• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Kiai & Mitologi Ular Raksasa dari Tanah Bugis

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Kiai & Mitologi Ular Raksasa dari Tanah Bugis


Lidah Bugis itu licin bukan licin karena terlalu sering menjilat es krim, tetapi licin seperti ular yg baru ditangkap dari sawah. Kadang bunyinya mendesis, kadang mendayu, & sesekali terdengar seolah sedang berbicara dalam bahasa Prancis yg tergelincir di lumpur sawah. Jika lidah orang Jawa kerap terdengar medhokBritish, seperti bule Inggris yg terlalu lama tinggal di kampung, maka orang Bugis sadar atau tidak sejak lama sudah mempraktikkan lingua franca versi tropis. Setiap suku mengatakan mengalir mulus, konsonan nyaris menguap, & intonasi menari di antara keseriusan & godaan.

Di Sidrap atau Parepare, orang Bugis dapat menyebut mengatakan Olympique Lyon, Napoleon, atau tlphone dengan keanggunan yg nyaris identik dengan lidah Paris, Marseille, bahkan Quebec. Dan yg paling menawan: mengatakan "makan" & "makam" dalam pelafalan Bugis akan terdengar sama mkang. Coba ucapkan perlahan; rasanya seperti sedang menyeruput espresso di kafe kecil Saint-Germain, meski kenyataannya cuma duduk di bale-bale bambu sambil menatap sawah.

Namun, di balik keanggunan itu, lidah Bugis punya keluwesan yg berbeda. Jika orang Jawa membungkus mengatakan dengan keheningan yg penuh takzim, orang Bugis membiarkan bunyi mengalir bebas, seperti air di saluran sawah yg tak pernah benar-benar diam. Ritmenya ringan, cair, & sering siap menyesuaikan diri dengan bahasa mana pun yg lewat di hadapannya. Mungkin sebab itu, kata-kata asing terasa betah di lidah Bugis, berbaur tanpa jarak, tanpa ragu, seolah bahasa dunia memang diciptakan untuk diputar ulang dengan aksen tropis yg tak dapat ditiru siapa pun.

Kata kiai, misalnya, di Jawa sering terdengar manis. Ada rasa hormat yg menempel di setiap suku kata, seolah menyebutnya saja sudah cukup untuk menundukkan kepala. Kiai adalah penanda kebijaksanaan, penggembala akal, sekaligus penopang moral desa. Di ruang publik, ia adalah suara yg ditunggu; di ruang privat, ia jadi bisikan yg tidak pernah dibantah. Kiai, dengan seluruh lapisan maknanya, adalah sosok yg diikat oleh keheningan yg khidmat.

Tetapi pindahkan mengatakan itu ke tanah Bugis, & tiba-tiba semuanya berbelok arah. Di Pinrang atau Bone, mengatakan kiai tidak lagi terdengar sakral. Ia cuma berarti "galilah!" aktivitas sehari-hari yg sama remeh & sama melelahkannya dengan legiatan menggali untuk menanam singkong atau menggali kubur.

Yang menarik, di Sidrap, salah satu kabupaten di Sulsel, juga diketahui istilah kali, yg dalam telinga orang Jawa Timur terdengar seperti versi medhok dari mengatakan gali, di tanah Bugis berdiri sejajar dengan kiai. Seolah-olah bahasa sedang memainkan lelucon, menciptakan orang Jawa & Bugis saling bertukar nama untuk menyebut hal yg sama. Kiai yg berarti menggali di Bugis dipakai sebagai gelar kehormatan untuk ulama di Jawa. Sebaliknya, kali atau gali, yg di Jawa sehari-hari berarti menciptakan lubang di tanah, justru berkelindan dengan mengatakan ulama di tanah Bugis.

Perpindahan makna ini bukan sekadar permainan bunyi. Ia seperti gema yg datang dari lorong panjang sejarah, meninggalkan pertanyaan yg tidak mudah dijawab. Bagaimana mungkin satu mengatakan yg di satu tempat berarti kesucian, di tempat lain cuma berarti gerakan cangkul? Apakah ini cuma kebetulan fonetis, atau justru jejak samar dari pertemuan lintas budaya yg terlalu lama dilupakan?

Kata ulama pun sama nasibnya. Dalam bahasa Arab, ulama berarti orang berilmu, namun di lidah Bugis yg licin, ia terdengar seperti ulma' yg berarti "saya cuma ular". Lucu, sekaligus sedikit menakutkan. Karena dalam mitologi Bugis, ular bukan sekadar hewan. Ia adalah simbol yg menelan, menyimpan, & menguji.

Di situlah tamposisi muncul. Seekor ular naga raksasa, akbar & panjang, yg konon dapat menelan manusia bulat-bulat. Anehnya, mereka yg tertelan tidak mati. Mereka hidup di dalam perut tamposisi, berjalan, bernapas, bahkan kadang berbincang-bincang dengan sesama yg sudah lebih dulu ada di sana. Dan seperti dalam semua cerita rakyat yg tak pernah kehilangan logika ajaibnya, ada cara keluar yg sederhana: nyalakan korek api. Api kecil itu, di ruang gelap yg sempit, cukup untuk menciptakan tamposisi memuntahkanmu.

Kisah ini, bila dipikir-pikir, terlalu pas untuk dianggap kebetulan. Di Jawa, kiai menggali kesadaran, mengeluarkan manusia dari kebodohan. Di Bugis, kiai menggali lubang, membuka ruang kosong di tanah. Dalam bahasa, keduanya sama-sama menandai aktivitas menggali entah menggali ilmu, menggali makna, atau menggali lubang di perut ular.

Namun, sejarah, seperti biasa, tidak pernah polos. Ada kemungkinan bahwa pergeseran makna ini bukan cuma permainan mengatakan yg lucu. Bisa saja ia adalah residu dari masa panjang kolonialisme, ketika kata-kata disusupkan, digeser, dipelintir, supaya masyarakat tidak pernah benar-benar berdiri di atas makna mereka sendiri. Ulama yg berubah jadi ular bukan cuma kebetulan fonetik, melainkan kerja sunyi dari sebuah proyek besar: menciptakan ilmu terasa licin, melata, & berbahaya untuk digenggam.

Di ruang publik, kita diajari untuk menatap kiai seperti menatap cahaya. Tapi di ruang batin, mengatakan itu retak. Di tanah Bugis, kiai dapat berarti apa saja: gali, lubang, bahkan strategi bertahan hidup. Sementara ulama, yg di lidah Arab memuliakan, di lidah Bugis dapat jadi pengingat akan tubuh panjang yg bersembunyi di balik lumpur sungai. Kata-kata ini tidak pernah benar-benar netral; ia sering memanggul sejarah yg lebih akbar dari dirinya.

Bayangkan tamposisi sebagai metafora sejarah Nusantara. Kita semua, entah sadar atau tidak, hidup di dalam perutnya. Gelap, hangat, sedikit pengap, tetapi cukup luas untuk menciptakan kita lupa bahwa ini adalah ruang pencernaan. Kita berjalan, saling menyapa, membangun kota-kota kecil di ruang yg bukan milik kita. Kita menulis buku, membangun masjid, menggelar pasar, tanpa pernah benar-benar bertanya bagaimana kita dapat keluar dari sini.

Dan mungkin, seperti dalam mitologi itu, jalan keluarnya sederhana: nyalakan korek api. Cahaya kecil, yg mungkin tak lebih akbar dari ide yg berani menolak arus, cukup untuk menciptakan tamposisi tersedak & memuntahkan kita kembali ke dunia luar. Tetapi siapa yg berani menyalakan korek di ruang gelap yg sudah dianggap rumah?

Di sinilah mengatakan kiai jadi penting. Kiai bukan cuma figur yg duduk bersila di atas tikar pandan, melainkan simbol penggali. Mereka yg berani menggali bukan cuma tanah, tetapi juga lapisan-lapisan makna yg sudah lama mengeras jadi dogma. Kiai, dalam pengertian paling liar, adalah orang yg berani menyodok perut tamposisi dengan korek api.

Namun, mengatakan & makna tidak pernah berjalan lurus. Kolonialisme, dengan cara halus yg sering kita abaikan, mungkin sudah mengubah kiai jadi figur yg lebih jinak. Dari penggali jadi penjaga, dari pengganggu jadi penenang. Ia tetap dihormati, tetapi hormat itu, entah mengapa, terasa diam & dharap. Di pentas sejarah, kiai berdiri tegak, tetapi bayangannya terikat ke tanah.

Tamposisi, dengan segala absurditasnya, mungkin adalah cara nenek moyang Bugis mengingatkan bahwa hidup sering berisiko ditelan sesuatu yg lebih besar. Sesuatu yg panjang, dharap, & tak terlihat, tetapi sering ada, mengintai dari bawah tanah atau tepi sungai. Dan seperti manusia yg hidup di dalam perut ular itu, kita pun kadang terlalu betah dengan kegelapan yg akrab. Kita membangun teori, menulis sejarah, bahkan menghafal doa, sambil lupa bahwa kita sedang berdiri di ruang transit yg tidak pernah dimaksudkan sebagai rumah.

Maka, berbicara tentang kiai & ulama bukan cuma soal menghormati masa lalu, tetapi juga soal membaca ulang kata-kata yg sudah terlalu lama dibiarkan diam. Dalam bahasa, sering ada ruang untuk penggalian ulang, untuk menemukan kembali makna yg mungkin sengaja disembunyikan. Dalam sejarah, sering ada peluang untuk menyalakan korek, meski kecil, meski remeh, meski sering dipadamkan angin sebelum sempat benar-benar menyala.

Dan barangkali, itulah tugas paling sunyi dari mereka yg disebut kiai di Jawa, di Bugis, di mana saja. Bukan sekadar mengulang-ulang petuah, bukan sekadar menjaga ritme ibadah, tetapi menggali lubang baru di tanah yg tampak keras, mencari jalur keluar yg mungkin sudah lama tertutup.

Kata-kata, pada akhirnya, hanyalah ular naga raksasa kita yg lain. Ia dapat menelan, menyimpan, bahkan mengurung kita. Tetapi seperti dalam mitologi itu, sering ada cara keluar. Kadang cuma butuh korek api kecil, cukup untuk memberi cahaya sekejap, cukup untuk menciptakan kita sadar bahwa di luar perut ular ini, ada dunia yg lebih luas, lebih terang, & lebih jujur.

Dan mungkin, ketika kita akhirnya keluar, kita akan menemukan bahwa mengatakan kiai tidak pernah benar-benar hilang. Ia cuma menunggu digali ulang, dibersihkan dari debu sejarah, lalu dikembalikan ke tangan orang-orang yg tahu bahwa menggali bukan cuma tindakan, tetapi juga keberanian untuk hidup di luar perut ular naga.​
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.