• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Kenangan Masa Kanak-kanak di Bulan Puasa

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Kenangan Masa Kanak-kanak di Bulan Puasa


#RamadanBerkah
forum the lounge

Disini saya akan menceritakan apa yg terjadi di masa lampau. Tepatnya ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Ada banyak kenangan manis yg pernah dirasakan ketika sedang bulan puasa. Dulu, di sekolah sering ada libur puasa. Kalau sudah dapat libur panjang seperti ini, biasanya kakek & nenek membuka rumahnya untuk ditempati oleh anak & cucunya menginap.

Mulai saja dari masa ketika duduk di bangku TK, saya belum tahu apa itu puasa, di TK pun tetap makan siang seperti biasa. Ketika itu saya heran, kenapa guru TK tidak ikut makan, katanya sedang puasa. Lalu di kelas 1 SD, guru kelas mengajak murid-murid untuk puasa. Mulailah kenal apa itu puasa.

Aku tinggal di kota Bandung sejak lahir. Kota yg ramai & menyenangkan dengan segala macam kegiatannya. Ketika itu tampak ada suasana yg berbeda ketika sedang bulan puasa, yaitu :

Spoiler for Perdagangan:
Kenangan Masa Kanak-kanak di Bulan Puasa

Sumber :Ultramanyos​


Sejak saat itu, tepatnya tahun 1995, perdana kali saya memperhatikan adanya kebiasaan orang-orang ketika bulan puasa. Mulai dari kelas 1 hingga kelas 6 SD, saya sudah melihat sebuah kepastian yg nyata, yaitu pedagang makanan yg meliburkan diri atau berubah jadi pedagang mainan untuk sementara.

Ketika itu, memang tidak ada yg menjual jajanan seperti biasa, yg ada hanyalah penjual mainan. Kalau pun ada yg menjual makanan & minuman, itu adalah warung-warung yg ada di sekitar sekolah. Warung-warung itu juga ikut menjual mainan.

Ada macam-macam mainan yg ditawarkan, tetapi saya tidak ingat apa saja namanya. Biasanya mereka menjual gasing, patung plastik, yoyo, gambar tempel, monopoli, ular tangga, ludo, bola tiup, gelembung sabun, hingga papan catur.

Setiap tahun, ada musimnya masing-masing. Misalnya tahun lalu patung plastik, tahun ini gasing, tahun depan gambar tempel. Bukan berarti mainan lain tidak ada. Selain mainan, ada pula yg menjual buku kecil, poster, & selembaran kertas yg berhubungan dengan pelajaran SD. Beberapa hari kemudian, sekolah diliburkan, pengajian pun lebih ramai dari biasanya.


Spoiler for Permainan santai:
Kenangan Masa Kanak-kanak di Bulan Puasa

Sumber :Wikipedia​


Entah pagi, siang, atau sore, anak-anak sering berkumpul di hari libur puasa untuk bermain bersama-sama. Permainan yg paling sering adalah permainan yg santai seperti permainan papan. Para pemain janjian untuk bermain di rumah seseorang, kemudian tuan rumah menyiapkan mainannya.

Permainan yg paling sering dimainkan adalah ular tangga, ludo, atau Monopoli. Ada pula yg suka main catur. Segala permainan yg menguras tenaga pasti diganti dengan permainan santai yg dapat dimainkan sambil duduk manis. Ada pula beberapa orang yg bermain di lapangan ketika hari mulai petang. Aku sendiri, kalau libur puasa, ya nonton TV atau main video game di rumah. Aku paling suka main PlayStation.

Kalau sudah azan magrib, pasti langsung pulang untuk makan di rumah masing-masing. Untuk anak-anak alim & rajin mengaji, mereka tidak bermain, tetapi mandi sore. Karena akan mempersiapkan hidangan berbuka puasa di masjid. Maka mereka harus wangi karena sesudah itu akan sembahyang bersama-sama.


Spoiler for Petasan:
Kenangan Masa Kanak-kanak di Bulan Puasa

Sumber :Jawa Pos​


Sudah jadi kebiasaan, kalau bulan puasa pasti banyak yg menjual kembang api. Mulai dari yg harganya murah, hingga yg harganya mahal. Warung-warung tetangga juga ikut menjual kembang api, tetapi yg harganya cukup murah.

Aku ingat pengalaman perdana main kembang api waktu saya masih kecil. Kebetulan waktu itu punya halanan rumah yg cukup luas untuk tempat bermain.

Malam hari pun masih ramai oleh anak-anak yg sedang bermain. Kami menyalakan kembang api batangan di dekat pagar rumah. Semua merasa bahagia melihat percikan api berwarna-warni. Kembang apiku yg panjang menyalakan kembang api pendek milik teman-temanku. Tentu saja adikku juga ikut bermain. Malam itu juga kami bermain dengan supervisi orang dewasa.

Acara kembang api ditutup dengan kembang api yg mirip air mancur. Memang tidak ada kembang api roket, tetapi malam itu sungguh indah. Kalau malam hari di bulan puasa, pasti ada orang yg sempat main kembang api.


Spoiler for Angpao:
https://dl.kaskus.id/cdn-2.tstatic.net/bangka/foto/bunk/images/uang-lama_20171025_134617.jpg
Sumber :Tribun News​


Di hari lebaran, berbagi angpao sudah menajdi kebiasaan. Jumlah angpao pun ditentukan oleh kekayaan pemberi & usia penerima. Semakin muda usia, maka semakin sedikit uang yg diterima. Tetapi kalau dianggap sudah besar, uang yg diterima semakin banyak. Aku tidak tahu bagaimana patokan sudah akbar itu. Pastinya kalau sudah lulus SMA, sudah jarang diberi angpao, karena sudah dapat mendapatkan pekerjaan & memberikan angpao kepada yg lebih muda.

Menurut pengalamanku sendiri, paman-bibi yg banyak uang memberi angpao yg isinya 10.000 - 20.000 Rupiah, kalau paman-bibi yg biasa saja memberikan angpao yg isinya 5.000 - 10.000 Rupiah. Sepupu yg sudah bekerja, suka kasih angpao diam-diam. Sedangkan kakek-nenek lebih sering membiayai makanan enak untuk acara Lebaran.

Biasanya paman-bibi menyediakan ketupat & opor ayam serta sedikit kue. Sedangkan kakek-nenek lebih banyak menyediakan kue-kue, minuman, & berbagai macam makanan ringan karena tamunya terus datang silih berganti.

Kapan lagi anak-cucu & saudara-saudara berkumpul di rumahnya ?


Cerita itu sering terjadi secara berulang-ulang hingga saya lulus SD. Meski demikian, hal yg terjadi memang tidak sering sama. Selama libur puasa, saya tidak sering tinggal bersama papa mama. Kadang-kadang di rumah kakek-nenek atau paman-bibi. Menghabiskan masa liburan bersama keluarga besar.

Hanya saja, saya dapat ikut memainkan mainan yg tidak saya punya bersama paman-bibi & saudara sepupu. Selain itu, saya pun dapat kesempatan untuk memainkan beberapa macam judul video game yg tidak saya punya.

Di hari lebaran, sudah pasti keluarga akbar berkumpul, makan enak-enak, & bagi-bagi angpao. Sudah pasti saling memaafkan & mengenang masa lalu.

Rinka Hari ini 13:55
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.