roughtorer
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 44416
- Sejak
- 24 Mei 2008
- Pesan
- 6.755
- Nilai reaksi
- 175
- Poin
- 63
Acara Empat Mata sendiri sudah bertahan sekitar dua tahun. Saya teringat kala dulu awal-awal sempat juga terimbas demam Empat Mata. Waktu itu Empat Mata seperti membongkar kebosanan pemirsa dengan berbeda dari acara-acara talkshow yang penyajinya pakar yang tampak intelek atau seleb yang serba ganteng dan cantik. Muncul dengan pakem yang berbeda, Tukul Arowana, yang mempopulerkan trade mark "kembali ke laptop", menampilkan diri sebagai sosok yang disebutnya dengan istilah katrok dan ndeso (istilah katrok ini juga jadi laris di masyarakat).
Penampilan Tukul yang sering salah mengucap dan mengeja istilah tertentu, kadang keminter tapi kadang tampak polos, kadang kebingungan dengan laptopnya sendiri, kadang sok pekewuh atau tersipu-sipu, justru menjadi nilai jualnya yang membikin segar suasana. Kabarnya, orang Indonesia yang berada di luar negeri juga suka menonton acara ini, entah bagaimana caranya. Jargon lain yang juga dipopulerkan oleh Tukul (sering dipanjangkannya sendiri sebagai singkatan turunan kuntilanak), adalah "quick thinking" dan "kristalisasi keringat". Sambaran dan guyonan yang dilontarkan secara cepat dan kadang mengena telak (mungkin menyentuh urat ketawa kita secara tepat?) oleh Tukul itulah yang disebutnya quick thinking.
Tukul yang sering guyon mengaku sebagai Reynaldi (ini artis yang mana ya? mungkin Mas Josh Chen lebih tahu?) atau Jeremy Thomas (nah, kalau yang ini artis yang laris di sinetron) dan cover boy majalah Sobek (kalau yang ini sepertinya tidak ada?), menyebutkan, biar wajah desa tapi rejeki kota. Konon dalam satu episode, Tukul Arowana bisa mendapat bayaran 20 juta. Awalnya Empat Mata hanya muncul dua kali seminggu, lalu kemudian setelah meledak dan mendapat sambutan yang hangat, menjadi lima hari seminggu, dan jam tayangnya juga diperpanjang.
Tukul Arowana dalam acara ini di "back up" oleh Peppy (nantinya juga jadi populer di banyak komedi lawak) dengan celetukan-celetukannya, yang sering "diancam" oleh Tukul dengan "Tak sobek-sobek mulutmu" (nah, yang ini cepat sekali ditiru oleh anak-anak). Pendukung lainnya juga ikut mendulang popularitas, seperti Vega yang berperan menjadi pelayan dan sering dipanggil sebagai Ngatini. Dalam perkembangannya untuk mencegah kejenuhan, pemeran lain juga dilibatkan, seperti para anggota band, dan juga para penonton, yang sering dikerjai atau balas mengerjai Tukul.
Sebenarnya sejumlah televisi swasta lain, juga berusaha memunculkan acara semacam itu, dengan menjadikan komedian sebagai pembawa acaranya. Tapi sepertinya, belum ada yang bisa menyaingi quick thinking ala Tukul sebagai figur pusat di Empat Mata, yang seolah punya "kharisma" tersendiri untuk menarik minat pemirsa. Dalam perjalanannya setelah sekian lama tayang, memang sering joke-joke yang diulang-ulang atau kadang berlebihan dalam meledek, sehingga ada pemirsa yang mulai jenuh.
Saya ingat, beberapa waktu lampau, Empat Mata pernah juga mendapat protes. Yang diprotes, adalah kebiasaan Tukul saat menerima kehadiran bintang tamu (apalagi kalau seleb cantik, he he) di acara tersebut, yaitu sun pipi kiri-kanan. Karena protes tersebut lalu ritual sun pipi tersebut tidak dilanjutkan Tukul lagi.
Berkaitan dengan penghentian Empat Mata sekarang, kurang tahu, apakah itu permanen atau hanya sementara. Meski penggemar Empat Mata tidak sebanyak dulu waktu masih booming tentu banyak juga yang kehilangan. Meski bukan lagi penggemar berat Empat Mata, kadang remote masih saya pindahkan juga ke situ, sekedar ingin tahu, siapa bintang tamu yang kali ini dihadirkan. Siapa tahu ada yang menarik atau mungkin sosok dengan latar belakang atau pengalaman hidup yang unik. Kalau tidak salah, sejumlah menteri dan tokoh politik juga pernah muncul di Empat Mata, jadi bukan hanya kalangan artis saja.
Kalau nasib Empat Mata benar jadi ditutup, bisa kehilangan juga sapaan khas Tukul Arowana waktu ngerjain penonton di studio, "Masuk tivi... masuk tivi .....", dan trade mark Tukul lainnya sambil mengacungkan dua jari ke arah mata, "Jangan kemana-mana hanya di Empat Mata."
Penampilan Tukul yang sering salah mengucap dan mengeja istilah tertentu, kadang keminter tapi kadang tampak polos, kadang kebingungan dengan laptopnya sendiri, kadang sok pekewuh atau tersipu-sipu, justru menjadi nilai jualnya yang membikin segar suasana. Kabarnya, orang Indonesia yang berada di luar negeri juga suka menonton acara ini, entah bagaimana caranya. Jargon lain yang juga dipopulerkan oleh Tukul (sering dipanjangkannya sendiri sebagai singkatan turunan kuntilanak), adalah "quick thinking" dan "kristalisasi keringat". Sambaran dan guyonan yang dilontarkan secara cepat dan kadang mengena telak (mungkin menyentuh urat ketawa kita secara tepat?) oleh Tukul itulah yang disebutnya quick thinking.
Tukul yang sering guyon mengaku sebagai Reynaldi (ini artis yang mana ya? mungkin Mas Josh Chen lebih tahu?) atau Jeremy Thomas (nah, kalau yang ini artis yang laris di sinetron) dan cover boy majalah Sobek (kalau yang ini sepertinya tidak ada?), menyebutkan, biar wajah desa tapi rejeki kota. Konon dalam satu episode, Tukul Arowana bisa mendapat bayaran 20 juta. Awalnya Empat Mata hanya muncul dua kali seminggu, lalu kemudian setelah meledak dan mendapat sambutan yang hangat, menjadi lima hari seminggu, dan jam tayangnya juga diperpanjang.
Tukul Arowana dalam acara ini di "back up" oleh Peppy (nantinya juga jadi populer di banyak komedi lawak) dengan celetukan-celetukannya, yang sering "diancam" oleh Tukul dengan "Tak sobek-sobek mulutmu" (nah, yang ini cepat sekali ditiru oleh anak-anak). Pendukung lainnya juga ikut mendulang popularitas, seperti Vega yang berperan menjadi pelayan dan sering dipanggil sebagai Ngatini. Dalam perkembangannya untuk mencegah kejenuhan, pemeran lain juga dilibatkan, seperti para anggota band, dan juga para penonton, yang sering dikerjai atau balas mengerjai Tukul.
Sebenarnya sejumlah televisi swasta lain, juga berusaha memunculkan acara semacam itu, dengan menjadikan komedian sebagai pembawa acaranya. Tapi sepertinya, belum ada yang bisa menyaingi quick thinking ala Tukul sebagai figur pusat di Empat Mata, yang seolah punya "kharisma" tersendiri untuk menarik minat pemirsa. Dalam perjalanannya setelah sekian lama tayang, memang sering joke-joke yang diulang-ulang atau kadang berlebihan dalam meledek, sehingga ada pemirsa yang mulai jenuh.
Saya ingat, beberapa waktu lampau, Empat Mata pernah juga mendapat protes. Yang diprotes, adalah kebiasaan Tukul saat menerima kehadiran bintang tamu (apalagi kalau seleb cantik, he he) di acara tersebut, yaitu sun pipi kiri-kanan. Karena protes tersebut lalu ritual sun pipi tersebut tidak dilanjutkan Tukul lagi.
Berkaitan dengan penghentian Empat Mata sekarang, kurang tahu, apakah itu permanen atau hanya sementara. Meski penggemar Empat Mata tidak sebanyak dulu waktu masih booming tentu banyak juga yang kehilangan. Meski bukan lagi penggemar berat Empat Mata, kadang remote masih saya pindahkan juga ke situ, sekedar ingin tahu, siapa bintang tamu yang kali ini dihadirkan. Siapa tahu ada yang menarik atau mungkin sosok dengan latar belakang atau pengalaman hidup yang unik. Kalau tidak salah, sejumlah menteri dan tokoh politik juga pernah muncul di Empat Mata, jadi bukan hanya kalangan artis saja.
Kalau nasib Empat Mata benar jadi ditutup, bisa kehilangan juga sapaan khas Tukul Arowana waktu ngerjain penonton di studio, "Masuk tivi... masuk tivi .....", dan trade mark Tukul lainnya sambil mengacungkan dua jari ke arah mata, "Jangan kemana-mana hanya di Empat Mata."

.. jadinya waktu itu males liat deh 

