• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Kenapa Diskusi Selalu Dipandang Lebih Baik daripada Debat?

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Kenapa Diskusi Selalu Dipandang Lebih Baik daripada Debat?


Cangkeman.net -Kata salah satu filsuf klasik, yaitu Aristoteles, manusia itu adalahzoon politicon, atau pengertian umumnya: Manusia itu dikodratkan untuk berinteraksi satu sama lain. Perihal interaksi ini tentu tidak lepas dengan yg namanya pemahaman. Tujuan inti dari berinteraksi itu sendiri tidak lain ialah untuk menerima pemahaman dari subjek atau komunikator, supaya kemudian terjalin pola hubungan sosial.

Meskipun perkara interaksi ini sekilas sederhana, tetapi ia memiliki aspek-aspek yg kompleks dalam praktiknya. Banyak problem-problem pada entitas interaksi yg kadang kala nggak menjadikan pola hubungan sosial, tetapi malah menimbulkan pola perpecahan sosial. Hal itu memang sesuatu yg lazim untuk eksistensi manusia: Kesalahpahaman maupun disparitas pendapat. Namun, juga jadi perlu dibahas apabila perkara interaksi ini masih pekat dengan kerancuan pemahaman.

Seperti halnya perkara berdebat & berdiskusi yg selama ini masih dipahami orang-orang secara salah kaprah. Kesalahpahaman yg tersemat pada kedua istilah itu saya pikir sudah di taraf hiper klise, yaitu yg katanya kalau berdiskusi itu berarti baik, sedangkan kalau berdebat berarti buruk. Padahal, dalam literatur komunikasi & metodologi pembelajaran, keduanya itu sama-sama baik; sama-sama menyediakan proposisi yg baik untuk interaksi manusia.

Mengenal Apa itu Berdebat & Berdiskusi
Dilansir dari Zenius.net, ada disparitas antara berdebat & berdiskusi, berdebat ialah kegiatan menyampaikan argumentasi antar dua orang atau kelompok, dengan bertujuan mencari argument mana yg paling benar. Sedangkan diskusi, adalah kegiatan pertukaran pendapat kepada suatu topik, dengan bertujuan mencari titik temu atas sebuah masalah yg dihadapi.

Senada dengan itu, seorang pakarlinguistic, Henry Guntur Tarigan menyatakan bahwa berdebat adalah suatu kegiatan saling beradu argumen antar pribadi atau kelompok untuk menentukan baik & tidaknya suatu usulan tertentu yg didukung oleh suatu pendukung & disangkal oleh penyangkal. Sedangkan berdiskusi menurut penulis buku Pendidikan guru, Uzer Usman, diskusi ialah proses yg melibatkan sekelompok orang dalam interaksi dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan atau pemecahan masalah.

Dari berbagai macam pengertian di atas, kita dapat ambil kesimpulan bahwasannya diskusi & debat memang berbeda, tetapi keduanya sama, yaitu sama-sama berorientasi pada integrasi pengetahuan. Diskusi tarafnya lebih ke arah afirmatif & kerja sama, sedangkan debat tarafnya ke arah penegasian nalar logika tentang suatau pengetahuan yg dirasa kurang tepat. Dengan begitu, apakah debat masih terkesan buruk daripada diskusi?

Perbandingan antara Berdiskusi & Berdebat
Perihal debat ini sama halnya dengan apa yg disebut dialektika. Filsuf seperti Hegel menjelaskan tentang epistemology atau teori pengetahuan, bahwa pengetahuan dapat didapat melalui dialektika, yaitu metode penalaran logika yg terdiri dari tesis (pengiyaan), antithesis (pertentangan), & sintesis (penyusunan). Hegel berpendapat begitu utamanya berangkat pada anggapan bahwa sebenar-benarnya pengetahuan itu haruslah diuji dengan pengetahuan yg lainnya, supaya hingga pada konklusi yg sempurna.

Bila balik pada tentang berdiskusi & berdebat, kedua hal itu kan, merupakan metode untuk memperoleh pengetahuan. Hanya saja berdiskusi terkesan baik karena konsepnya yg cenderung tidak mendekonstruksi atau menghargai sebuah pendapat. Tapi, pada intinya antara berdebat & berdiskusi itu sama-sama untuk memperoleh pengetahuan.

Berdebat kalau ditelaah lebih lanjut sebenarnya lebih efisien & efektif karena ia tidak cuma memperoleh pengetahuan, melainkan juga untuk memperoleh penguatan penalaran logika akan pengetahuan. Berbeda tipis dengan diskusi, ia lebih kuat pada penampungan pendapat ketimbang penguatan nalar. Mungkin, dari sini juga dapat dikatakan kalau berdebat itu termasuk ke dalam diskusi, tetapi berdiskusi belum tentu termasuk berdebat.

Stigmatisasi tentang Berdebat
Kesalahpahaman tentang berdebat ini kerap kali muncul di berbagai situasi: Di sosial media seperti di TikTok, pernah ada konten yg menarasikan bahwa perdebatan cuma menimbulkan perpecahan; perdebatan cuma mencari pembenaran, bukan kebenaran; perdebatan menciptakan orang jadi kolot, nggakopen minded; berdebat menghasilkan pembicaraan yg nggak sehat. Stigma-stigma semacam itu yg kemudian menciptakan orang-orang di luar sana sering menghindar ketika berjumpa dengan istilah perdebatan.

Kesalahpahaman semacam itu tidak lain karena penalaran logika mereka tentang perdebatan yg bersifat pragmatis. Memang tak ayal, perdebatan sering menggambarkan kedua orang atau kelompok yg saling ngotot, terkesan nggak mau kalah, & sering mencari cara untuksurvivedari belenggu kemacetan argumen. Tetapi, bukan berarti hal itu lantas disimpulkan sebagai kegiatan interaksi yg nggak sehat, kita harus benar-benar tahu dulu secara kritis tentang konsep yg tersemat pada istilah debat. Toh, kalau misalnya memang berdebat itu kegiatan yg nggak sehat, lalu mengapa ia masih ada hingga sekarang sebagai judul pola hubungan sosial? Bahkan sekelas institusi Pendidikan pun masih kerap mengadakan lomba perdebatan.

Mengembalikan Makna Debat dari Stigma Sosial
Jadi, stigma-stigma tentang perdebatan tadi yg katanya menghasilkan kekolotan, nggakopen minded, menjadikan pembicaraan yg tak sehat, itu semua menurut saya adalah anggapan dari orang-orang yg belum sanggup melihat pembicaraan yg berorientasi pada pengetahuan. Mereka yg menganggap berdebat itu buruk berarti masih pongah dengan pendapatnya sendiri; pongah kepada dirinya sebagai makhluk yg dapat salah & dapat benar.

Kalau sebuah pendapat itu memang benar-benar benar, maka apa salahnya ia diuji di dalam perdebatan. Kan, juga jadi nilai plus apabila pendapat kita nantinya salah maupun benar. Ada banyak pelajaran juga yg diperoleh dari lawan debat, termasuk dalam hal penalaran & pengetahuan. Yang menjadikan perdebatan itu seolah menyakitkan & buruk, itu ya karena kita nggak percaya diri dengan penalaran kita sendiri; sebuah perbincangan tentang pengetahuan disandarkan pada sentiment, bukan pada argument.

Dalam hal ini bukan berarti saya memaksa teman-teman untuk sering berdebat, terserah mau pakai metode yg mana untuk memperoleh pengetahuan. Saya di sini cuma meluruskan logika orang-orang tentang berdebat yg sudah terstigmatisasi. Yang terpenting, antara berdebat & berdiskusi, sering ingat bahwa jangan hingga menyerang personal. Berdebat & berdiskusilah dengan baik, keduanya hanyalah alat, perkara baik ataupun buruk, itu tegantung dari bagaimana cara mainnya.


Tulisan ini ditulis oleh Achmad Fauzan Syaikhoni diCangkemanpada tanggal 29 September 2022
Hari ini 13:51
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.