Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Hai Gan Sis, apa kabar ... sepertinya kalian akan terbiasa dengan ocehan-ocehan opini ane yg agak-agak gimana gitu temanya wkwkkwk, moga aja ga mual.
Kali ini ane mau ngebahas tentang fenomena gadis 18+ yg demen hidup bebas tanpa aturan, tetapi loyal pada satu pasangan.
Dulu saat Ane tinggal di Bali tahun 97, banyak tetangga-tetangga kost yg tidak kerja tetapi hidupnya enak. Kalau Ane harus berangkat Subuh kadang pulang gelap, karena jualan tiket di terminal. Itu pun uang cuma cukup buat makan sama senang-senang dikit. Tapi mereka yg tinggal di kamar saja, kok dapat hidupnya bahagia terus.
Usut punya usut, tiap hari Jumat-Sabtu-Minggu mereka bakalan tinggal dengan pasangan bule mereka. Pasangan tanpa perkawinan tetapi semua biaya hidup mereka ditanggung si bule. Syaratnya mudah cuma menemani mereka saat weekend. Saat itu tahun 1997, uang seratus ribu lumayan berharga. Jualan tiket saja Denpasar-Surabaya masih 45.000.
Sementara mereka perharinya dijatah 100.000, artinya tiap hari Senin pagi saat kembali ke kost, mereka dapat uang sekitar 700-1juta. Siapa tidak tergiur dengan uang segitu banyak? Mirisnya rata-rata mereka berumur 18-22 tahun, berkulit sawo matang. Kecantikan itu relatif di mata para penikmat sex. Hal positifnya mereka bukan type yg suka berganti-ganti pasangan alias setia.
Samen leven atau bahasa kerennya kumpul kebo, itu sudah dari jaman dahulu kala terjadi. Tapi tergantung daerahnya juga sih, kan tidak ada aturan dari RT atau RW tentang apa pekerjaannya atau cari nafkahnya dengan cara bagaimana. Dan mereka rata-rata datang merantau ke Bali untuk kerja baik-baik awalnya, mungkin salah pergaulan, tergiur kemewahan makanya rela lakukan apa pun.
Nah di jaman sekarang ini, dengan tekhnologi yg makin canggih. Mereka para gadis & para bule, berkenalannya lewat internet. Sang gadis yg mungkin di kampungnya tidak ada yg suka karena standart kecantikan pria rata-rata putih, langsing juga cantik. Saat berjumpa pria yg menerima keadaannya dengan kulitnya yg sedikit gelap juga kecantikan versi mereka, sang gadis pun akan merasakan kebahagiaan walau pun semu. Memang tidak semua pria bule main-main, ada beberapa yg serius. Tapi karena memang kebiasaan dari negaranya hidup bersama tanpa ikatan itu biasa saja, ya mau tidak mau si gadis harus mengikuti.
Demi uang, atau kebebasan, atau kepuasan? mereka pun seperti terbuai tipu daya kenikmatan dunia. Mereka yg dulu terlihat polos sekarang berani memakai bikini bahkan posting di sosial medianya, dengan bangga memperkenalkan kekasihnya. Jika dulu tahun 97 saja, banyak bule yg dapat memberi uang jajan segitu besar, apalagi sekarang? Makanya jangan heran kalau anak-anak gadis tanpa kerjaan tetapi dapat bergaya mewah, sudah dapat dipastikan ada sumber airnya.
Kenapa mereka lebih memilih bule? Mungkin karena cara pandang mereka beda dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Juga kebebasan yg diberikan oleh pria-pria bule dalam hal berpakaian mungkin, atau clubing. Hal yg banyak tidak disadari oleh gadis-gadis 18+ ini. Saat dia terbiasa dengan pria bule, uang melimpah & tiba masanya usia makin bertambah, tidak ada lagi yg melihat kemolekan tubuhnya karena semakin menua. Semuanya cuma tinggal penyesalan.
Demikian cuap-cuap ane, semoga semuanya dapat jadi pelajaran. Dan keluarga kita dijauhkan dari tipu-tipu dunia.
Foto google
Sumber opini pribadi Hari ini 19:02