Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Belakangan Indonesia sedang ramai tentang sekelompok orang yg bernamakan Anarko. Mereka diburu polisi karena mengerjakan vandalismeberupa kalimat provokasi di tempat umum. Tidak perlu waktu lama polisi berhasil menangkap para pelaku beserta barang buktinya. Dan entah kenapa polisi ikut menyertakan beberapa buku sebagai barang bukti yg dianggap sebagai inspirasi pelaku mengerjakan vandalisme.
Melalui tulisan vandalisme tersebut pelaku harap menciptakan kerusuhan di beberapa daerah sebagai bentuk kekecewaan kepada pemerintah. Sehingga polisi beranggapan pelaku terinspirasi dari buku-buku tersebut yg dijadikan barang bukti. Namun sepertinya polisi lupa untuk membaca isinya sehingga buku yg bertemakan self help, fiksi & bahkan sejarah ikut terbawa jadi barang bukti yg sama sekali isinya jauh dari ajakan berbuat kerusuhan.
Hal ini sangat kontradiktif dengan kampanye pemerintah untuk meningkatkan literasi di Indonesia. Jika aparat penegak hukumnya saja tidak dapat mencerna isi buku-buku tersebut. Dan kalau dilihat dari sudut pandang manapun, isi buku yg jadi barang bukti tersebut tidak mengajarkan bahkan mengajak pembacanya untuk mengerjakan kerusuhan.
Bahkan buku-buku tersebut merupakan karya seorang penulis terkenal yg namanya sudah tidak asing lagi bagi para kutu buku. Tidak mungkin seorang Mark Manson memengaruhi pelaku supaya berbuat vandalisme dengan karyanya yg berjudul: The Subtle Art of Not Giving a F*ck: A Counterintuitive Approach to Living a Good Life.
Jika polisi berpikiran buku tersebut mengubah pola pikir pelaku. Maka polisi salah, justru yg ada si pelaku bersikap bodo amat dengan pemerintah bukan memprovokasi berbuat kerusuhan. Mark Manson mungkin akan mempertanyakan hal yg sama kalau melihat karyanya jadi barang bukti.
Buku tidak cuma sebagai sumber ilmu pengetahuan. Buku juga perwujudan sebagai kebebasan berekspresi, berpendapat, & berargumen. Artinya buku yg bertemakan tentang ideologi bukan berarti sang penulis harap memprovokasi pembaca. Tetapi lebih menekankan pembaca supaya lebih dapat berpikir kritis bukan anarkis yg dikhawatirkan pak polisi.
Spoiler for buku:
Kembali lagi ke konteks buku yg sebagai perwujudan kebebasan berekspresi, berpendapat, & berargumen. Bagaimana dapat Indonesia dikatakan negara yg membebaskan warganya berekspresi kalau buku saja disita.
Untuk kasus ini entah sang pelaku yg salah memahami isi buku atau sang polisi yg enggan membaca isi buku tersebut. Jika keduanya salah. Maka tidak heran tingkat litersi Indonesia rendah di bandingkan negara tetangga.
Dalam hal ini sama sekali tidak mendukung sang pelaku mengerjakan ujaran kebencian atau mengerjakan vandalisme. Tetapi lebih ke menyadarkan polisi supaya lebih berhati-hati dalam menyita barang bukti berupa buku, apalagi isi buku tersebut tidak ada kaitannya dengan aksi pelaku. Dan jangan hingga buku dijadikan kambing hitam atas tindakan-tindakan kriminal yg terjadi di Indonesia untuk kedepannya.
Kesimpulan
Buku memang pantas di jadikan barang bukti. Barang bukti bahwa buku dapat menjadikan seseorang mempunyai wawasan yg luas & sanggup berpikir kritis. Dan orang-orang yg menjadikan buku sebagai barang bukti adalah orang-orang yg cuma membaca satu buku.
Salam damai
Quote:
orang yg berbahaya itu, orang-orang yg cuma membaca satu buku
-Jason ranti
Spoiler for source:
Sumber tulisan: Opini pribadi
Sumber gambar: Google & Twitter
Hari ini 03:06