Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Ngobrolin hutang pasti bingung balikinnya, maklum kalau gak kepepet ngapain juga kita berhutang. Belum lagi kalau terlilit hutang pinjol, duh serem deh cara nagihnya bikin bulu ketek merinding.
Tapi kalau yg hutang sebuah negara bagaimana? Apa alasannya mereka berhutang? Memgingat Indonesia kaya dengan alamnya, kenapa harus berhutang! Bukankah menjual hasil bumi keuntungannya sangat luar biasa?
Tapi bayangkan Indonesia saat ini hutangnya tembus hingga Rp 6000 triliun, itu kalau dibuat beli bakso semana ya? Dan menurut informasi Anggaran Pendapatan & Belanja Negara (APBN) 2022, kemungkinan akbar diperkirakan akan mengalami defisit hingga Rp 868 triliun atau 4,85% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Lalu perkiraan berapa utang setiap bayi yg lahir di Indonesia? Menurut hutang di tahun 2021,
Quote:
Dari total utang pemerintah sebesar Rp 6.418,15 triliun tersebut, beberapa akbar berasal dari utang lewat penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 5.580,02 triliun.
Sisanya di luar SBN, utang pemerintah berasal dari sumber pinjaman yakni sebesar Rp 838,13 triliun.
Terdiri dari pinjaman dalam negeri maupun pinjaman luar negeri yg meliputi pinjaman bilateral, pinjaman multilateral, commercial banks, & suppliers.
Sementara itu kalau diasumsikan dengan total keseluruhan jumlah penduduk Indonesia, maka setiap satu penduduk atau per kepala Warga Negara Indonesia (WNI) menanggung utang sebesar Rp 23,75 juta
Sumber kutipan https://money.kompas.com/read/2021/0...ung-rp-23-juta
Melihat data ini, maka banyak masyarakat Indonesia yg skeptis bagaimana mereka melihat data-data hutang yg semakin membengkak.
Padahal kalau mau jujur mayoritas bangsa ini ekonomi masyarakatnya dapat dikatakan baik-baik saja, dapat terlihat dari penggunaan smartphone atau otomotif yg semakin marak.
Namun terkadang, masyarakat kita masih suka mengeluh walau sebenarnya baik-baik saja. Nah dari keluhan ini ada beberapa orang yg harap pemerintah mencetak uang, atau Teori Moneter Modern (MMT).
Tentu hal ini ditolak oleh Pemerintah karena cetak uang itu biayanya mahal, lalu birokrasinya ribet, & memunculkan inflasi.
Maka jalan yg lebih mudah adalah dengan cara berhutang, karena selama ini itulah cara yg paling jitu untuk menjalankan prinsip ekonomi. Mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dari pengorbanan sekecil-kecilnya.
Ketika berhutang maka yg terjadi kita tidak mengeluarkan barang apapun, namun akan memperoleh keuntungan yg sebesar-besarnya.
Prinsip ini sama dengan mereka yg berbisnis & sukses, dimana kalau mau bisnis jangan pakai uang sendiri tetapi pakai uang orang lain.
Jadi apa yg mereka lakukan "Berhutang" jadi kalau ada pebisnis besar, belum tentu hutangnya kecil biasanya ikutan akbar juga hehehe...
Bahkan negara-negara majupun berhutang, tujuannya untuk apa membangun infrastruktur yg menguntungkan.
Bayangkan negara harap bangun infrastruktur, lalu mengandalkan kas negara! Kapan dibangunnya?
Lebih mudah dengan berhutang, lalu dibangunlah sarana transportasi dari uang hutang, selanjutnya akan ada keuntungan & profit itu dipakai untuk uang kas negara, untuk mengembangkan infrastruktur yg profit lainnya, lalu untuk bayar hutang. Bayangkan kalau infrastruktur itu jadi pemiliknya adalah negara sendiri bukan negara yg memberi pinjaman hutang.
Kalau ternyata infrastrukturnya bangkrut, atau gagal bayar bagaimana? Ya disita oleh yg meminjamkan hutang, apakah negara rugi? Rugi waktu, karena ketika disita yg mengelola tentu negara peminjam hutang, toh bangunnya juga dari uang mereka, dapat dibilang membangun bisnis infrastruktur tanpa modal hehehe...
Ini contoh pendapat saja, apakah kenyataannya seperti itu atau tidak, TS minim informasi karena hingga saat ini tidak ada infrastruktur Indonesia yg disita.
Tapi hal ini dialami oleh negara Uganda,
Quote:
Karena kegagalan pemerintah Uganda untuk membayar kembali pinjaman, China melalui bunk Ekspor-Impor China, & diketahui sebagai bunk Exim, sudah mengambil alih Bandara Internasional Entebbe Uganda & aset lainnya.
Sumber kutipan https://zonapriangan.pikiran-rakyat....membayar-utang
Tapi tujuan negara perlu danang, memang banyak ragamnya. Jadi tak sesimple contoh diatas, karena nominal hutang yg akbar itu logikanya dipakai untuk apa? Kalau untuk mencari keuntungan dengan proyek pemerintah yg memberikan banyak investasi, sah-sah saja. Tapi kalau dipakai untuk yg kurang menguntungkan, ini yg jadi masalah.
Biasanya pemerintah negara berkembang berhutang untuk mensubsidi rakyatnya, membangun infrastruktur, atau menciptakan bisnis yg dikelola BUMN. Nah, terlihat berhutang untuk subsidi ini yg jadi masalah.
Sedangkan kalau pemerintah mencabut subsidi, ini dapat jadi kesempatan buat oposisi untuk membakar amarah rakyat untuk demo berjilid-jilid. Bayangkan bensin murah itu subsidi, klinik kesehatan murah itu subsidi, gas murah itu subsidi, biaya pendidikan murah itu subsidi. Berapa biaya yg harus dikeluarkan negara untuk subsidi, karena tidak mengikuti harga pasar dunia.
Maunya pemerintah itu, subsidi dicabut, membangun infrastruktur, & menciptakan bisnis seperti pabrik, perkebunan & lainnya untuk menyerap SDM dengan memanfaatkan SDA tapi, pertanyaannya mau ga, masyarakatnya?
Ga mau, maunya subsidi & masa bodoh dengan proyek lainnya. Karena tipikal orang Indonesia manja & sikapnya apatis.
Jadi mau tak mau negara akan berhutang terus, entah hingga kapan!
Terima kasih yg sudah membaca thread ini hingga akhir, bila ada kritik silahkan dihinggakan & semoga thread ini bermanfaat, tetap sehat & merdeka. See u next thread.
"Nikmati Membaca Dengan Santuy"
--------------------------------------
Tulisan : c4punk@2022
referensi : klik, klik, klik, klik
Pic : google