Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Negara maju dalam dunia modern saat ini terkesan tidak religius, namun sebaliknya negara yg religius masih banyak yg statusnya masih negara berkembang atau tidak maju.
Tentu menimbulkan banyak pertanyaan kenapa Amerika, Jepang, Korea, Swiss, Norwegia & negara-negara maju yg lainnya itu seperti tidak peduli dengan religi?
Negara maju yg dimaksud bukan cuma maju ipteknya & finansial, tetapi juga maju secara moral. Tapi, negara yg religius malah mendapati kemunduran moral, contoh India sebagai negara religius tetapi kasus pemerkosaannya cukup tinggi, KDRT, bunuh diri, intimidasi, bullying & sebagainya sering terjadi.
Atau contoh lain adalah Amerika Latin, dimana negaranya cukup religius tetapi kasus pembunuhannya paling tinggi. Bahkan negara timur tengah, negara yg cukup religius sering kali membuka sarana untuk perang. Kita tahu perang itu seperti apa, siapa yg mati & jadi korban? Wanita & anak-anak sering jadi korban perang.
Nah, kenapa dapat seperti itu?
Bahkan baru-baru ini ada fenomena menarik kalau Ustadz Abdul Somad ditolak oleh Singapura, salah satu negara maju di dunia. Hal ini cuma satu alasannya, akibat ceramahnya bertolak belakang dengan nilai-nilai yg dianut Singapura.
Hal ini tentu sangat menarik untuk dibahas, kenapa mereka alergi kepada hal-hal yg religius?
Keyakinan tanpa akal logika, hasilnya akan banyak penyimpangan & juga kerusakan. Karena sebuah keyakinan itu tidak definitif, tidak jelas, cuma dapat dirasakan & sebagainya.
Karena mereka tak dapat menterjemahkannya yg berkaitan dengan ego, kehendak, khayalan, cita-cita, fantasi & lainnya, lalu beranggapan akal & pikiran itu musuh dalam sebuah keyakinan. Maka hasilnya banyak terjadi penyimpangan dalam hal yg diyakini tersebut.
Contoh, ada orang ngebom orang lain atau ada orang digebukin berjamaah. Padahal jelas secara akal & pikiran maupun logika itu sebuah tindakan kejahatan, namun mereka anggap itu pembelaan dirinya pada keyakinan yg ia anut. Padahal 100% itu hawa nafsu, jengkel & juga emosi.
Karena tak dapat menterjemahkan hawa nafsu yg sebenarnya tidak terukur, maka rasa sayang pada keyakinan yg tak tertakar ini di kamuflasekan seakan ajaran dalam keyakinannya menganjurkan hal tersebut. Kalau seperti itu tentu jelas sesat & menyesatkan.
Karena bila memang dia berkeyakinan yg baik, tentu tidak akan menghakimi orang lain. Bahkan sering intropeksi, atau menghisab dirinya sendiri.
Bahkan dia juga bertindak hati-hati tidak mau memamerkan ketaatannya kepada Tuhan, atau bangga kepada jumlah pengikutnya yg banyak. Intinya tidak mau tenar, urusan keyakinan itu cuma antara dirinya & Tuhan. Namun masyarakat awam meninggalkan orang baik seperti ini karena berkeyakinan tanpa akal & logika atau ilmu, mereka lebih banyak mengikuti jejak orang yg bertipe sebaliknya.
Maka konteksnya, keyakinan yg dimiliki oleh sosok manusia yg banyak diikuti masyarakat religius saat ini adalah menyebarkan tafsiran atas kebodohan & kemalasan. Bahkan menghambat ilmu yg semestinya menjadikan peradaban modern itu lebih maju.
Contoh, ngapain sih belajar matematika gak akan ditanya di akhirat. Ngapain juga sih belajar bahasa asing, mati juga gak dipakai ilmunya. Inikan justru menghambat manusia untuk berfikir & berkembang untuk maju.
Atau dengan kata-kata ajaib kalau rezeki udah diatur, banyak do'a aja. Atau sedekah motor dapat ganti mobil mewah, anda tak akan pernah menjangkau logika Tuhan, nanti Tuhan yg mengatur itu semua. Pokoknya ikuti saja, taklid sama guru. Hingga hilanglah sisi kritis mereka, ketika ada yg kritis langsung mendapatkan cap munafik, kafir & lain sebagainya & ini juga membenarkan terjadinya konflik padahal semua ajaran keyakinan intinya mengharuskan berbuat kebaikan & juga kedamaian.
Akhirnya terjdilah pembelaan dalam kejahatan yg dilakukan atas nama keyakinan tertentu. Contohnya sudah dijabarkan diatas.
Jadi orang yg seperti itu dapat dibilang gagal dalam mentafsirkan pesan dalam suatu ajaran keyakinan, malah menghambat & meremehkan akal budi manusia, sehingga akhirnya mereka tidak dapat maju.
Ketika negara maju, tidak memberikan ruang untuk guru-guru religi dengan pemahaman yg salah kaprah itu maka terciptalah peradaban dunia yg mereka kendalikan.
Namun efeknya, negara-negara maju ini juga takut dengan tokoh-tokoh atau orang-orang religius yg baik, karena alasan yg tadi itu. Duh, jadi repotkan.
Lantas bagaimana kita yg hidup di negara religius, namun harap mendalami keyakinan itu dengan baik?
Agak rumit, tetapi ada wejangan dari guru-guru,
orang-orang yg sholih berada di tengah banyaknya orang-orang yg jelek, orang yg mendurhakai mereka (orang shalih) lebih banyak daripada yg mentaati mereka
(HR. Muslim).
Dan mayoritas itu dapat jadi belum tentu sebuah kebaikan, masihkah kita mengikuti apa yg dikatakan oleh mayoritas? Silahkan dipikirkan.
Sumber klik, klik, klik, klik