Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Bagaima kabar hari ini rebahaners dimanapun kalian berada? Semoga tetap sehat & sering tersenyum walau kantong bokek yg penting bahagia, okelah kalau begitu langsung saja pembahasannya tanpa banyak cing cong, tanpa harus misuh-misuh, tanpa harus banyak sandiwara lamgsung rebahan di dada pacar, tarik selimut biar anget, kencangkan ikat pinggang dan...
"Cekicrot"
Pembahasan kali ini menceritakan tentang "Anak Haram" hmm sebuah sebutan yg sering kita dengar di masyarakat Indonesia. Padahal kalau mengatakan bu guru cantik ketika ane sekolah dulu dibawah pohon rindang (DPR) anak itu suci, tidak ada dosa & najis bahkan seorang anak yg baru lahir itu benar-benar tidak tahu apa-apa, boro-boro mau mengerjakan kegiatan yg haram yg halal aja susah.
Yup, pada dasarnya sebutan anak haram adalah anak yg lahir diluar pernikahan. Tapi kok jadi memvonis si anak ya?
Bagaimana mungkin seorang bayi dapat tahu halal & haram? Tentu saja ungkapan anak haram terasa seperti keputusan sanksi sosial bagi si anak, yg tidak tahu ia akan dilahirkan dimana? Apa orang tuanya kaya atau miskin, mereka tak dapat memilih bahkan nyawa mereka pun dapat saja terancam akibat moral orang tuanya yg bejat.
Tapi kalau kita buka otak & pikiran kita dengan jernih & menyingkirkan kemesuman sejati yg kita miliki maka ungkapan anak haram dapat saja karena prilaku orang tuanya yg berbuat haram. Apa saja perbuatan haram yg menabrak syariat agama & juga berujung pada pidana, lantas anak-anak & keluarga mereka diberikan rezeki dari hal itu maka dapat saja mendapat cap "anak haram", "istri haram" atau "suami haram".
Jadi menurut gw pribadi istilah anak haram yg skupnya cuma dibatasi pada anak hasil di luar nikah kurang relevant, harusnya orang tuanya yg haram bukan nama si anak yg disangkutkan. Tentu hal ini akan berdampak akbar pada mental si anak sendiri, apalagi kalau teman-temannya membully dapat-dapat terjadi pertarungan akbar nantinya kalau si anak tak suka diejek seperti itu.
Apalagi bayi-bayi yg dilahirkan ini sering berujung pada kematian atau panti asuhan, sedikit gw ketuk hati lo yg suka mantap-mantap sama pacar. Stop lah bro cukup, lo nikahin deh sebelum kejadian masuk angin 9 bulan.
Tapi sepertinya agak sulit budaya kita yg turun menurun dari dulu memanggil anak hubungan diluar nikah dengan nama anak haram, mungkin saja dulunya Pak Haram pernah berzina dengan Bu Haram jadilah si anak diberikan nama Haram, maka unsur Haram akan terus melekat hingga Indonesia jadi negara maju.
Setidaknya ubahlah pola pikir kita jangan jadi hakim atas ciptaan Tuhan, coba renungkan ucapan itu sama saja dengan mengatakan secara tak langsung buatan Tuhan itu "Haram'.
Bukankah begitu? Sekian pembahasan kali ini sunggu ending yg sangat "mengharamkan"
Semoga bermanfaat ciaooo...
Referensi klik
Pic google