• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Kerusakan Ekonomi Pasca 'Idul Fitri ...?

ries nandar

IndoForum Newbie E
No. Urut
102781
Sejak
13 Agt 2010
Pesan
62
Nilai reaksi
1
Poin
8
Assalaamu'alaikum !

Menjelang Ramadhan tiba, beragam harga kebutuhan melonjak naik (yg turun cuma celana kedodoran.. heh..he..he..). seperti contoh pada harga cabai rawit yg melonjak menjadi rp 100 rb / kg, daging sapi mencapai Rp 150 rb /kg (di Aceh) . Bahkan menjelang Idul Fitri, harga naik semakin menjadi-jadi. Yg akhirnya berdampak pada naiknya angka inflasi, yaitu semakin parahnya tingkat kerusakan ekonomi bangsa, karena angka kenaikan harga tidak diiringi dengan kenaikan pendapatan perkapita masyarakat (gaji tetap, kebutuhan mendadak meningkat). Pada dasarnya ini merupakan andil yng cukup besar dari umat Islam yg gagal dalam menjalankan Ibadah Ramadhan. di satu sisi, shaum Ramadhan adalah satu ajang penggemblengan manusia dengan kesabaran dalam keadaan apapun. namun yang terjadi adalah kegiatan2 pemenuhan hawa nafsu dalam segala hal. umat Islam yang mestinya mengevaluasi hasil ibadah selama satu tahun, malah merusak dengan beragam pesta pora. di mana betapa hiruk pikuknya pasar, berdesak2kannya pusat belanja. ini bukan persoalan Ramadhan memberikan berkah bagi semua, melainkan adalah kondisi kenyataan yg ada bahwa semakin terpuruk perekonomian negara kita. dan yg merauk keuntungan melimpah adalah mereka para cukong2 yg mendapat keuntungan dalam kesempitan. sedangkan keuntungan umat Islam mungkin hanya dari penjualan beberapa mangkuk kolak saja. Maka analisalah nanti setelah lebaran usai. berapa banyak saudara kita yg kembali berhutang, berapa banyak saudara kita yg terlilit renten. dan berapa banyak saudara kita yg kehabisan modal usaha karena habis untuk menyenangkan keluarga selama lebaran.
Beruntunglah bagi mereka yg lulus dalam evaluasi Ramadhan, yaitu mereka yg sukses dalam mempersempit ruang gerak hawa nafsunya. karena musuh yg terbesar kita adalah hawa nafsu, sebagaimana jika kita lihat kembali sejarah Perang Badar yang jatuh di Bulan Ramadhan. Bagaimana Kaum Mu-minin berhasil menghancurkan lawan yg jumlahnya 4x lebih banyak sedang mereka bertempur dalam kondisi perut kosong (shaum). Sehingga saat 'Idul Fitri tiba, mereka kembali pada satu fitrah yaitu bersih dari segala macam kotoran hidup, kembali menuju hakikat ajaran yaitu Dinul Islam, yaitu lembaran kemenangan dalam mengalahkan hawa nafsu.
Jadi kepada kawan2, mari kita sukseskan Ramadhan dengan hati yang tunduk, kita jelang kemenangan 'Idul Fitri tanpa kebangkrutan. mudah2an kita terhindar dari kebangrutan ekonomi massal, kebangrutan ekonomi rumah tangga, hingga kebangkrutan nilai ibadah selama Ramadhan.

"Shaum tuk menggempur hawa nafsu
Dengan ibadah murni nan khusyu
Mari singkirkan yang tidak perlu
Lebaran bukan harus pakai baju baru".
 
yups
mungkin dah karena adanya idul fitri karena orang butuh jadi penjual berhak naikin karena tidak mungkin tidak pasti dibeli
 
ini mah, permainan pasar, antara hukum permintaan dan penawaran tanpa dikontrol oleh pemerintah dan masyarakat [-(
 
ini mah, permainan pasar, antara hukum permintaan dan penawaran tanpa dikontrol oleh pemerintah dan masyarakat [-(

iyah tuh mas
karna banyak na permintaan yang di di butuhkan oleh konsumen sehingga penigkatan ekonomi dalam pasar jadi ga teratur karna tanpa ada nya contol langunsg dari pemerintah :)
 
Menurut hemat saya sih, memang sudah saatnya kita sbg umat Islam yang mengaku diri beriman untuk lebih introspeksi diri dengan persoalan ibadah kita. karena masalah rumusan ekonomi itu tidak bisa terbendungkan, apalagi dalam sistem ekonomi Liberalis saat ini yang jelas-jelas bukan sistem ekonomi menurut Al Qur-an / Islam. Selanjutnya, kerusakan ekonomi semakin diperparah oleh pola konsumsi kita yang jor-joran menjelang Ramadhan dan lebaran ini. Ini sekedar ajakan bagi Kaum Muslimin untuk lebih memahami konsep Idul Fitri yg sebenarnya, yaitu kemenangan dari deru hawa nafsu dengan pembinaan kesabaran di Bulan Ramadhan. Lalu tegakan konsep ekonomi Islami yang lolos dari konsep "besar pasak dari pada tiang". Mudah2an dapat difahami.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.