Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Cangkeman.net -Jika ada kemiripan judul tulisan ini kepada tulisansebelumnya, maka hal ini memang disengaja. Karena tulisan ini secara spesifik akan menanggapi tentang tulisan sebelumnya itu.
Tulisan sebelumnya ditulis oleh salah seorang yg cukup aktif menulis di Cangkeman dengan atribusi pada biodatanya tertulis "Manusia setengah matang, yg sedang fakir pengetahuan."
Karena beliau ini masih manusia setengah matang yg sedang fakir pengetahuan. Mungkin tulisan ini yg merupakan sanggahan untuk tulisan beliau akan sedikit menjadikan beliau lebih matang & lebih berpengetahuan lagi. Siapa tau sehabis ini ganti atribusi jadi "Manusia 3/4 matang, cukup pengetahuan." heuheu.
Sebenarnya di awal tulisan beliau ini saya sudah cukup menyadari kalau isi tulisannya cuma akan pada taraf "Good" & tidak hingga pada taraf "Great". Hal ini terlihat ketika beliau menyebutkan kekecewaanya karena tidak lulus akibat "percobaan" yg beliau lakukan.
Jadi ada satu peraturan. dia mencoba melanggar, dia dapat hukuman, eh dia kecewa.Ra mashhook.
Sebagai seorang akademisi, mengerjakan percobaan-percobaan, analisi, itu hal yg biasa. Tapi di sini akademisi ini terbagi jadi dua. Yang satu yg lebih mengutamakan hasil, yg lainnya justru bahagia dengan proses penelitiannya. Seperti mengatakan seorang fisikawan asal Amerka Serikat, Richard Feynman,"The difference between a good student and a great one is that a good students is concerned more about the outcome while a great one is fascinated by the process learning."
Nah mungkin penulis artikel sebelum ini cuma berorientasi pada hasil bukan prosesnya. Yah ga ada masalah, ga semua mahasiswa harus jadi mahasiswa yg "Great". Menjadi "Good" juga sudah cukup baik. Tapi masalahanya kok hasilnya udah ada ehh masih kecewa juga. Ini maunya apa?
Beliau ini meminta seorang akademisi harus taat dengan pikiran, bukan dengan aturan. Tapi dalam tulisannya banyak hal yg mengarah kalau penulis ini tidak taat dengan pikiran, bahkan dengan pikiranya sendiri. Mari kita bedah!
Menurut beliau sang penulis pada artikel sebelum ini, bahwa aturan wajib menghadiri kelas perkuliahan adalah aturan tidak logis. Dia berpikir dia sudah membayar pihak kampus untuk memberikan dirinya pengetahuan. Perkara dia datang ke kelas atau tidak, itu bukan urusan pihak kampus. Kampus cuma menyediakan tata cara bagaimana dia sebagai mahasiswa terbutuhi kebutuhannya dalam mencari ilmu pengathuan. Nah di sinilah beliau ini tidak tunduk pada pikirannya.
Ketika kita sebagai mahasiswa sudah memutuskan untuk berkuliah pada suatu universitas, tentu kita percaya kepada kampus tersebut akan memberikan ilmu pengetahuan kepada kita. Oleh karena itu kita membayarkan sejumlah uang sebagai "barter" atas ilmu yg kampus berikan kepada kita.
Dalam memberikan ilmu pengetahuan kepada mahasiswanya, setiap kampus memiliki sistem & cara tersendiri. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan peraturan kehadiran mahasiswa di kelas. Jangan buru-buru juga mengecap aturan seperti ini adalah cara transfer ilmu pengetahuan beraroma represif. Bisa jadi ada maksud lain di dalamnya.
Seperti yg penulis artikel sebelum ini sarankan, sebaiknya kampus mengajak mahasiswa diskusi terkait pemahaman eksistensi dirinya. Yahh gimana mau diskusi kalau mahasiswanya enggak ada yg masuk ke kelas? Bisa jadi kan bahwa peraturan wajib presensi itu tujuannya utamanya adalah menghadirkan manusia sebanyak mungkin di kelas supaya ruang diskusi lebih luas karena banyak kepala yg terlibat. Kalau tidak ada "pemaksaan" kehadiran, justru kampus akan jadi sepi, tempat yg harusnya jadi ruang diskusi cuma jadi tempat mengerjakan UTS & UAS.
Jika merasa pintar cuma karena sanggup mengerjakan UTS & UAS, maka perlu kita kaji kembali fungsi dari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan sendiri adalah alat yg dipakai untuk mempermudah kehidupan kita. Dalam kehidupan kita, kita hidup berdampingan dengan banyak manusia lainnya. Maka pengetahuan yg paling utama bagi saya adalah bukan dapat mengerjakan UTS & UAS, tetapi bagaimana cara kita menghormati orang lain, bagaimana cara kita memperlakukan manusia lainnya.
Kehadiran di kampus bukan cuma sekadar kita memperoleh pelajaran dari dosen. Di sana kita belajar bagaimana menghargai seorang dosen yg jauh-jauh dari rumahnya ke kampus. Memang kita sudah membayar, tetapi yg kita bayar cuma ongkos bensinnya, makanannya, alat tulisnya, kita tak pernah dapat membayar pengalaman rasa yg dosen itu hinggakan kepada kita.
Saya sendiri berkuliah di kampus yg tidak mewajibkan kehadiran di kelas. Setiap hari mahasiswa yg hadir paling banyak 20 persen dari total mahasiswa di kelas. Saya dapat pastikan, saya termasuk dalam 20 persen itu. Bukan karena saya butuh nilai, wong beberapa mata kuliah kerap kali saya minta ke dosen supaya tidak meluluskan saya karena saya belum puas dengan proses belajarnya. Rumah saya terhitung juga paling jauh dari kampus dibanding mahasiswa lainnya. Secara pengetahuan juga saya berani beratruh saya akan masuk 5 orang terpintar di kelas saya, jadi bukan berarti saya dahaga ilmu pengetahuan sekali sehingga rajin ke kampus. Saya cuma sedang menikmati proses belajar. Enggak masalah banyak mengulang, bagi saya mengulang bukanlah hukuman. Mengulang yah mengulang, kaya kita baca buku terus baca lagi, sesimpel itu.
Kalau toh tidak setuju dengan aturan dosen, ajaklah dosennya berdiskusi. Mereka juga manusia dapat ngobrol juga. Ajak mereka ngobrol. Kalau anda pengen ada diskusi di kelas, coba anda pantik diskusi itu.
Baru-baru ini juga saya tidak mengerjakan tugas dari dosen yg menyuruh mahasiswanya menonton tayangan miliknya di channel Youtube miliknya juga. Saya tentu tidak setuju dengan tugas-tugas seperti itu. Tapi nanti kalau di akhir semester saya tidak lulus karena itu, nah di situlah saya debatin itu dosen, saya ajak diskusi. Kalau toh akhirnya buntu & memang harus mengulang yasudah saya mengulang saja & syukur-syukur di mata kuliah tersebut di semester depan dapatnya bukan dosen itu lagi.
Jadi begitu, kisanak. Kalau anda enggak suka sama peraturan, ajak ngobrol dulu pembuat peraturannya. Cari tau dulu tujuan peraturan itu dibuat. Bagaimana anda memimpikan ruang diskusi di kelas kalau anda saja takut memulai diskusi yg kaitannya dengan dirimu sendiri.
Tulisan ini ditulis oleh Fatio Nurul Efendi diCangkemanpada tanggal 9 Agustus 2022
Hari ini 08:46