Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
KILOGRAM vs LITER (Pengalaman Dari Seseorang)
Beras di pasaran setiap daerah berbeda-beda, ada yg jual ecer dalam kilogram & ada yg encer dalam bentuk liter.
Di dusunku Batumarta Sumatera Selatan pakai kilogram, solo, Semarang juga pakai kilogram, sedangkan di Jabodetabek banyak yg ecerannya dalam takaran liter.
Sejatinya ukuran kilogram itu lebih jelas & ukurannya stabil, karna diukur berdasarkan berat benda.
Contohnya: beras 1 karung ada opsi 50kg, 25kg, 10kg & 5kg.
Jika pembeli partai akbar dalam ton, akan nusuk beras karung 50kg dengan concong (alat dari Kuningan atau stainless untuk nusuk karung, supaya dapat tahu kualitas beras dalam karung). Proses ini biasanya mengurangi berat dalam 1 karung, makin banyak tangan ke tangan dalam proses jual beli, maka berat dari 1 karung 50kg, dapat tersisa 49,5kg-49,8kg.
Jadi beras 1 karung 50kg, biasanya berkurang 2-5 ons = 200-500gram.
Sedangkan pada beras ukuran liter, cara ukur mengpakai canting literan, dimana hasilnya tidak sering sama.
Contoh: dari 1 karung beras 50kg, dengan berat bersih 49,5kg tidak akan sering sama jadi 60L, dapat lebih juga dapat kurang, mengapa?
1. Cara menakar beras.
Dimana cara menyerok beras, dengan cara seperti mengambil air dengan gayung akan menghasilkan jumlah liter lebih sedikit.
Karena proses menyerok ada tekanan, sehingga dari karung 49,5kg dengan cara ini dapat menghasilkan jumlah liter lebih sedikit.
Jika cara menaruh kedalam canting liter dengan cara dituang, seperti menuang air dari ember ke ember, ini menghasilkan Jumlah liter lebih banyak daripada cara pertama. Karena tidak ada tekanan.
2. Jenis beras.
Beras yg bagus (halus, licin, pulen, bersih) menghasilkan jumlah liter lebih sedikit daripada beras yg kasar.
Karena beras pulen yg halus saat dituang atau diserok, dengan sifatnya yg licin, maka mudah menata diri di ruang canting takaran, maksudnya beras dalam 1 canting liter lebih padat.
Sedangkan beras yg kasar, saat dituang atau diserok ke canting liter susah memadat.
Sehingga meski berat beras sama, tetapi tipe beras berbeda dalam teksturnya maka hasil liternya tidak akan sama.
Kesimpulannya, lebih baik beli beras dalam kilogram daripada dalam ukuran liter.
Karena dalam membeli beras ukuran kilogram tidak dipengaruhi oleh cara ambil beras & juga tidak dipengaruhi oleh tekstur beras.
Sama-sama untung bagi pembeli & penjual.
Beras Sumatra & beras Jawa itu beda. Beras Jawa lebih pulen & lebih empuk. Beras Sumatra biasanya lebih keras, di Jabodetabek beras Sumatra biasanya dibilang beras pera.
Beras pera memang lebih mahal, karena biasanya didatangkan dari Sumatra ke Jawa. Karena beras ini biasanya untuk dibuat nasi goreng, supaya dapat tekstur nasi goreng yg mawur (gak lengket atau gak menggumpal saat dijadikan nasi goreng).
Tapi beras pera ini juga biasanya dipakai oleh warung Padang, karena orang Padang suka beras pera, ya kerena orang Padang adalah suku asli dari Sumatra yg terbiasa makan nasi pera, dimana tekstur beras pera kalau sudah jadi nasi lalu dikepal-kepal, maka hasil kepalan nasinya, dapat mental macam bola, yg dulu sempat firal dibilang beras palsu.
Beda dengan warteg, berasnya pakai beras pulen. Karena penjualnya orang Jawa, terbiasa makan beras pulen.
Asli tulisan ini karya gabut anak petani yg juga dulunya bantuin bapak mamak nimbang beras saat jadi pedagang.
Kemarin 23:28
Beras di pasaran setiap daerah berbeda-beda, ada yg jual ecer dalam kilogram & ada yg encer dalam bentuk liter.
Di dusunku Batumarta Sumatera Selatan pakai kilogram, solo, Semarang juga pakai kilogram, sedangkan di Jabodetabek banyak yg ecerannya dalam takaran liter.
Sejatinya ukuran kilogram itu lebih jelas & ukurannya stabil, karna diukur berdasarkan berat benda.
Contohnya: beras 1 karung ada opsi 50kg, 25kg, 10kg & 5kg.
Jika pembeli partai akbar dalam ton, akan nusuk beras karung 50kg dengan concong (alat dari Kuningan atau stainless untuk nusuk karung, supaya dapat tahu kualitas beras dalam karung). Proses ini biasanya mengurangi berat dalam 1 karung, makin banyak tangan ke tangan dalam proses jual beli, maka berat dari 1 karung 50kg, dapat tersisa 49,5kg-49,8kg.
Jadi beras 1 karung 50kg, biasanya berkurang 2-5 ons = 200-500gram.
Sedangkan pada beras ukuran liter, cara ukur mengpakai canting literan, dimana hasilnya tidak sering sama.
Contoh: dari 1 karung beras 50kg, dengan berat bersih 49,5kg tidak akan sering sama jadi 60L, dapat lebih juga dapat kurang, mengapa?
1. Cara menakar beras.
Dimana cara menyerok beras, dengan cara seperti mengambil air dengan gayung akan menghasilkan jumlah liter lebih sedikit.
Karena proses menyerok ada tekanan, sehingga dari karung 49,5kg dengan cara ini dapat menghasilkan jumlah liter lebih sedikit.
Jika cara menaruh kedalam canting liter dengan cara dituang, seperti menuang air dari ember ke ember, ini menghasilkan Jumlah liter lebih banyak daripada cara pertama. Karena tidak ada tekanan.
2. Jenis beras.
Beras yg bagus (halus, licin, pulen, bersih) menghasilkan jumlah liter lebih sedikit daripada beras yg kasar.
Karena beras pulen yg halus saat dituang atau diserok, dengan sifatnya yg licin, maka mudah menata diri di ruang canting takaran, maksudnya beras dalam 1 canting liter lebih padat.
Sedangkan beras yg kasar, saat dituang atau diserok ke canting liter susah memadat.
Sehingga meski berat beras sama, tetapi tipe beras berbeda dalam teksturnya maka hasil liternya tidak akan sama.
Kesimpulannya, lebih baik beli beras dalam kilogram daripada dalam ukuran liter.
Karena dalam membeli beras ukuran kilogram tidak dipengaruhi oleh cara ambil beras & juga tidak dipengaruhi oleh tekstur beras.
Sama-sama untung bagi pembeli & penjual.
Beras Sumatra & beras Jawa itu beda. Beras Jawa lebih pulen & lebih empuk. Beras Sumatra biasanya lebih keras, di Jabodetabek beras Sumatra biasanya dibilang beras pera.
Beras pera memang lebih mahal, karena biasanya didatangkan dari Sumatra ke Jawa. Karena beras ini biasanya untuk dibuat nasi goreng, supaya dapat tekstur nasi goreng yg mawur (gak lengket atau gak menggumpal saat dijadikan nasi goreng).
Tapi beras pera ini juga biasanya dipakai oleh warung Padang, karena orang Padang suka beras pera, ya kerena orang Padang adalah suku asli dari Sumatra yg terbiasa makan nasi pera, dimana tekstur beras pera kalau sudah jadi nasi lalu dikepal-kepal, maka hasil kepalan nasinya, dapat mental macam bola, yg dulu sempat firal dibilang beras palsu.
Beda dengan warteg, berasnya pakai beras pulen. Karena penjualnya orang Jawa, terbiasa makan beras pulen.
Asli tulisan ini karya gabut anak petani yg juga dulunya bantuin bapak mamak nimbang beras saat jadi pedagang.
Kemarin 23:28