jennywijaya
IndoForum Newbie A
- No. Urut
- 288379
- Sejak
- 10 Nov 2020
- Pesan
- 318
- Nilai reaksi
- 1
- Poin
- 18
Kehamilan adalah saat yang menyenangkan dan membawa banyak perubahan dalam hidup Anda. Saat Anda hamil, tubuh Anda mengalami banyak perubahan. Namun, beberapa perubahan tubuh tidak terduga dan terkadang dapat menyebabkan masalah, salah satunya keputihan saat hamil tua.
Meskipun semua wanita mengalami bentuk keputihan sesekali, dan banyak wanita hamil juga mungkin mengalami keputihan. Namun, apakah normal jika mengalami keputihan di saat kehamilan memasuki trimester ketiga atau diakhir kehamilan? Berikut penjelasannya!
Keputihan saat hamil tua
Keluarnya cairan putih dari vagina atau cairan susu pada trimester ketiga adalah hal yang biasa, dan Anda tidak perlu mengkhawatirkannya. Karena jumlah perubahan yang terjadi di dalam tubuh Anda selama kehamilan, sangat normal untuk mengalami keputihan saat hamil tua.
Tetapi Anda harus berkonsultasi dengan dokter Anda jika cairan yang keluar memiliki warna, tekstur, atau bau busuk yang tidak biasa, ketika mendekati tanggal persalinan Anda, Anda mungkin juga melihat keluarnya cairan putih kental bernoda darah pada trimester ketiga. Ini merupakan indikasi bahwa Anda kemungkinan besar akan melahirkan.
Normalkah keputihan saat hamil tua?
Ada beberapa perubahan yang akan terjadi di tubuh Anda untuk mempersiapkan Anda untuk persalinan. Perubahan ini terkait dnegan perubahan keputihan yang Anda alami. Kadar hormon Anda akan berubah karena suplai darah ke serviks akan meningkat, menyebabkan jumlah cairan yang lebih banyak. Anda mungkin harus mengunakan pantyliner atau pembalut. Berikut tanda-tanda keputihan yang normal:
Keputihan tidak normal selama trimester ketiga
Keputihan saat hamil tua yang tidak normal berwarna kekuningan atau kehijauan, dan mungkin disertai atau tidak denngan bau yang busuk. Dalam situasi seperti ini, Anda harus segera menghubungi dokter. Bisa jadi karena berbagai alasan, dan harus dirawat sebelum bisa mempengaruhi bayi Anda.
Berikut beberapa alasan umum terjadinya keputihan saat hamil tua yang tidak normal:
Tips berikut akan membantu Anda mengatasi keputihan dan mencegah infeksi, meliputi:
Hindari melakuan hal berikut:
Meskipun semua wanita mengalami bentuk keputihan sesekali, dan banyak wanita hamil juga mungkin mengalami keputihan. Namun, apakah normal jika mengalami keputihan di saat kehamilan memasuki trimester ketiga atau diakhir kehamilan? Berikut penjelasannya!
Keputihan saat hamil tua
Keluarnya cairan putih dari vagina atau cairan susu pada trimester ketiga adalah hal yang biasa, dan Anda tidak perlu mengkhawatirkannya. Karena jumlah perubahan yang terjadi di dalam tubuh Anda selama kehamilan, sangat normal untuk mengalami keputihan saat hamil tua.
Tetapi Anda harus berkonsultasi dengan dokter Anda jika cairan yang keluar memiliki warna, tekstur, atau bau busuk yang tidak biasa, ketika mendekati tanggal persalinan Anda, Anda mungkin juga melihat keluarnya cairan putih kental bernoda darah pada trimester ketiga. Ini merupakan indikasi bahwa Anda kemungkinan besar akan melahirkan.
Normalkah keputihan saat hamil tua?
Ada beberapa perubahan yang akan terjadi di tubuh Anda untuk mempersiapkan Anda untuk persalinan. Perubahan ini terkait dnegan perubahan keputihan yang Anda alami. Kadar hormon Anda akan berubah karena suplai darah ke serviks akan meningkat, menyebabkan jumlah cairan yang lebih banyak. Anda mungkin harus mengunakan pantyliner atau pembalut. Berikut tanda-tanda keputihan yang normal:
- Warnanya keputihan, bening, encer, atau bahkan agak kekuningan
- Tidak berbau
- Keluar cairan sedikit berwarna merah muda saat tanggal persalinan semakin dekat
Keputihan tidak normal selama trimester ketiga
Keputihan saat hamil tua yang tidak normal berwarna kekuningan atau kehijauan, dan mungkin disertai atau tidak denngan bau yang busuk. Dalam situasi seperti ini, Anda harus segera menghubungi dokter. Bisa jadi karena berbagai alasan, dan harus dirawat sebelum bisa mempengaruhi bayi Anda.
Berikut beberapa alasan umum terjadinya keputihan saat hamil tua yang tidak normal:
- Bakteri vaginosis. Suatu kondisi yang disebabkan oleh ketidakseimbangan bakteri yang ada di vagina atau saluran serviks. Ini juga merupakan penyebab keputihan berwarna kekuningan. Gejala ini merupakan sensasi perih atau terbakar saat buang air kecil. Jika tidak diatasi bisa menyebabkan bayi premature atau bayi lahir kecil.
- Kandidiasis. Adalah infeksi jamur yang menyebabkan keputihan berwarna kekuningan atau kehijauan. Peningkatan peubahan kadar hormonal dapat menyebabkan infeksi jamur Candida. Ini mungkin membuat Anda mengalami gatal-gatal dan iritasi.
- Klamidia. Adalah penyakit menular seksual (PMS). Ini bisa menyebabkan keputihan menjadi kental dan kekuningan. Jika Anda menderita PMS atau lainnya, Anda harus segera memberitahu dokter dan memulai pengobatan karena dapat menyebabkan persalinan prematur atau menularkan infeksi ke janin.
- Keputihan disebabkan oleh peningkatan kadar esterogen selama kehamilan. Ini dapat menyebabkan cairan kental dan kekuningan. Keputihan adalah kombinasi flora bakteri normal yang ditemukan di serviks, sel-sel vagina tua, dan sekresi lain dari vagina dan leher rahim.
Tips berikut akan membantu Anda mengatasi keputihan dan mencegah infeksi, meliputi:
- Cuci area vagina beberapa kali dalam sehari dengan air dan sabun obat yang direkomendasikan oleh dokter Anda. Tepuk-tepuk hingga kering.
- Saat mengeringkan atau menyeka vagina, gerakan tangan harus dari depan ke belakang dan tidak dari belakang ke depan. Kenakan pakaian dalam katun yang bersih dan ganti dua kali sehari.
- Gunakan pembalut atau pantyliner akan membuat Anda tetap kering dan nyaman.
- Gunakan pelindung saat berhubungan seks untu mencegah penyakit menular seksual.
Hindari melakuan hal berikut:
- Hindari penggunaan krim beraromadan mandi busa.
- Tampon dapat menyebabkan infeksi dan memasukkan bakeri ke dalam vagina. Oleh karena itu, hindari menggunakannya.
- Jika Anda memiliki bau tidak sedap di area vagina, jangan tutupi dengan menggunakan pewangi, semprotan, atau bedak.
- Hindari pengobatan sendiri dan berkonsutasilah dengan dokter untuk mengatasi rasa gatal, kemerahan atau bengkak.
- Hindari menggunkaan toilet umum untuk mencegah infeksi.