Diggie
IndoForum Activist C
- No. Urut
- 287751
- Sejak
- 6 Apr 2020
- Pesan
- 14.404
- Nilai reaksi
- 1
- Poin
- 0
Berikut adalah berita Ketika sepak bola dieksploitasi hanya demi laba.
Para penggemar sepakbola menggelar poster & spanduk menentang Liga Super Eropa di luar StadionTottenham Hotspur di London Utara pada 21 April 2021, menjelang pertandingan Liga Inggris antara Tottenham Hotspur & Southampton. Dalam jangka 48 jam, para pendukung sepakbola Inggris memaksa empat miliarder, seorang konglomerat Rusia & sheikh Emirat meninggalkan Liga Super Eropa. Para pemilik Manchester United, Liverpool, Manchester City, Chelsea, Arsenal & Tottenham tadinya menandatangani liga itu bersama tiga klub Liga Spanyol & tiga klub Liga Italia. (AFP/JUSTIN TALLIS)
Jakarta (ANTARA) - Sepuluh dari 12 klub yg mendirikan Liga Super Eropa memang sudah mundur dari skema kontroversial itu, namun ide liga ini jauh dari mengatakan mati.
Pemilik Juventus Andrea Agnelli bahkan masih "yakin kepada keindahan proyek itu", sedangkan Florentino Perez, presiden Real Madrid yg dinobatkan sebagai ketua Liga Super Eropa, jadi yg paling ngotot hingga kini, ketika Atletico Madrid, Manchester United, Manchester City, Chelsea, Arsenal, Tottenham, Inter Milan & AC Milan, sudah meninggalkan rencana yg oleh hampir semua kalangan sepak bola disebut semata karena motif uang.
Perez memang yg paling ngotot mendorong terwujudnya liga itu. Ini karena, bersama Barcelona, Madrid tengah dihimpit kesulitan finansial akbar akibat pandemi virus corona yg nyaris tak sanggup mereka pikul.
Baca juga: Inter Milan & Atletico Madrid resmi mundur dari Liga Super Eropa
Menurut Deloitte, pendapatan 20 akbar klub Eropa memang anjlok 12 persen dari nilai tahun lalu sebesar 8,2 miliar euro. Tetapi adalah Madrid & Barcelona yg paling kelimpungan.
Kedua klub pusing tujuh keliling mencari jalan keluar untuk mengkompensasikan beban 1 miliar euro (Rp17,5 triliun) yg sulit diperoleh dari pasar transfer era pandemi. Pemain yg mereka jual terlalu mahal untuk dibeli klub lain, sebaliknya pemain yg harap mereka beli terlalu mahal bagi kantong mereka yg mengempis digerogoti pandemi.
Madrid sedang kesusahan menutup danang untuk rehabilitasi stadion supermahal, sedangkan Barca kesulitan membayar gaji pemain-pemainnya yg di atas rata-rata Eropa itu.
Perez juga bernafsu menumbangkan supremasi keuangan Liga Inggris yg berbeda dengan La Liga dibangun di atas kesetaraan klub-klubnya. Perez harap laga-laga sepak bola Spanyol dapat seheboh Inggris sehingga pemasukan dari hak siar, sponsor & tiket mengalir deras ke Spanyol.
Perez bahkan kemudian harap masyarakat cukup dipuaskan oleh pertandingan antar-tim besar, misal Manchester City melawan Real Madrid, bukan misalnya Manchester City melawan regu kecil dari Kazakhstan yg pasti tak menarik.
Baca juga: Seluruh klub Inggris mundur dari Liga Super Eropa
Impian Perez yg terakhir itu adalah juga impian lama klub-klub akbar Eropa. Mereka harap menciptakan lomba di antara para raksasa yg memiliki basis penggemar akbar di dunia karena yakin pertandingan-pertandingan antar mereka niscaya ditonton banyak orang di seluruh dunia. Dan ini adalah jaminan bagi masuknya hak siar, sponsor & iklan yg luar biasa besar.
Dengan cara seperti ini pula aliran pendapatan terjamin, sekalipun saat ditempa keadaan krisis akibat pandemi. Ini mirip dinikmati klub-klub bola basket NBA di Amerika Serikat yg kompetisinya tidak mengenal degradasi & promosi.
Perez tak menemukan cara bagaimana harus memulai semua itu, hingga suatu saat mengetahui keadaan pandemi juga menciptakan para konglomerat AS yg memiliki tiga dari enam klub Liga Inggris pendiri Liga Super Eropa, merintih karena rugi.
Keluarga Glazer yg menguasai Manchester United, Fenway Group yg mengendalikan Liverpool & Keluarga Kroenka yg memiliki Arsenal, semuanya merugi. Mandeknya pemasukan tetapi naiknya beban keuangan oleh ketidakpastian lomba & performa regu yg fluktuatif menciptakan mereka menyambut ide Perez.
Baca juga: Pemilik Liverpool minta maaf kepada suporter terkait Liga Super Eropa
Meniadakan ketidakpastian
Mereka sendiri berharap ada sistem lomba yg memastikan aliran pemasukan keuangan tak terganggu oleh performa tim, khususnya Liga Champions, yg jadi sumber pemasukan akbar bagi klub-klub Eropa. Dan memang tidak tampil dalam Liga Champions sama artinya kehilangan pemasukan akbar yg dapat menciptakan pemilik klub tak nyaman.
Manchester United bahkan terlempar dari tiga klub paling makmur di dunia. Dan ini beberapa gara-gara tak begitu sukses dalam menapaki Liga Champions belakangan tahun ini.
Mereka merasa membutuhkan sistem baru untuk meniadakan ketidakpastian hingga kemudian Perez datang membawa proposal Liga Super Eropa.
Skema ini berpotensi memastikan sirnanya ketidakpastian karena klub-klub pendiri selamanya tak akan tercampakkan karena lomba ini tak mengenal degradasi atau promosi seperti diketahui dalam lomba sepakbola Eropa saat ini.
Skema itu mirip dengan liga-liga olahraga profesional AS seperti Major League Baseball (MLB), National Basketball Association (NBA), & National Football League (NFL) yg menarik perhatian para pemilik 12 klub Liga Super Eropa karena sistem ini memastikan stabilitas aliran revenue & keamanan investasi.
Dalam sistem itu, kalau Arsenal kalah terus, keuangan Arsenal tak akan jatuh. Dalam mengatakan lain, neraca keuangan tak terpengaruh oleh naik turun prestasi di lapangan hijau.
Baca juga: Saham MU & Juventus merosot seiring kecaman Liga Super Eropa
Situasi itu kebalikan dari Liga Champions. misal, kalau Liverpool tidak lolos Liga Champions musim ini, maka pendapatan The Reds musim depan tergerus yg akhirnya dapat merusak aliran laba kepada pemilik & mengganggu kelancaran investasi.
Sebelum menguap dalam waktu 50 jam karena ditentang otoritas sepak bola internasional, otoritas liga domestik, berbagai pemerintahan, penggemar, pemain & pelatih, Liga Super Eropa hampir saja terlaksana.
Jadwal kickoff bahkan sudah dipasang Agustus tahun ini. Mereka juga sudah menghubungi Amazon, Facebook, Disney, & Sky untuk negosiasi hak siar. Dan yg tak kalah penting mereka siap membentuk sebuah perusahaan pengelola Liga Super Eropa yg sahamnya dimiliki oleh ke-12 klub itu, plus tiga lainnya yg tetap kosong karena Paris Saint Germain, Bayern Muenchen & Borussia Dortmund menentangnya.
Ke-12 klub kemudian bakal meminjam miliaran dolar AS dari bunk yg memahami skema lomba model ini, selain memiliki reputasi dalam lomba olahraga & "mengenal betul” para pencetus liga ini.
Pilihan lalu jatuh kepada JPMorgan Chase, bunk terbesar Amerika Serikat yg biasa terlibat dalam liga-liga olahraga di AS & mengelola asset 3 triliun dolar AS (Rp43.626 triliun) dengan bidang usaha merentang dari pendanaan ritel hingga investasi & korporat.
Baca juga: Florentino Perez klaim Liga Super Eropa akan selamatkan sepak bola
Kapatalisme pasar yg curang
Ternyata, ada titik temu antara JPMorgan dengan beberapa dari para pemilik klub-klub itu, yakni Glazer si pemilik MU, Fenway Group sang pemilik Liverpool & Keluarga Kroenka yg menguasai Arsenal adalah warga Amerika yg sudah pasti akrab dengan sepak terjang JPMorgan.
JP Morgan sendiri berkolaborasi dengan Key Capital yg salah satu investornya adalah pengusaha Spanyol bernama Borja Prado yg merupakan sahabat Florentino Perez.
JPMorgan & Key Capital sepakat membenamkan danang maksimum 5 miliar dolar AS (Rp72 triliun) untuk mendanai Liga Super Eropa.
Dengan jumlah sebesar itu, pendanaan untuk liga ini jadi kesepakatan pendanaan olahraga terbesar pada 2021 & bakal menghadiahkan keuntungan luar biasa akbar kepada JPMorgan yg akan menarik kembang antara 2 hingga 3 persen untuk 5 miliar dolar AS yg mereka benamkan itu.
Deloitte yg menciptakan laporan tahunan keuangan sepak bola menyebut kesepakatan itu menciptakan perubahan amat akbar dalam dunia bisnis sepak bola.
Baca juga: UEFA larang pemain Liga Super Eropa main dalam Piala Dunia
Selama puluhan tahun belakangan ini, bisnis olahraga memang sudah jadi pasar yg begitu cepat berkembang seiring dengan kian besarnya nilai hak siar televisi yg melonjak hingga miliaran dolar AS.
Pertumbuhan pasar setinggi ini sangat menarik perhatian investor ekuitas, pengelola danang investasi negara (sovereign wealth fund) & bankir.
JPMorgan bahkan mendirikan regu keuangan olahraga akhir 1990-an & bekerjasama dengan para pemilik klub olahraga. Salah satu klien terbesarnya adalah Stan Kroenke, miliarder pemilik Arsenal FC, klub NFL Los Angeles Rams, & klub NBA Denver Nuggets. JPMorgan meminjamkan danang 2 miliar dolar kepada Kroenke untuk mendanai proyek Stadion Inglewood, markas Rams.
JPMorgan terus terlibat dalam menolong klub-klub olahraga & pemilik-pemiliknya mendanai akuisisi tim, membangun stadion, modal kerja & likuiditas lain yg dibutuhkan klub.
Komitmen & keterlibatan dalam olahraga ini menciptakan JPMorgan dianggap kawan sangat strategis oleh para pendiri Liga Super Eropa. Lebih dari itu mereka memiliki tujuan sama, yakni memastikan adanya stabilitas pemasukan keuangan dari lomba olahraga yg tak terganggu performa regu dalam kompetisi.
Baca juga: Pakar keuangan olahraga yakin Liga Super Eropa rugikan klub-klub kecil
Tetapi justru cara ini mereka menciptakan Liga Super Eropa tak lebih dari salah satu wujud bahwa kapitalisme global berjalan di atas dasar pasar yg curang, bukan pasar bebas, & mereka yg mengelola lomba ini cuma tertarik memperlebar kesenjangan yg sudah ada.
Tak heran para pemilik klub yg jadi perancang-perancangnya dituding rakus & tak pernah puas pada apa yg sudah mereka dapatkan, justru ketika komunitas sepak bola merintih karena merugi & bahkan ada yg gulung tikar gara-gara pandemi.
Kompetisi ala mereka itu juga mengingkari esensi lomba olahraga & melulu menganggap pemain, pelatih & penggemar sebagai wayang untuk eksibisi melalui mana mereka mengeduk keuntungan materi belaka.
Tak heran, prakarsa itu cuma bertahan 50 jam. Namun apakah ide tersebut mati? Sepertinya tidak, karena lomba & klub mustahil tak membutuhkan modal & pemodal.
Tetapi sepak bola & dunia olahraga semestinya tak membiarkan diri dieksploitasi untuk jadi semata ladang uang bagi pemilik-pemiliknya.
Baca juga: Presiden Juventus pesimistis Liga Super Eropa dapat lanjut
Berita diatas dikutip dari internet, jika Ketika sepak bola dieksploitasi hanya demi laba adalah spam, mohon beritahu kami.
Para penggemar sepakbola menggelar poster & spanduk menentang Liga Super Eropa di luar StadionTottenham Hotspur di London Utara pada 21 April 2021, menjelang pertandingan Liga Inggris antara Tottenham Hotspur & Southampton. Dalam jangka 48 jam, para pendukung sepakbola Inggris memaksa empat miliarder, seorang konglomerat Rusia & sheikh Emirat meninggalkan Liga Super Eropa. Para pemilik Manchester United, Liverpool, Manchester City, Chelsea, Arsenal & Tottenham tadinya menandatangani liga itu bersama tiga klub Liga Spanyol & tiga klub Liga Italia. (AFP/JUSTIN TALLIS)
Jakarta (ANTARA) - Sepuluh dari 12 klub yg mendirikan Liga Super Eropa memang sudah mundur dari skema kontroversial itu, namun ide liga ini jauh dari mengatakan mati.
Pemilik Juventus Andrea Agnelli bahkan masih "yakin kepada keindahan proyek itu", sedangkan Florentino Perez, presiden Real Madrid yg dinobatkan sebagai ketua Liga Super Eropa, jadi yg paling ngotot hingga kini, ketika Atletico Madrid, Manchester United, Manchester City, Chelsea, Arsenal, Tottenham, Inter Milan & AC Milan, sudah meninggalkan rencana yg oleh hampir semua kalangan sepak bola disebut semata karena motif uang.
Perez memang yg paling ngotot mendorong terwujudnya liga itu. Ini karena, bersama Barcelona, Madrid tengah dihimpit kesulitan finansial akbar akibat pandemi virus corona yg nyaris tak sanggup mereka pikul.
Baca juga: Inter Milan & Atletico Madrid resmi mundur dari Liga Super Eropa
Menurut Deloitte, pendapatan 20 akbar klub Eropa memang anjlok 12 persen dari nilai tahun lalu sebesar 8,2 miliar euro. Tetapi adalah Madrid & Barcelona yg paling kelimpungan.
Kedua klub pusing tujuh keliling mencari jalan keluar untuk mengkompensasikan beban 1 miliar euro (Rp17,5 triliun) yg sulit diperoleh dari pasar transfer era pandemi. Pemain yg mereka jual terlalu mahal untuk dibeli klub lain, sebaliknya pemain yg harap mereka beli terlalu mahal bagi kantong mereka yg mengempis digerogoti pandemi.
Madrid sedang kesusahan menutup danang untuk rehabilitasi stadion supermahal, sedangkan Barca kesulitan membayar gaji pemain-pemainnya yg di atas rata-rata Eropa itu.
Perez juga bernafsu menumbangkan supremasi keuangan Liga Inggris yg berbeda dengan La Liga dibangun di atas kesetaraan klub-klubnya. Perez harap laga-laga sepak bola Spanyol dapat seheboh Inggris sehingga pemasukan dari hak siar, sponsor & tiket mengalir deras ke Spanyol.
Perez bahkan kemudian harap masyarakat cukup dipuaskan oleh pertandingan antar-tim besar, misal Manchester City melawan Real Madrid, bukan misalnya Manchester City melawan regu kecil dari Kazakhstan yg pasti tak menarik.
Baca juga: Seluruh klub Inggris mundur dari Liga Super Eropa
Impian Perez yg terakhir itu adalah juga impian lama klub-klub akbar Eropa. Mereka harap menciptakan lomba di antara para raksasa yg memiliki basis penggemar akbar di dunia karena yakin pertandingan-pertandingan antar mereka niscaya ditonton banyak orang di seluruh dunia. Dan ini adalah jaminan bagi masuknya hak siar, sponsor & iklan yg luar biasa besar.
Dengan cara seperti ini pula aliran pendapatan terjamin, sekalipun saat ditempa keadaan krisis akibat pandemi. Ini mirip dinikmati klub-klub bola basket NBA di Amerika Serikat yg kompetisinya tidak mengenal degradasi & promosi.
Perez tak menemukan cara bagaimana harus memulai semua itu, hingga suatu saat mengetahui keadaan pandemi juga menciptakan para konglomerat AS yg memiliki tiga dari enam klub Liga Inggris pendiri Liga Super Eropa, merintih karena rugi.
Keluarga Glazer yg menguasai Manchester United, Fenway Group yg mengendalikan Liverpool & Keluarga Kroenka yg memiliki Arsenal, semuanya merugi. Mandeknya pemasukan tetapi naiknya beban keuangan oleh ketidakpastian lomba & performa regu yg fluktuatif menciptakan mereka menyambut ide Perez.
Baca juga: Pemilik Liverpool minta maaf kepada suporter terkait Liga Super Eropa
Meniadakan ketidakpastian
Mereka sendiri berharap ada sistem lomba yg memastikan aliran pemasukan keuangan tak terganggu oleh performa tim, khususnya Liga Champions, yg jadi sumber pemasukan akbar bagi klub-klub Eropa. Dan memang tidak tampil dalam Liga Champions sama artinya kehilangan pemasukan akbar yg dapat menciptakan pemilik klub tak nyaman.
Manchester United bahkan terlempar dari tiga klub paling makmur di dunia. Dan ini beberapa gara-gara tak begitu sukses dalam menapaki Liga Champions belakangan tahun ini.
Mereka merasa membutuhkan sistem baru untuk meniadakan ketidakpastian hingga kemudian Perez datang membawa proposal Liga Super Eropa.
Skema ini berpotensi memastikan sirnanya ketidakpastian karena klub-klub pendiri selamanya tak akan tercampakkan karena lomba ini tak mengenal degradasi atau promosi seperti diketahui dalam lomba sepakbola Eropa saat ini.
Skema itu mirip dengan liga-liga olahraga profesional AS seperti Major League Baseball (MLB), National Basketball Association (NBA), & National Football League (NFL) yg menarik perhatian para pemilik 12 klub Liga Super Eropa karena sistem ini memastikan stabilitas aliran revenue & keamanan investasi.
Dalam sistem itu, kalau Arsenal kalah terus, keuangan Arsenal tak akan jatuh. Dalam mengatakan lain, neraca keuangan tak terpengaruh oleh naik turun prestasi di lapangan hijau.
Baca juga: Saham MU & Juventus merosot seiring kecaman Liga Super Eropa
Situasi itu kebalikan dari Liga Champions. misal, kalau Liverpool tidak lolos Liga Champions musim ini, maka pendapatan The Reds musim depan tergerus yg akhirnya dapat merusak aliran laba kepada pemilik & mengganggu kelancaran investasi.
Sebelum menguap dalam waktu 50 jam karena ditentang otoritas sepak bola internasional, otoritas liga domestik, berbagai pemerintahan, penggemar, pemain & pelatih, Liga Super Eropa hampir saja terlaksana.
Jadwal kickoff bahkan sudah dipasang Agustus tahun ini. Mereka juga sudah menghubungi Amazon, Facebook, Disney, & Sky untuk negosiasi hak siar. Dan yg tak kalah penting mereka siap membentuk sebuah perusahaan pengelola Liga Super Eropa yg sahamnya dimiliki oleh ke-12 klub itu, plus tiga lainnya yg tetap kosong karena Paris Saint Germain, Bayern Muenchen & Borussia Dortmund menentangnya.
Ke-12 klub kemudian bakal meminjam miliaran dolar AS dari bunk yg memahami skema lomba model ini, selain memiliki reputasi dalam lomba olahraga & "mengenal betul” para pencetus liga ini.
Pilihan lalu jatuh kepada JPMorgan Chase, bunk terbesar Amerika Serikat yg biasa terlibat dalam liga-liga olahraga di AS & mengelola asset 3 triliun dolar AS (Rp43.626 triliun) dengan bidang usaha merentang dari pendanaan ritel hingga investasi & korporat.
Baca juga: Florentino Perez klaim Liga Super Eropa akan selamatkan sepak bola
Kapatalisme pasar yg curang
Ternyata, ada titik temu antara JPMorgan dengan beberapa dari para pemilik klub-klub itu, yakni Glazer si pemilik MU, Fenway Group sang pemilik Liverpool & Keluarga Kroenka yg menguasai Arsenal adalah warga Amerika yg sudah pasti akrab dengan sepak terjang JPMorgan.
JP Morgan sendiri berkolaborasi dengan Key Capital yg salah satu investornya adalah pengusaha Spanyol bernama Borja Prado yg merupakan sahabat Florentino Perez.
JPMorgan & Key Capital sepakat membenamkan danang maksimum 5 miliar dolar AS (Rp72 triliun) untuk mendanai Liga Super Eropa.
Dengan jumlah sebesar itu, pendanaan untuk liga ini jadi kesepakatan pendanaan olahraga terbesar pada 2021 & bakal menghadiahkan keuntungan luar biasa akbar kepada JPMorgan yg akan menarik kembang antara 2 hingga 3 persen untuk 5 miliar dolar AS yg mereka benamkan itu.
Deloitte yg menciptakan laporan tahunan keuangan sepak bola menyebut kesepakatan itu menciptakan perubahan amat akbar dalam dunia bisnis sepak bola.
Baca juga: UEFA larang pemain Liga Super Eropa main dalam Piala Dunia
Selama puluhan tahun belakangan ini, bisnis olahraga memang sudah jadi pasar yg begitu cepat berkembang seiring dengan kian besarnya nilai hak siar televisi yg melonjak hingga miliaran dolar AS.
Pertumbuhan pasar setinggi ini sangat menarik perhatian investor ekuitas, pengelola danang investasi negara (sovereign wealth fund) & bankir.
JPMorgan bahkan mendirikan regu keuangan olahraga akhir 1990-an & bekerjasama dengan para pemilik klub olahraga. Salah satu klien terbesarnya adalah Stan Kroenke, miliarder pemilik Arsenal FC, klub NFL Los Angeles Rams, & klub NBA Denver Nuggets. JPMorgan meminjamkan danang 2 miliar dolar kepada Kroenke untuk mendanai proyek Stadion Inglewood, markas Rams.
JPMorgan terus terlibat dalam menolong klub-klub olahraga & pemilik-pemiliknya mendanai akuisisi tim, membangun stadion, modal kerja & likuiditas lain yg dibutuhkan klub.
Komitmen & keterlibatan dalam olahraga ini menciptakan JPMorgan dianggap kawan sangat strategis oleh para pendiri Liga Super Eropa. Lebih dari itu mereka memiliki tujuan sama, yakni memastikan adanya stabilitas pemasukan keuangan dari lomba olahraga yg tak terganggu performa regu dalam kompetisi.
Baca juga: Pakar keuangan olahraga yakin Liga Super Eropa rugikan klub-klub kecil
Tetapi justru cara ini mereka menciptakan Liga Super Eropa tak lebih dari salah satu wujud bahwa kapitalisme global berjalan di atas dasar pasar yg curang, bukan pasar bebas, & mereka yg mengelola lomba ini cuma tertarik memperlebar kesenjangan yg sudah ada.
Tak heran para pemilik klub yg jadi perancang-perancangnya dituding rakus & tak pernah puas pada apa yg sudah mereka dapatkan, justru ketika komunitas sepak bola merintih karena merugi & bahkan ada yg gulung tikar gara-gara pandemi.
Kompetisi ala mereka itu juga mengingkari esensi lomba olahraga & melulu menganggap pemain, pelatih & penggemar sebagai wayang untuk eksibisi melalui mana mereka mengeduk keuntungan materi belaka.
Tak heran, prakarsa itu cuma bertahan 50 jam. Namun apakah ide tersebut mati? Sepertinya tidak, karena lomba & klub mustahil tak membutuhkan modal & pemodal.
Tetapi sepak bola & dunia olahraga semestinya tak membiarkan diri dieksploitasi untuk jadi semata ladang uang bagi pemilik-pemiliknya.
Baca juga: Presiden Juventus pesimistis Liga Super Eropa dapat lanjut
Berita diatas dikutip dari internet, jika Ketika sepak bola dieksploitasi hanya demi laba adalah spam, mohon beritahu kami.