Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Spoiler for Said Aqil:
The lamps are different, but the light is the same. Kalimat tersebut merupakan penggalan puisi karya Jalaluddin Rumi. Seorang penyair sufi yg lahir di Samarkand pada tahun 1207. Dalam puisi tersebut ia menyatakan bahwa cahaya yg memancarkan sinarnya, berasal dari semua hal, semua manusia, hingga semua kemungkinan permutasi dari kebaikan, kejahatan, pemikiran, & keharapan.
Dari pemikiran tersebut lahirlah konsep bahwa cahaya pada intinya sama, bedanya cuma pada sumber lampu-nya. Inilah yg menginspirasi penulis ketika membandingkan ormas Islam NU dengan nabi ke-26 Joseph Paul Zhang.
Seperti yg sudah penulis nyatakan di artikel sebelumnya, Paul zhang membahas banyak aspek yg mengkritisi Islam & budaya muslim. Paul Zhang yg memiliki nama asli Shindy Paul Soerjomoelyono & kini diduga tengah berada di Jerman menganggap ajaran Islam sebagai ajaran yg salah. Itulah mengapa banyak pihak yg menyebutnya sebagai penista agama.
Namun penulis tidak akan berbicara soal keyakinan diri kepada ajaran Ketuhanan. Hal yg justru menarik perhatian penulis adalah cara Paul Zhang mengkiritisi & menuding ajaran Islam sangat mirip dengan yg dilakukan PBNU kepada ajaran salafi-wahabi.
Pada 30 Maret 2021 lalu Ketum PBNU Said Aqil Siradj menyebutkan ajaran wahabi & salafi merupakan salah satu pintu masuk terorisme di Indonesia. "Kalau kita benar-benar sepakat, satu barisan harap menghadapi, menghabiskan atau menghabisi jaringan terorisme & radikalisme, benihnya dong yg harus dihadapi. Benihnya, pintu masuk yg harus kita habisin. Apa? Wahabi. Ajaran Wahabi itu pintu masuk terorisme," mengatakan Said Aqil dalam webinar bertajuk Mencegah Radikalisme & Terorisme Untuk Melahirkan Keharmonisasn Sosial.
Menurutnya ajaran wahabi maupun salafi bukan terorisme, tetapi jadi pintu masuk terorisme karena ajarannya yg dianggap ekstrem.
Sumber :Antara News [Said Aqil sebut ajaran Wahabi & Salafi pintu masuk terorisme]
Ketika Paul Zhang dikatakan mengkritisi budaya Islam & dianggap menistakan agama Islam, bukankah hal serupa dilakukan pula oleh Said Aqil kepada ajaran Islam lainnya (wahabi salafi)? Bukankah dengan mengatakan ajaran wahabi salafi sebagai pintu masuk terorisme sama saja dengan mengatakan ajaran tersebut tidak baik?
Bedanya, Paul Zhang mengkritisi budaya Islam secara biasa dengan menyatakan ajaran Islam itu tidak baik, sementara NU mengkritisi ajaran wahabi salafi dengan menyatakan ajaran tersebut tidak baik karena jadi pintu masuk bagi terorisme.
Kesamaan antara Paul Zhang dengan NU tidak hingga di situ saja. Setelah perang Suriah berkecamuk, banyak negara Eropa seperti Jerman menampung imigran Suriah. Namun Pemerintah Jerman harus memiliki barrier supaya terorisme & radikalisme tidak berkembang pasca masuknya para imigran. Kemungkinan Paul Zhang yg mengkritisi ajaran Islam jadi salah satu cara Jerman dalam upaya deradikalisasi tersebut.
Serupa dengan NU yg jadi salah satu cara pemerintah Indonesia dalam melawan radikalisme & terorisme lewat program deradikalisasi.
Namun agaknya NU khawatir kue deradikalisasi tersebut direbut oleh ajaran lain seperti yg dilakukan Paul Zhang seandainya program pendeta tersebut lebih efektif dalam upaya deradikalisasi. Jika cara Paul Zhang berhasil di Eropa dalam menekan paham radikal, tentu akan jadi contoh yg dapat ditiru oleh negara lain termasuk Indonesia.
Mungkin itulah mengapa NU sangat bernafsu supaya Paul Zhang diberikan label penista agama. Sebab antara NU & Paul Zhang bak pinang dibelah dua. Berupaya mendapatkan kue deradikalisasi dengan mengkritisi ajaran lain.
Serupa dengan puisi Jalaluddin Rumi. Kedua belah pihak berkompetisi mengpakai lampu yg berbeda. Namun cahayanya tetaplah sama, yakni deradikalisasi dengan cara menghinakan ajaran lainnya.
Hari ini 14:35
The lamps are different, but the light is the same. Kalimat tersebut merupakan penggalan puisi karya Jalaluddin Rumi. Seorang penyair sufi yg lahir di Samarkand pada tahun 1207. Dalam puisi tersebut ia menyatakan bahwa cahaya yg memancarkan sinarnya, berasal dari semua hal, semua manusia, hingga semua kemungkinan permutasi dari kebaikan, kejahatan, pemikiran, & keharapan.
Dari pemikiran tersebut lahirlah konsep bahwa cahaya pada intinya sama, bedanya cuma pada sumber lampu-nya. Inilah yg menginspirasi penulis ketika membandingkan ormas Islam NU dengan nabi ke-26 Joseph Paul Zhang.
Seperti yg sudah penulis nyatakan di artikel sebelumnya, Paul zhang membahas banyak aspek yg mengkritisi Islam & budaya muslim. Paul Zhang yg memiliki nama asli Shindy Paul Soerjomoelyono & kini diduga tengah berada di Jerman menganggap ajaran Islam sebagai ajaran yg salah. Itulah mengapa banyak pihak yg menyebutnya sebagai penista agama.
Namun penulis tidak akan berbicara soal keyakinan diri kepada ajaran Ketuhanan. Hal yg justru menarik perhatian penulis adalah cara Paul Zhang mengkiritisi & menuding ajaran Islam sangat mirip dengan yg dilakukan PBNU kepada ajaran salafi-wahabi.
Pada 30 Maret 2021 lalu Ketum PBNU Said Aqil Siradj menyebutkan ajaran wahabi & salafi merupakan salah satu pintu masuk terorisme di Indonesia. "Kalau kita benar-benar sepakat, satu barisan harap menghadapi, menghabiskan atau menghabisi jaringan terorisme & radikalisme, benihnya dong yg harus dihadapi. Benihnya, pintu masuk yg harus kita habisin. Apa? Wahabi. Ajaran Wahabi itu pintu masuk terorisme," mengatakan Said Aqil dalam webinar bertajuk Mencegah Radikalisme & Terorisme Untuk Melahirkan Keharmonisasn Sosial.
Menurutnya ajaran wahabi maupun salafi bukan terorisme, tetapi jadi pintu masuk terorisme karena ajarannya yg dianggap ekstrem.
Sumber :Antara News [Said Aqil sebut ajaran Wahabi & Salafi pintu masuk terorisme]
Ketika Paul Zhang dikatakan mengkritisi budaya Islam & dianggap menistakan agama Islam, bukankah hal serupa dilakukan pula oleh Said Aqil kepada ajaran Islam lainnya (wahabi salafi)? Bukankah dengan mengatakan ajaran wahabi salafi sebagai pintu masuk terorisme sama saja dengan mengatakan ajaran tersebut tidak baik?
Bedanya, Paul Zhang mengkritisi budaya Islam secara biasa dengan menyatakan ajaran Islam itu tidak baik, sementara NU mengkritisi ajaran wahabi salafi dengan menyatakan ajaran tersebut tidak baik karena jadi pintu masuk bagi terorisme.
Kesamaan antara Paul Zhang dengan NU tidak hingga di situ saja. Setelah perang Suriah berkecamuk, banyak negara Eropa seperti Jerman menampung imigran Suriah. Namun Pemerintah Jerman harus memiliki barrier supaya terorisme & radikalisme tidak berkembang pasca masuknya para imigran. Kemungkinan Paul Zhang yg mengkritisi ajaran Islam jadi salah satu cara Jerman dalam upaya deradikalisasi tersebut.
Serupa dengan NU yg jadi salah satu cara pemerintah Indonesia dalam melawan radikalisme & terorisme lewat program deradikalisasi.
Namun agaknya NU khawatir kue deradikalisasi tersebut direbut oleh ajaran lain seperti yg dilakukan Paul Zhang seandainya program pendeta tersebut lebih efektif dalam upaya deradikalisasi. Jika cara Paul Zhang berhasil di Eropa dalam menekan paham radikal, tentu akan jadi contoh yg dapat ditiru oleh negara lain termasuk Indonesia.
Mungkin itulah mengapa NU sangat bernafsu supaya Paul Zhang diberikan label penista agama. Sebab antara NU & Paul Zhang bak pinang dibelah dua. Berupaya mendapatkan kue deradikalisasi dengan mengkritisi ajaran lain.
Serupa dengan puisi Jalaluddin Rumi. Kedua belah pihak berkompetisi mengpakai lampu yg berbeda. Namun cahayanya tetaplah sama, yakni deradikalisasi dengan cara menghinakan ajaran lainnya.
Hari ini 14:35