Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Assalamu'alaikum, selamat malam, Agan & Sista. Semoga malam ini Agan & Sista sering berada dalam lindungan Allah Swt., aamiin. Teruntuk anda yg sedang galau, semoga segera kembali bersemangat & ceria. Aamiin. Teruntuk yg sedang terkena musibah banjir di Makassar & sekitarnya, tetap bersabar & jaga kesehatan serta keselamatan keluarganya. Semoga Allah segera mengangkat musibah yg diberikan kepada kita. Sekiranya musibah itu Allah kirimkan untuk mengingatkan kita supaya senantiasa memohon proteksi kepada-Nya, karena apalah kita ini tanpa-Nya.
Hem, tidak seperti sebelum-sebelumnya, kali ini saya mau sedikit keluar dari zona review buku. Kali ini, saya mau bahas tentang motivasi sekaligus curhat kayaknya. Berhubung kali ini saya lagi ngerjain tesis yg bahas tentang itu. Jadi, sekalian saja dibuatkan di sini juga, biar otak enggak terasa penuh. Oh iya, minta doanya, ya, semoga pendidikanku kali ini berjalan lancar & baik-baik saja.
Ya, akhir-akhir ini saya sering banget dengar orang yg mengatakan, "Perempuan, kok pendidikan terus? Nanti calonnya insecure, loh." Kalimatnya enggak sering demikian, sih, tetapi maknanya mengarah ke sana. Enggak sekali dua kali saya dapati kalimat seperti itu.
Ya, awalnya memang agak nyesek, ada rasa tidak terima & sebagainya. Tetapi lama-lama jadi santai & tidak peduli sama apa yg orang lain katakan, toh ... perjalanan ini saya yg lalui. Aku yg rasakan & saya juga yg tahu, mana yg menciptakanku merasa nyaman & aman.
Kalau ada yg bilang, "Kan, sudah sarjana. Ngapain lanjut lagi? Kamu itu perempuan." Hem, ya kenapa kalau saya perempuan? Toh, saya juga punya hak yg sama dengan laki-laki untuk memiliki pendidikan. Lagi pula, enggak semua perempuan punya kondisi yg sama. Ada perempuan yg keluarganya adalah penganut nikah muda, ada yg keluarganya anti dengan nikah muda. Target usia menikah ada, tetapi nanti setelah puas dengan dunia pendidikan, setelah puas menjelajahi pekerjaan, mencari pengalaman & sebagainya.
Tidak sedikit perempuan yg memiliki keluarga yg menentang nikah muda. Alasannya, ada banyak ditemui di lingkungan tempat tinggalnya yg nikah muda, tetapi cuma bertahan 3 bulan & selesai. Terus, setelah itu sering menyudutkan yg memilih untuk fokus pendidikan & cari pengalaman di usia yg sama dengan si dia yg sudah bercerai di usia mudanya. Selalu berkata, "Emang beda kalau orang beruang & cerdas dengan yg enggak."
Menjawab hal ini, saya jadi pengin nulis di sini tentang apa yg bikin saya di usia sekarang, saat teman-temanku sekolahku silih berganti sebar undangan & saya masih semangat untuk terus belajar & berjuang di dunia pendidikan, dunia kampus. Di antara alasan yg menciptakanku termotivasi ada beberapa.
1. Aku Bukan Anak Orang Kaya/Berduit
Ya, kehidupan kami awalnya untuk makan nasi 3x sehari itu susah sekali. Aku masih ingat, di masa kecil, saya kadang hingga enggak dapat bangun dari tempat tidur, bahkan buat balik badan juga sudah tidak kuat karena lapar yg teramat. Di masa seperti itu, siapa yg peduli? Hidup jauh dari keluarga, kebetulan Ibu adalah orang Jateng yg diboyong sama Ayah ke Sulawesi dengan kondisi yg ternyata jauh dari kota, di pelosok sana. Hidup di kebun, tanpa tetangga, tidak ada yg peduli kami hidup bagaimana.
Orang-orang banyak yg meremehkan, hingga lulus SMA, orang-orang sering menganggap saya gak akan dapat kuliah & akan langsung menikah. Tapi tidak, saya punya mimpi. Di kepalaku bukan cuma tentang nikah. Aku belajar dari pengalaman orang tua yg sudah susah, sering diremehkan karena tidak punya uang, tidak punya pendidikan, & tidak punya keluarga. Bapak punya saudara di Sulawesi, tetapi anggap saja tidak ada karena kami bukan keluarga berduit.
Sekarang kan, orang cuma akan dianggap kalau ia punya uang banyak. Jadi, ya karena sering diremehkan & dianggap tidak mampu. Walau berat, saya sebagai anak sulung harus dapat jadi yg perdana untuk mengubah keadaan keluarga. Jadi, sekolah adalah salah satu cara yg menurutku paling nyaman, walau untuk biayanya harus berjuang keras. Meski kadang berbohong berkata masih punya uang buat makan yg sebenarnya tidak ada, tidak apa bagiku asal masih dapat membayar uang sekolah. Aku masih yakin, Allah tidak akan menciptakanku mati kelaparan selagi saya berusaha untuk mendapatkan rezeki halal. Entah dengan kerja freelance, ikut orang kerja serabutan, jualan apa pun yg dapat dijual, & sebagainya. Intinya harus sekolah, biar tidak lagi dianggap rendah.
2. Aku Anak Pertama
Sebagai anak pertama, walau saya terlahir jadi seorang anak perempuan, tetap saja beban di pundakku berat. Aku harus dapat memberikan contoh yg baik untuk adik-adikku. Aku harus dapat sekolah terus, supaya adik-adikku juga tidak memilih putus sekolah karena alasan biaya. Aku harus dapat memperlihatkan semangatku ke mereka, supaya mereka juga mau berjuang bersama.
Kami bukan anak orang kaya yg kelak bakal punya harta warisan. Kami cuma akan dapat warisan ilmu, kalau kami mau berusaha bersungguh-sungguh untuk belajar & sekolah. Hanya itu yg kami dapat.
Kalau saya mengeluh & bilang mau nyerah, adik-adikku juga akan berhenti. Jadi, tidak ada alasan bagiku untuk berhenti hingga semua adikku dapat selesai dengan pendidikannya & dapat menggapai cita-citanya juga.
3. Kaluarga Bukan Penganut Sistem Nikah Muda
Jadi, di keluarga akbar dari pihak Ibu & keluarga terdekat dari pihak Ayah sama-sama tidak mau kalau kami menikah sebelum usia benar-benar matang atau sudah selesai dengan pendidikan. Di lingkungan kami sudah terlalu banyak yg seumuranku, nikah muda terus cerai. Padahal usia perkawinan mereka bahkan ada yg belum hingga 1 tahun.
Keluarga tetap memberi target batas maksimal untuk masa pendidikan, terus kerja atau mencari pengalaman apa pun setelah masa pendidikan sebelum memutuskan untuk menikah. Jadi, kami tidak akan terkekang dengan pertanyaan kapan nikah dari keluarga. Kami cuma akan terkekang dengan permintaan melanjutkan pendidikan, akan ke mana, rencana mau kerja apa setelah selesai.
Nikah adalah urusan belakang, toh kalau jodoh akan berjumpa juga. Allah punya caranya tersendiri untuk mempertemukan kami dengan dia yg akan jadi jodohmu kelak. Pendidikan bukan penghalang seseorang untuk menemukan jodohnya. Kalau soal insecure, ya semua orang insecure pada hal yg berbeda. Tapi, emang insecure-nya seseorang itu harus jadi tanggung jawab kita? Enggak, kan? Itu urusan pribadi dia dengan dirinya & pikirannya. Memang kenapa dia harus insecure? Toh, kita sama-sama manusia, sesama ciptaan Allah, & mungkin juga sama-sama makan nasi, selama dia orang Indonesia. #Eh
Kurasa segitu saja curhatan & celotehku malam ini. Capek juga ngetiknya, tetapi rasanya sedikit lega setelah menuliskannya di sini. Itu ceritaku tentang kenapa saya bersemangat untuk terus bersekolah & mengejar apa yg kuharapkan.
Tulisan ini enggak ada niat untuk menciptakan orang berpendapat pro & kontra, ini murni mengeluarkan uneg-uneg yg kalau dipendam terus, rasanya kepala akan meledak. Sekian & terima gaji. Wassalamu'alaikum. Selamat malam.
Adiva Azzahra,
Gowa, 13 Februari 2023.
Opini pribadi
Kemarin 21:42Gowa, 13 Februari 2023.
Opini pribadi