• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Kenapa WHO Gagal Membendung Corona?

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Kenapa WHO Gagal Membendung Corona?


Cangkeman.net -Ketika artikel ini ditulis, sebanyak 210 juta warga dunia terinfeksi virus Covid19. 4,41 juta diantaranya meninggal dunia. Dengan pengalaman yg dimiliki WHO dalam menangani berbagai gejolak kesehatan dunia, kenapa dia dapat hingga kelabakan menangani COVID 19?
Yuk bahas tipis-tipis.

Organisasi Kesehatan Dunia yg dibentuk tahun 1948 ini menjalin kerjasama antar negara dalam bidang kesehatan & kebersihan. Sebagai badan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa, WHO punya posisi yg penting. Peran WHO melalui jalan panjang & sulit dalam mengurusi bidangnya tersebut. PBB yg awalnya lebih fokus pada pengkondisian perdamaian & pasca perang, akhirnya sadar bahwa sejarah menunjukkanpenyebaran penyakit sudah membunuh lebih banyak manusia dibandingkan dengan peperangan. Penyakit menular seperti kolera, tifus, campak & masih banyak lagi terus memakan korban yg tidak sedikit.

Di tahun 1918, sebuah penyakit flu yg sering disebut sebagai Flu Spanyol menyebar ke seantero Eropa & Amerika, yg kemudian meluas ke seluruh dunia. Virus ini memakan korban tidak kurang dari 50 juta jiwa hingga akhir perang dunia pertama. Korban perang dunia perdana bahkan tidak hingga setengahnya dari korban virus flu tersebut. Padahal, korban belasan juta akibat perang dunia perdana saja dirasa sangat tragis & begitu banyak. Namun ternyata dari sebuah virus yg dianggap sepele saja dapat menelan korban yg hampir 3 kali lebih banyak dari perang dunia pertama.

Belajar dari hal tersebut, pada tahun 1922 Liga Bangsa-Bangsa kemudian membentuk League of Nations Health Organization (LNHO) dengan tujuan untuk mengontrol & mencegah peyebaran penyakit di kemudian hari. Saat itu, sistem kerja mereka adalah menciptakan sistem peringatan dini, ketika ada salah satu negara anggotanya yg terjangkit sebuah penyakit menular, mereka dapat mengabari LBB, dari sini kemudian LBB memberi tahu negara anggota yg lain tentang cara bagaimana mereka dapat mempersiapkan diri dalam menghadapi penyakit tersebut. Sukur-sukur mencegahnya masuk.

LBB juga biasanya mengirim bantuan teknis dengan mengirim regu ahli. Di balik itu, LNHO mengerjakan riset & menjalin kerjasama dengan institusi pemerintahan maupun non pemerintahan untuk mencari obat atau penanggulangan dari penyakit yg ada. Nah WHO yg sekarang ada dapat dikatakan adalah lanjutan dari LNHO. Dengan sistem early warning tersebut, WHO cuma mengandalkan komitmen & keterbukaan anggotanya. Misal ada salah satu negara yg menutupi kasus penyakit menyebar di negaranya, maka WHO otomatis tidak dapat memberikan peringatan dini kepada negara lain di waktu yg tepat.

Tahun 2003, Kementerian Kesehatan China melaporkan penyebaran kasus Pneumonia yg kemudian dinamakan sebagai Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Tapi dalam mengklasifikasikan potensi pandemi dari penyakit ini otoritas China memakan waktu yg terlalu lama. Setelah berjibaku, WHO mengkoordinasikan Global Outbreak Alert and Response Network, WHO dengan sinergi beberapa negara kemudian dapat memberhentikan penyebaran SARS dalam waktu 4 bulan.

Dari kasus SARS ini WHO sadar kalau mengandalkan kejujuran & komitmen dari negara anggota saja tidaklah cukup, apalagi dalam kondisi genting yg mengancam nyawa banyak manusia. Akhirnya di tahun 2005 dibuatlah regulasi yg pada intinya memberikan WHO lebih banyak kewenangan untuk memberi peringatan untuk negara anggotanya akan potensi penyebaran sebuah penyakit, sebelum mendapatkan persetujuan dari negara sumber penyakit itu. Untuk mencegah politisasi data oleh suatu pemerintahan sebuah negara, WHO juga berwenang menyelidiki potensi penyakit menyebar dari data non pemerintah yg dianggap kredibel.

Dengan regulasi ini, sangat menolong ketika kasus 2015 di mana kantor WHO Afrika mendapat laporan penyebaran virus Ebola di Guinea. WHO jadi lebih leluasa mengirimkan asetnya ke negara sekitar untuk mencegah penyebarannya meluas. Meskipun masih banyak celah penyebarannya, & WHO di sini mendapat kritik atas penanganan Ebola, tetapi setidaknya WHO berhasil membendung penyakit tersebut.

Bagaimana dengan COVID 19?

Semenjak didirikan, misi WHO semakin berkembang & meluas dari sekadar mencegah penyakit hingga hingga mencakup isu sepertiobesitas, kecanduan & perubahan iklim, hingga kecelakaan. Dengan misi yg semakin meluas tersebut, fokus & prioritas WHO jadi semakin tidak jelas.

Ditambah lagi, Direktur Jenderal WHO memilih untuk lebih mengutamakan peningkatan akses kesehatan di atas dari kapasitas WHO dalam merespon sebuah wabah penyakit.
Misi ambisius ini berjalan mulus hingga akhirnya menemui masalah genting ketika anggaran belanja yg ada tidak dapat mengakomodir banyaknya misi WHO ketika kondisi pandemi datang.

Dari mana sumber keuangan WHO?
Pertama, dari iuran wajib seluruh anggotanya, danang iuran wajib ini dapat dipakai WHO sesuai kebijakan prioritas sang Direktur Jenderal.
Kedua, dari danang sukarela. baik itu aktor negara, yayasan, perusahaan, & organisasi internasional lain. danang sukarela ini cuma boleh dipakai dalam aktifitas yg disetujui oleh donatur. Di sinilah permasalahannya.

Semenjak krisis finansial 2008, WHO justru semakin bergantung pada danang sukarela daripada iuran wajib, bahkan kontribusi iuran wajib dari negara anggotanya cuma 20% dari keseluruhan budget WHO. 80% sisanya berasal dari danang sukarela. Nah loh!

Dengan sistem ini memberikan organisasi atau anggota yg jadi donatur pengaruh yg signifikan dalam prioritas WHO. Misal Bill & Melinda Gates Foundation, danang sukarela dari mereka beberapa akbar ditujukan untuk memberantas penyakit polio. Apalagi yayasan ini merupakan penyumbang terbesar kedua yg menjadikan prioritas utama WHO mengikuti prioritasnya. 26,5% dari danang operasional WHO wajib dialokasikan untuk memberantas polio. Sedangkan untuk merespon wabah tertentu anggarannya cuma sekitar 6% saja.

Dengan sistem ini pula, sejak tahun 1980 negara anggota WHO lebih memilih untuk memberikan sumbangan sukarela dibanding iuran wajib karena dapat meluaskan pengaruh politiknya.

Minimnya danang, kurangnya independensi, & permainan politik antar donatur sangat menghambat WHO dalam menangani COVID 19, ditambah lagi kepemimpinan WHO yg dinilai banyak kalangan cenderung lambat menciptakan organisasi ini tidak begitu dapat diandalkan kinerjanya.

Kemudian sebuah kisah berasal di Januari 2020, Tiongkok sudah melaporkan kepada WHOmengenai sebuah kasus pneumonia yg masih misterius di Wuhan, Provinsi Hubei. Berdasarkan media nasional setempat, penyakit ini mempunyai kemungkinan menular dari manusia ke manusia. Harusnya, WHO mengirim peringatan ke dunia akan potensi penyebaran penyakit ini. WHO justru mengklaim pada tanggal 12 Januari 2020 bahwa mereka menerima data yg menunjukkan tidak ada kasus yg ditakutkan tersebut.

Sebelum itu, pada penghujung tahun 2019 Singapura, Taiwan & Hongkong sudah mengerjakan langkah preventif dengan memperketat supervisi di bandara masing-masing. WHO justru mengatakan bahwa hal tersebut tidak perlu dilakukan. Bahkan hingga akhir Januari 2020 WHO masih menciptakan penyataan bahwa upaya untuk menutup pintu kedatangan internasional tidaklah diperlukan. Ironisnya, China sendiri membatasi kedatangan warga asing di wilayahnya atas dasar mencegah penyebaran virus. Tapi kebijakan ini tidak mendapat kritikan atau respon dari WHO.

Tidak adanya koordinasi & sikap yg tidak tegas menciptakan banyak negara yg bertumpu pada sikap WHO jadi bingung, Lha wong dalangnya bingung, apalagi wayangnya?

Presiden Amerika Serkat waktu itu, Donald Trump jadi frustasi karena efek COVID 19 ini sangat memukul negerinya, ia pun geram kepada WHO. Bahkan hingga mengancam akan mengurangi bantuan finansial AS kepada WHO. Di Amerika Serikat, jumlah korban jiwa akibat COVID 19 melebihi korban jiwa akibat perang Korea, Vietnam & Iraq.

Kalau Amerika benar-benar memangkas suntikan danannya kepada WHO, tambah sulitlah kondisi organisasi kesehatan dunia ini. Sudah danang operasionalnya cekak, ditambah 80% diantaranya harus mengikuti arahan donatur. 20% sisanya harus ikut arahan Direktur Jenderalnya yg lebih memilih untuk mengutamakan peningkatan akses kesehatan di masyarakat ketimbangan penanganan virus.
Belum lagi kalo ngomongin efek Jer*nx, makin pusinglahkacungtim WHO.

Tulisan ini ditulis oleh Zen & pernah tayang di cangkeman.net (https://www.cangkeman.net/2021/08/ke...g-corona.html) pada tanggal 22 Agustus 2021.
Hari ini 00:29
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.