• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Khalifah Berubah Ingatan?

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. cimohai
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

cimohai

IndoForum Junior A
No. Urut
51307
Sejak
27 Agt 2008
Pesan
3.428
Nilai reaksi
144
Poin
63
Bismillah hirohman nirohim... maaf kalau repost...

Memang betul, Khalifah Umar bin Khaththab telah berubah ingatan. Banyak yang melihatnya dengan mata kepala sendiri.
Barangkali karena Umar di masa mudanya sarat dengan dosa, seperti merampok, mabuk-mabukkan, malah suka mengamuk
tanpa berperi kemanusiaan, sampai orang tidak bersalah banyak yang menjadi korban. Itulah yang mungkin telah menyiksa
batinnya sehingga iaditimpa penyakit jiwa.

Dulu Umar sering menangis sendirian sesudah selesai menunaikan salat. Dan tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak, juga sendirian.
Tidak ada orang lain yang membuatnya tertawa. Bukankah hal itu merupakan isyarat yang jelas bahwa
Umar bin Kaththab sudah gila?

Abdurrahman bin Auf, sebagai salah seorang sahabat Umar yang paling akrab,merasa tersinggung dan sangat murung
mendengar tuduhan itu. Apalagi, hampir semua rakyat Madinah telah sepakat menganggap Umar betul-betul sinting.
Dan, sudah tentu, orang sinting tidak layak lagi memimpin umat atau negara.

Yang lebih mengejutkan rakyat, pada waktu melakukan salat Jum'at yang lalu, ketika sedang berada di mimbar untuk
membacakan khotbahnya, sekonyong-konyong Umar berseru, "Hai sariah, hai tentaraku. Bukit itu, bukit itu, bukit itu!"
Jemaah pun geger. Sebab ucapan tersebut sama sekali tidak ada kaitannya dengan isi khotbah yang disampaikan.
"Wah, khalifah kita benar-benar sudah gila," gumam rakyat Madinah yang menjadi makmum salat Jumat hari itu.

Tetapi Abdurrahman tidak mau bertindak gegabah, ia harus tahu betul, apa sebabnya Umar berbuat begitu.
Maka didatanginya Umar, dan ditanyainya,"Wahai Amirul Mukminin. Mengapa engkau berseru-seru di sela-sela khotbah engkau
seraya pandangan engkau menatap kejauhan?"

Umar dengan tenang menjelaskan, "Begini, sahabatku. Beberapa pekan yang lewat aku mengirimkan Suriah, pasukan tentara
yang tidak kupimpin langsung, untuk membasmi kaum pengacau. Tatkala aku sedang berkhotbah, kulihat pasukan itu dikepung
musuh dari segala penjuru. Kulihat pula satu-satunya benteng untuk mempertahankan diri adalah sebuah bukit dibelakang mereka.
Maka aku berseru: bukit itu,bukit itu, bukit itu!"

Setengah tidak percaya, Abdurrahman megerutkan kening. "Lalu, mengapa engkau dulu sering menangis dan tertawa
sendirian selesai melaksanakan salat fardhu?" tanya Abdurrahman pula.
Umar menjawab, "Aku menangis kalau teringat kebiadabanku sebelum Islam. Aku pernah menguburkan anak perempuanku
hidup-hidup. Dan aku tertawa jika teringat akan kebodohanku. Kubikin patung dari tepung gandum, dan kusembah-sembah seperti Tuhan."

Abdurrahman lantas mengundurkan diri dari hadapan Khalifah Umar. Ia belum bisa menilai, sejauh mana kebenaran ucapan Umar tadi.
Ataukah hal itu justru lebih membuktikan ketidakwarasannya sehingga jawabannya pun kacau balau? Masak ia dapat melihat
pasukannya yang terpisah amat jauh dari masjid tempatnya berkhotbah?

Akhirnya, bukti itupun datang tanpa dimintanya. Yaitu manakala sariah yang kirimkan Umar tersebut telah kembali ke Madinah.
Wajah mereka berbinar-binar meskipun nyata sekali tanda-tanda kelelahan dan bekas-bekas luka yang diderita mereka.
Mereka datang membawa kemenangan.

Pada hari berikutnya, komandan pasukan itu, bercerita kepada masyarakat Madinah tentang dasyatnya peperangan
yang dialami mereka.
"Kami dikepung oleh tentara musuh, tanpa harapan akan dapat meloloskan diri dengan selamat. Lawan secara beringas
menghantam kami dari berbagai jurusan. Kami sudah luluh lantak. Kekuatan kami nyaris terkuras habis. Sampai tibalah
saat salat Jumat yang seharusnya kami kerjakan. Persis kala itu, kami mendengar sebuah seruan gaib yang tajam dan tegas:
"Bukit itu, bukit itu, bukit itu!" Tiga kali seruan tersebut diulang-diulang sehingga kami tahu maksudnya. Serta-merta kami pun
mundur ke lereng bukit. Dan kami jadikan bukit itu sebagai pelindung di bagian belakang. Dengan demikian kami dapat
menghadapi serangan tentara lawan dari satu arah, yakni dari depan. Itulah awal kejayaan kami."

Abdurrahman mengangguk-anggukkan kepala dengan takjub. Begitu pula masyarakat yang tadinya menuduh Umar telah berubah ingatan.

Abdurrahman kemudian berkata, "Biarlah Umar dengan kelakuannya yang terkadang menyalahi adat.
Sebab ia dapat melihat sesuatu yang indera kita tidak mampu melacaknya"
Dari buku Kisah Teladan - K.H. Abdurrahman Arroisi

Wallahualam, Segala puji dipanjatkan hanya kepada Allah SWT

Semoga bermanfaat...
 
Allah memberi kapada hambanya yg dipilihnya
 
Itulah ma'unah dari Allah SWT bagi umat yang dipilihnya. /ok

Semoga menjadi renungan bagi kita semua. Aamin. /no1
 
Assalammualaikum......

maap kang Cimohai....saya kurang paham tentang nilai moral nya yg terkandung dalam cerita tsb............mungkin yg lain dapat menjelaskan....

Wassalammualaikum
 
assalammualaikum,

mungkin akhi pernah baca thread akhi arcala tentang pembahasan logika.

manusia memiliki 2 macam logika, yaitu logika normal dan logika terbalik (sinting).
kalo logika normal ya seperti orang orang pada umumnya..tapi kalo logika terbalik, adalah logika di mana orang melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.

maksudnya, apa yang di anggap oleh orang normal pada umumnya adalah sebuah kegilaan, tetapi menurut penganut logika terbalik hal ini adalah lumrah.

hubungannya dengan tulisan akhi cimohai di atas adalah bahwa kadang kadang tuhan menganugerahkan karunia-Nya kepada manusia (yang dipilih-Nya) berupa hal - hal yang tidak lazim. dalam kasus kalifallah Umar ibn' khattab di atas Allah memberikannya sebuah keistimewaan dalam merasakan kedekatannya dengan sang khalik, berupa penglihatan yang hanya ia sendiri yang bisa merasakannya.
disini khalifallah Umar ibn khattab, bertingkah seperti orang gila dalam pandangan manusia, namun sesungguhnya ia adalah orang yang paling dekat dekat dengan Allah Swt. ia bisa menangis mengenang masa lalu kelamnya yang kelam dan tiba tiba tertawa ketika ia menyadari kebodohannya tersebut.

mudah2an bisa di mengerti

wassalam.
 
gw udah baca kisah nya d buku Kisah 25 Rasul n sahabat2 .....
tapi,
nice thread /no1
buat gw nginget2 kisah nya kembali /ok
 
@mod blitz : amin kang...

Assalammualaikum......

maap kang Cimohai....saya kurang paham tentang nilai moral nya yg terkandung dalam cerita tsb............mungkin yg lain dapat menjelaskan....

Wassalammualaikum

Wa'alaikum salam wr wb...

telah diperjelas diatas oleh kang ababil, nuhun kang ababil... :)

@avengead : alhamdulillah, semoga bermanfaat, amin..
 
assalammualaikum,

mungkin akhi pernah baca thread akhi arcala tentang pembahasan logika.

manusia memiliki 2 macam logika, yaitu logika normal dan logika terbalik (sinting).
kalo logika normal ya seperti orang orang pada umumnya..tapi kalo logika terbalik, adalah logika di mana orang melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.

maksudnya, apa yang di anggap oleh orang normal pada umumnya adalah sebuah kegilaan, tetapi menurut penganut logika terbalik hal ini adalah lumrah.

hubungannya dengan tulisan akhi cimohai di atas adalah bahwa kadang kadang tuhan menganugerahkan karunia-Nya kepada manusia (yang dipilih-Nya) berupa hal - hal yang tidak lazim. dalam kasus kalifallah Umar ibn' khattab di atas Allah memberikannya sebuah keistimewaan dalam merasakan kedekatannya dengan sang khalik, berupa penglihatan yang hanya ia sendiri yang bisa merasakannya.
disini khalifallah Umar ibn khattab, bertingkah seperti orang gila dalam pandangan manusia, namun sesungguhnya ia adalah orang yang paling dekat dekat dengan Allah Swt. ia bisa menangis mengenang masa lalu kelamnya yang kelam dan tiba tiba tertawa ketika ia menyadari kebodohannya tersebut.

mudah2an bisa di mengerti

wassalam.

terima kasih sudah mewakili:D
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.