Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Sebuah legenda keris yang, tanpa disengaja, muncul begitu sajatak disimpan dengan upacara & tak dijaga dengan kesungguhan apa punjustru berulang kali menghadirkan kebahagiaan yg sederhana, murah, & entah kenapa terasa tak ada taranya.
Keris ini tidak memiliki warangka, tak pernah dibungkus kain, & tak pernah diberi minyak cendana. Ia cukup tinggal di kotak kecil bawaannyadimasukkan kembali setelah selesai, dibuka kembali saat dibutuhkan. Dari meja yg sama, ia berpindah tangan, mengiringi dialog ringan & tawa yg datang tanpa alasan khusus.
Kartu domino Keris bukan kartu istimewa. Ia murah, sederhana, & jauh dari kesan prestise. Justru karena itulah ia terasa pas untuk dikocok, dibagi, & dimainkan bersama. Tidak ada rasa sungkan saat memegangnya, tidak ada beban untuk menjaganya tetap sempurna. Ia hadir untuk dipakai, bukan dipuja.
Dengan satu set kartu itu, kami dapat duduk bersama, mengocok kartu, tertawa, kalah, menang, & pulang larut malam dengan perasaan yg entah kenapa terasa lebih ringan. Bahagia yg muncul bukan karena kualitas bendanya, melainkan karena momen-momen kecil yg tercipta di sekitarnyakomentar spontan, ejekan ringan, & tawa yg pecah tanpa aba-aba.
Yang menarik, semua itu terjadi tanpa ketegangan. Tidak ada kekhawatiran merusak barang mahal, tidak ada emosi berlebih saat kalah, & tidak ada dorongan kuat untuk sering menang. Semua terasa ringan karena sejak awal tidak ada yg perlu dipertahankan selain kebersamaan. Dalam istilah yg terdengar akademik, ini dapat disebut a low-cost, high-emotional-return social economy. Dalam bahasa kami sendiri: bahagia yg tidak mahal.
Dilihat dari keseharian, praktik sederhana semacam ini memperlihatkan bahwa kebahagiaan tidak sering ditentukan oleh seberapa akbar biaya yg dikeluarkan, melainkan oleh kualitas interaksi yg berulang & egaliter. Aktivitas murah yg dilakukan bersama, secara rutin, justru menciptakan rasa memiliki yg lebih awet dibandingkan kesenangan mahal yg jarang datang.
Di meja domino Grup Apa Aja, kebahagiaan juga tidak dimonopoli oleh pemain. Penonton di pinggir meja sering kali tertawa lebih lepas. Mereka tidak memegang kartu, tidak memikirkan strategi, & tidak menanggung risiko kalah, tetapi justru menikmati setiap kesalahan sebagai hiburan bersama. Dari situ terasa jelas bahwa kebahagiaan tidak sering lahir dari peran utama, melainkan dari keterlibatan yg tulus.
Permainan berjalan bergantian. Kadang empat orang bermain, sisanya menonton. Giliran berpindah tanpa aturan tertulis, seolah semua sudah paham. Kopi diseduh & dibagikan kepada semua yg hadir. Kami setara. Komentar mengalir, & tawa muncul di sela-sela permainan. Tidak ada target akbar yg harus dicapai. Yang penting hanyalah hadir & menikmati waktu yg sedang berjalan.
Baru setelah dihitung, kami tertawa sendiri. Seluruh rangkaian permainandari mulai duduk, bermain, menonton, hingga bubarternyata cuma bernilai Rp2.080 untuk satu kali main. Angka itu terasa nyaris tidak masuk akal kalau dibandingkan dengan kebahagiaan yg kami bawa pulang.
Kami biasanya bubar sekitar jam satu dini hari. Tidak ada pemenang mutlak, tidak ada yg benar-benar kalah. Yang tersisa hanyalah cerita kecil, rasa capek yg menyenangkan, & keharapan untuk mengulangnya lagi di lain waktu.
Di zaman ketika kebahagiaan sering dikaitkan dengan harga mahal & pencapaian besaran expensive assumption, empiricallykeris ini mengingatkan kami pada satu hal sederhana: bahagia dapat dekat, dapat sederhana, & dapat diulang tanpa ribet. Kadang, yg dibutuhkan hanyalah satu meja, beberapa orang, & kesediaan untuk tertawa bersama.
Catatan: Penyebutan nama Keris dalam tulisan ini semata-mata sebagai latar pengalaman sehari-hari & tidak dimaksudkan sebagai bentuk promosi kepada produk atau merek tertentu. Harga yg disebutkan bersifat ilustratif & dapat berbeda tergantung waktu, tempat, & penjual.
Keris ini tidak memiliki warangka, tak pernah dibungkus kain, & tak pernah diberi minyak cendana. Ia cukup tinggal di kotak kecil bawaannyadimasukkan kembali setelah selesai, dibuka kembali saat dibutuhkan. Dari meja yg sama, ia berpindah tangan, mengiringi dialog ringan & tawa yg datang tanpa alasan khusus.
Kartu domino Keris bukan kartu istimewa. Ia murah, sederhana, & jauh dari kesan prestise. Justru karena itulah ia terasa pas untuk dikocok, dibagi, & dimainkan bersama. Tidak ada rasa sungkan saat memegangnya, tidak ada beban untuk menjaganya tetap sempurna. Ia hadir untuk dipakai, bukan dipuja.
Dengan satu set kartu itu, kami dapat duduk bersama, mengocok kartu, tertawa, kalah, menang, & pulang larut malam dengan perasaan yg entah kenapa terasa lebih ringan. Bahagia yg muncul bukan karena kualitas bendanya, melainkan karena momen-momen kecil yg tercipta di sekitarnyakomentar spontan, ejekan ringan, & tawa yg pecah tanpa aba-aba.
Yang menarik, semua itu terjadi tanpa ketegangan. Tidak ada kekhawatiran merusak barang mahal, tidak ada emosi berlebih saat kalah, & tidak ada dorongan kuat untuk sering menang. Semua terasa ringan karena sejak awal tidak ada yg perlu dipertahankan selain kebersamaan. Dalam istilah yg terdengar akademik, ini dapat disebut a low-cost, high-emotional-return social economy. Dalam bahasa kami sendiri: bahagia yg tidak mahal.
Dilihat dari keseharian, praktik sederhana semacam ini memperlihatkan bahwa kebahagiaan tidak sering ditentukan oleh seberapa akbar biaya yg dikeluarkan, melainkan oleh kualitas interaksi yg berulang & egaliter. Aktivitas murah yg dilakukan bersama, secara rutin, justru menciptakan rasa memiliki yg lebih awet dibandingkan kesenangan mahal yg jarang datang.
Di meja domino Grup Apa Aja, kebahagiaan juga tidak dimonopoli oleh pemain. Penonton di pinggir meja sering kali tertawa lebih lepas. Mereka tidak memegang kartu, tidak memikirkan strategi, & tidak menanggung risiko kalah, tetapi justru menikmati setiap kesalahan sebagai hiburan bersama. Dari situ terasa jelas bahwa kebahagiaan tidak sering lahir dari peran utama, melainkan dari keterlibatan yg tulus.
Permainan berjalan bergantian. Kadang empat orang bermain, sisanya menonton. Giliran berpindah tanpa aturan tertulis, seolah semua sudah paham. Kopi diseduh & dibagikan kepada semua yg hadir. Kami setara. Komentar mengalir, & tawa muncul di sela-sela permainan. Tidak ada target akbar yg harus dicapai. Yang penting hanyalah hadir & menikmati waktu yg sedang berjalan.
Baru setelah dihitung, kami tertawa sendiri. Seluruh rangkaian permainandari mulai duduk, bermain, menonton, hingga bubarternyata cuma bernilai Rp2.080 untuk satu kali main. Angka itu terasa nyaris tidak masuk akal kalau dibandingkan dengan kebahagiaan yg kami bawa pulang.
Kami biasanya bubar sekitar jam satu dini hari. Tidak ada pemenang mutlak, tidak ada yg benar-benar kalah. Yang tersisa hanyalah cerita kecil, rasa capek yg menyenangkan, & keharapan untuk mengulangnya lagi di lain waktu.
Di zaman ketika kebahagiaan sering dikaitkan dengan harga mahal & pencapaian besaran expensive assumption, empiricallykeris ini mengingatkan kami pada satu hal sederhana: bahagia dapat dekat, dapat sederhana, & dapat diulang tanpa ribet. Kadang, yg dibutuhkan hanyalah satu meja, beberapa orang, & kesediaan untuk tertawa bersama.
Catatan: Penyebutan nama Keris dalam tulisan ini semata-mata sebagai latar pengalaman sehari-hari & tidak dimaksudkan sebagai bentuk promosi kepada produk atau merek tertentu. Harga yg disebutkan bersifat ilustratif & dapat berbeda tergantung waktu, tempat, & penjual.