Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Hayo adakah yg dalam hati ente semua bertanya tentang hal ini? Sebuah pertanyaan klasik "kenapa orang suka dugem?" Pasti yg bertanya seperti ini biasanya adalah orang yg tak pernah dugem, singkatan dari mengatakan dunia gemerlap.
Karena jawaban orang yg dugem biasanya serba klise, baik untuk have fun, seneng-seneng, cari hiburan, mengurangi stress & lain sebagainya.
Tapi sekarang kita masuk ke ranah sosiologis & psikologis, setidaknya kita bahas dalam koridor sains supaya lebih bermakna tidak cuma alasan klise.
Sebelum itu ane mau ceritakan sedikit suasana area dugem, biar ada imajinasi seperti apa tempat itu sesungguhnya.
Kalau anda ketempat dugem suasanya memang penuh hiruk pikuk, mirip pasar malam, dateng biasanya antara jam 08.00 hingga jam 10.00, tetapi harus pakai sepatu kalau tidak maka penjaga tidak memperbolehkan masuk. Lalu menunggu suasana ramai, lalu joget bersama-sama dengan ratusan orang, dimana lelaki & perempuan campur, keringet juga ikut nyampur, bau asap rokok, bau alkohol, lampu kerlap-kerlip dengan suara hentakan musik yg bikin jantung berdegup.
Biasanya 2-3 jam tubuh pun rehat & duduk di pinggiran, namun terkadang tempat duduknya udah penuh terpaksa deh berdiri belum lagi habis joged tentu haus, jangan harap dapat beli mineral gelas, kopi, wedang jahe, susu yg ada minuman beralkohol dengan harga yg tentunya cukup mahal.
Bayangkan Jack Daniel fire harganya diatas Rp 500.000an kalau Jack Daniel Gold harganya sekitar Rp 1,7 juta. Mau itu brand JW, Chivas, Woodford, & lainnya harganya sudah pasti ratusan ribu.
Bisa kebayangkan bila minuman itu untuk mabok bukan melepas dahaga! Kalau cuma seloki ya cuma angetin badan, minimal 2-3 botol baru dapat bikin teler. Berapa budget yg harus dikeluarkan?
Kenapa harus mabok, biar badan kembali lebih semangat, joget durasinya lebih lama, belum lagi kalau joget sambil mabok biasanya senggol kanan kiri ujungnya ditonjok orang, kadang ga sadar digerepe sama homo, apalagi kena muntahan orang lain, belum lagi pulang dalam keadaan mabok, apalagi bawa kendaraan sendiri efeknya dapat kecelakaan yg fatal di jalan, akan banyak juga masalah kalau kecelakaan itu menimpa orang lain.
Bayangkan bila ente mau jadi dugemers sejati, perjuangannya juga tidak mudah. Tapi kenapa mereka mau mengerjakan hal seperti itu?
Jawabannya, kita harus melihat teori kebutuhan Maslow!
Quote:
Pada 1943, seorang tokoh psikologi humanistik, Abraham Maslow memaparkan teori penting berkaitan dengan hierarki kebutuhan manusia diJurnal Psychological Review.
Menurut Maslow, seorang manusia harus memenuhi kebutuhannya yg paling rendah, barulah naik ke jenjang lebih tinggi, & seterusnya hingga ia dapat mengaktualisasikan diri.
Jadi tingkatan kebutuhan ada,
1. Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs)
2. Kebutuhan Rasa Aman (Safety/Security Needs)
3. Kebutuhan Sosial (Social Needs)
4. Kebutuhan Penghargaan (Esteem Needs)
5. Kebutuhan Aktualisasi Diri (Self-Actualization Needs)
Sumber kutipan https://tirto.id/teori-kebutuhan-mas...contohnya-gjrV
Jadi kalau kebutuhan seseorang tidak terpenuhi, otomatis ia akan menyimpang atau mencari pelampiasan.
Simplenya gini, ketika kebutuhan fisik terpenuhi seperti makan, minum, istirahat, materi & sebagainya lalu rasa kondusif sudah terpenuhi tetapi ternyata kebutuhan sosialnya tidak terpenuhi, seperti rasa dibutuhkan orang lain, kebutuhan untuk disayangi, memiliki pasangan, bersosialisasi di masyarakat, & sebagainya ini kurang atau tidak ada, maka ia akan melampiaskan ke arah lain seperti main game, olahraga & lainnya seperti mencari kesibukan hobi.
Tapi kalau gap nya terlalu tinggi, karena kebutuhan yg diatasnya itu sama sekali tidak ada maka pelampiasannya akan lebih akbar lagi seperti tempat dugem, narkoba & lainnya & inilah alasan yg masuk akal dalam ranah sosiologi.
Bayangkan perjuangan dugem itu tidak mudah, perlu keluar uang banyak, jadi dapat dikatakan secara fisik kebutuhan sudah terpenuhi, bahkan materi pun dapat dikatakan berlimpah. Namun ada kebutuhan yg tak terpenuhi atau kehidupannya dipenuhi kegagalan, maka alasan dugem jadi masuk akal.
Jadi karena adanya rasa ketidak bahagiaan maka dugem jadi pelampiasan. Kalau orang itu sudah bahagia mau miskin atau kaya, pelampiasan jenuh itu lebih ke hal yg simple yaitu seperti lihat hujan pikiranpun jadi tenang, adem & nyaman.
Orang yg bahagia itu tidak susah mencari pelampiasan bila sedang jenuh atau stres, bahkan main game yg itu & itu saja pun tidak masalah. Namun kalau orang yg bermasalah dalam hidupnya, pelampiasan hal yg simple seperti itu tidak akan masuk. Jadi secara psikologis orang yg bermasalah, dugem dapat jadi sarana untuk mencari kebahagiaan.
Terima kasih yg sudah membaca thread ini hingga akhir, bila ada kritik silahkan dihinggakan & semoga thread ini bermanfaat, tetap sehat & merdeka. See u next thread.
"Nikmati Membaca Dengan Santuy"
--------------------------------------
Tulisan : c4punk@2021
referensi : klik, klik
Pic : google