• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Ketika Dunia Menentukan Siapa Dirimu

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Ketika Dunia Menentukan Siapa Dirimu

Carl Jung pernah menulis sebuah kalimat yg terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya adalah peringatan keras:
The world will ask you who you are, and if you dont know, the world will tell you.
Dunia akan menanyakan siapa dirimu, & kalau anda tidak tahu, dunia akan memberitahukanbahkan menentukanitu untukmu.

Jung tidak sedang berbicara tentang pencarian jati diri yg romantis atau penuh afirmasi. Ia menunjuk pada realitas yg sering dihindari: hidup tidak menunggu seseorang siap mengenal dirinya. Jika seseorang tidak berani menentukan siapa dirinya, dunia akan mengerjakannya dengan cara paling murah, paling aman, & paling menguntungkan bagi dirinya sendirikarena tidak mendefinisikan diri bukan sikap netral, melainkan menyerahkan hidup untuk ditentukan orang lain.

Kita tidak lahir di ruang kosong. Kita lahir di dalam keadaan yg sudah berjalan lebih dulu: keluarga, ekonomi, lingkungan, & tuntutan hidup. Sebelum sempat bertanya aku harap jadi siapa?, dunia sering kali sudah lebih dulu menjawab, ini yg tersedia. Seseorang yg lahir di kampung dengan sawah, misalnya, hampir pasti diarahkansecara halus atau terang-teranganuntuk menggarap sawah itu. Bukan karena itu cita-citanya, melainkan karena itulah peran yg paling masuk akal untuk bertahan.

Di titik ini, dunia mulai menentukan arah.
Masalahnya bukan pada adaptasi. Adaptasi adalah keharusan supaya hidup dapat berjalan. Yang jadi masalah adalah ketika adaptasi berubah jadi penyerahan diriketika peran sementara dianggap sebagai bukti diri seumur hidup. Ketika seseorang berhenti bertanya, berhenti membayangkan kemungkinan lain, lalu menutup semua kegelisahan dengan satu mengatakan yg terdengar bijak: nasib.

Di sinilah disparitas antara adaptasi sehat & penyerahan diri jadi jelas. Adaptasi sehat berkata, Ini yg saya lakukan sekarang supaya dapat hidup. Penyerahan diri berkata, Inilah saya, & tidak mungkin ada yg lain. Adaptasi masih membuka pintu; penyerahan diri mengecat pintu itu lalu meyakinkan diri bahwa pintu tersebut tidak pernah ada.

Jung menyebut kondisi ini sebagai dominasi personatopeng sosial yg kita pakai supaya diterima & berfungsi. Masalahnya bukan pada topeng itu sendiri, melainkan ketika seseorang lupa bahwa itu hanyalah topeng. Hidup tetap berjalan, pekerjaan tetap dilakukan, tetapi pencerahan diri perlahan mati. Yang tersisa hanyalah rutinitas tanpa arah.

Fenomena ini sangat nyata di dunia kerja. Banyak orang bertahan bukan karena tidak punya kemampuan lain, melainkan karena takut mencoba. Takut dimarahi atasan. Takut dianggap tidak loyal. Takut gagal. Bahkan takut kalau ternyata dirinya memang tidak cukup berani. Ketakutan ini kemudian disucikan dengan nama-nama yg terdengar mulia: loyalitas, syukur, tahu diri.

Padahal mencoba melamar pekerjaan lain bukan berarti resign. Datang ke interview bukan berarti berkhianat. Namun bagi banyak orang, atasan tidak lagi cuma hadir sebagai figur nyata, melainkan sebagai suara di kepala yg mengawasi & mengontrol. Ketika ketakutan sudah tinggal di dalam diri, dunia tidak perlu lagi memaksakita sudah mengerjakannya sendiri.

Di sisi lain, realita memang tidak adil. Dua orang dengan profesi yg sama, tanggung jawab yg mirip, bahkan kelelahan yg sebanding, dapat menerima bayaran yg sangat jauh berbeda. Bukan karena yg satu lebih berniat baik, tetapi karena berada di posisi yg berbeda. Yang dibayar bukan cuma kerja keras, melainkan posisi tawar.

Namun justru di sinilah kejujuran yg paling pahit berdiri telanjang: realita boleh tidak adil & masih dapat dinegosiasikan, tetapi waktu yg diserahkan pada ketakutan untuk mencoba tidak pernah kembali.

Tidak semua orang harus pindah pekerjaan. Tidak semua orang harus ambisius. Tetapi setiap orang perlu jujur pada dirinya sendiri bahwa diam juga sebuah keputusandan sering kali keputusan yg paling mahal. Banyak hidup berhenti berkembang bukan karena tidak ada jalan, melainkan karena jalan itu tidak pernah dicoba.

Pada akhirnya, Jung tidak meminta manusia jadi luar biasa. Ia cuma mengingatkan bahwa hidup tanpa pencerahan diri adalah hidup yg mudah ditentukan oleh orang lain. Dunia tidak kejam; dunia cuma bergerak. Dan siapa pun yg terlalu lama diam, akan dibawa ke mana pun arus pergi.

Tulisan ini bukan untuk menenangkan.
Tulisan ini untuk membangunkan.
Jika ia menciptakan bangun, itu pertanda masih ada energi. Dan energisekecil apa punselalu lebih baik daripada mati rasa.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.