​


Citra preman di Medan berubah drastis memasuki awal 1960-an, karena waktu itu mereka banyak direkrut oleh organisasi kepemudaan bernama Pemuda Pancasila. Waktu itu, selain Pemuda Pancasila, Partai Komunis Indonesia (PKI) juga memiliki organisasi kepemudaan bernama Pemuda Rakyat. Para pemuda direkrut sebagai kader & sumber kekuatan PKI.

Pemuda Pancasila yg baru seumur jagung harap menandingi Pemuda Rakyat bentukan PKI, untuk itu mereka merekrut pemuda & preman jalanan sebanyak mungkin.

Pada periode 1963 - 1965 merupakan tahun panas bagi penentang & pendukung PKI. Tahun 1965, anggota Pemuda Pancasila yg dipimpin Anwar Congo ikut dalam pembantaian massal simpatisan PKI di Medan. Anwar Congo pun terkenal setelah aksi itu, & jadi sosok penting yg membesarkan nama Pemuda Pancasila.

Pasca tragedi 65, nama Pemuda Pancasila semakin dikenal, & dianggap sebagai organisasi militan terbesar anti-komunis di Indonesia. Nama akbar mereka menciptakan banyak preman harap bergabung dengan organisasi ini.

Masalah kemudian muncul, karena kegiatan Pemuda Pancasila tak jauh-jauh dari aksi kriminal yg meresahkan masyarakat. Dari sini citra preman di Medan berubah total.

Quote:
Kisah dari Medan, Kota Ini di Bawah Cengkraman Ormas & Preman


Olo Panggabean. Sumber: nbasis.wordpress.com​


Pada tahun 1969, Olo Panggabean, salah satu anggota Pemuda Pancasila memilih hengkang. Dia kemudian mendirikan organisasi kepemudaan sendiri, yg diberi nama Ikatan Pemuda Karya (IPK). Olo diketahui sebagai salah satu preman legendaris & dihormati di Medan, namun keberadaannya cukup misterius.

Wajahnya jarang tersorot media, foto dirinya pun cukup terbatas, banyak cerita mistis yg dibumbui dalam kisah sang preman. Konon katanya, Olo tidak menikah, sebagai syarat dari kepercayaan magis yg dia percayai, supaya kekuasannya dapat bertahan lama. Informasi tentang Olo sangat terbatas, cuma tersebar lewat mulut ke mulut saja.

Namun, pria ini diketahui sebagai mafia kelas kakap, bandar judi & bos preman. Dia bahkan dapat julukan God Father of Medan. Olo Panggabean pernah dicurigai polisi sebagai dalang dibalik maraknya aksi judi di kota Medan pada era 80-an. Kecurigaan itu pun berujung bentrok antara Ikatan Pemuda Karya & Brimob pada 1989.

Pembrantasan judi secara serius di Medan baru terjadi ketika Jendral Sutanto menjabat sebagai Kapolda Sumatra Utara & Kapolri. Jendral Sutanto membrantas judi kurang dari 3 tahun. Hal yg tak dapat dilakukan Kapolri sebelumnya.

Quote:
Kisah dari Medan, Kota Ini di Bawah Cengkraman Ormas & Preman


Sumber: lintassumut.com​


Kiprah Olo Panggabean sebagai Raja Judi mungkin cuma sebatas kecurigaan tanpa bukti. Tapi, kiprahnya sebagai ketua ormas tak dapat dibantah. Pria yg bernama lengkap Sahara Oloan Panggabean itu juga diketahui sebagai sosok dermawan yg sering menolong masyarakat miskin di Sumatra Utara.

Melalui Ikatan Pemuda Karya, Olo merekrut anggota dari remaja putus sekolah, preman, hingga pengangguran. Karena itu Ikatan Pemuda Karya sering dipakai untuk membekingi bisnis pengusaha, menjaga tempat hiburan, pengelola lahan parkir, hingga lumbung suara bagi politisi lokal. Setelah Olo meninggal dunia, tampuk kepemimpinan Ikatan Pemuda Karya dipegang keponakannya, Budi Panggabean.




Pemuda Pancasila vs Ikatan Pemuda Karya: Konflik Perebutan Kekuasaan & Wilayah​



Bagi ormas, kekuasaan & wilayah adalah harga mati. Oleh karena itu, Pemuda Pancasila & Ikatan Pemuda Karya sering terlibat bentrokan mematikan & berbahaya. Pada 2016 misalnya, bentrokan kedua ormas ini pecah, mengakibatkan satu tewas & puluhan lainnya luka-luka. Bentrokan terjadi karena polisi membiarkan konvoi ormas tanpa pengawalan.

Meski setelah bentrokan, kedua ormas sepakat untuk berdamai, riak-riak perselisihan masih terjadi hingga hari ini. Selain perebutan wilayah & kekuasaan, bentrokan terjadi karena masalah prideatau harga diri dari masing-masing ormas.

Cengkraman ormas hingga hari ini masih jadi masalah pelik & meresahkan bagi masyarakat Kota Medan. Sementara itu, dulu Wali Kota Medan Bobby Nasution, sering menyindir & bereaksi atas kasus-kasus ormas yg menjerumus ke kekerasan & premanisme.

Namun, di sisi lain, Bobby berhasil jadi Wali Kota Medan berkat dukungan ribuan kader Ikatan Pemuda Karya. Bahkan menantu Jokowi ini dijadikan sebagai kader kehormatan Ikatan Pemuda Karya pada 2020.

Quote:
Kisah dari Medan, Kota Ini di Bawah Cengkraman Ormas & Preman


Bobby Nasution didapuk jadi anggota kader kehormatan ormas Ikatan Pemuda Rakyat pada 2020. Sumber: Analisa Daily​


Dukungan ormas memang penting bagi pemilu di Sumatra Utara. Selain Bobby, ormas juga dikerahkan untuk mendukung Syamsul Arifin & Gatot Pujo Nugroho sebagai Gubernur & Wakil Gubernur Sumatra Utara periode 2008 - 2013.

Terpilihnya kedua orang itu tak lepas dari peran & dukungan Pemuda Pancasila, lewat pengaruh para tokoh, jaringan politik yg luas & mobilisasi besar-besaran kadernya.

Pemuda Pancasila juga dimanfaatkan oleh Keluarga Shah untuk menempatkan kerabatnya sebagai pejabat publik di Medan, beberapa keluarga juga jadi pengurus ormas. Berkat dukungan Pemuda Pancasila, Musa Rajekshah berhasil jadi Wakil Gubernur Sumatra Utara periode 2018 - 2023.

Quote:
Kisah dari Medan, Kota Ini di Bawah Cengkraman Ormas & Preman


Sumber: Instagram​


Bentrokan di Medan tak cuma melibatkan ormas vs ormas, tetapi juga melibatkan ormas vs warga. Yang masih hangat, pada 5 Oktober 2025 terjadi bentrokan ormas & warga di Jalan Garuda & Jalan Trikora, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan.

Bentrokan dipicu saat anggota ormas yg pulang pelantikan menggeber-geber kendaraan, sebuah mobil ormas kemudian dilempar batu. Anggota ormas yg tak terima, lalu mengejar pelempar batu, & menyebabkan pecah bentrokan dengan warga sekitar.

Dan begitulah sengkarut ormas & preman di Kota Medan, awalnya preman di medan membela masyarakat, kemudian menciptakan resah masyarakat & kini dijadikan kendaraan politik untuk bertarung di arena pemilu di tingkat lokal hingga nasional.



Sekian & terima kasih, hingga jumpa kapan-kapan.​




Referensi: 1| 2 | 3 | 4​
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.