Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Kebebasan pers hari ini,
dapat kita lihat dari menjamurnya
media online & cetak.
Mulai dari yg legal hingga yg "abal-abal".
Seperti apa Faktanya?
Lompatan teknologi dewasa ini, menciptakan media massa yg awalnya terbit di koran saja, mulai bergeser ke media online supaya tidak ketinggalan jaman. Meskipun di beberapa media nasional masih bertahan menerbitkan koran harian. Seperti misalnya, Harian Kompas, Jawapos, atau yg lainnya.
Sementara itu, di era kebebasan pers justru menyisakan akibat negatif. Kondisi seperti ini dimanfaatkan oleh orang yg tidak bertanggung-jawab dengan menumpang atasnama pers. Sebut saja "Jurnalis Abal-abal" alias jurnalis/wartawan ilegal. Tentu hal semacam ini tidak diharapkan semua pihak, khususnya insan pers itu sendiri. Ulah mereka akan sangat mempengaruhi citra pers di mata umum. Pada akhirnya, jurnalis yg resmi ikut dapat getahnya.
Penampakan Jurnalis Abal-abal
Dalam aktivitasnya sebagai "orang pers", secara penampilan, mereka sering tampil menyerupai LSM. Berpakaian rapi, bersepatu, tas selempang, hp android "kentang". Dan biasanya mengpakai bahasa tegas seperti Polisi atau TNI, mungkin biar menambah wibawa.
Bahkan, dari segi pengetahuan pun mereka "abal-abal". Hal ini dapat dibuktikan pada hasil yg mereka anggap sebagai produk jurnalistik. Secara kaidah penulisan sangat amburadul, & menciptakan bingung pembaca. Sebenarnya, ini berita atau opini yg mereka muat? Cukup bermodalkan blog gratisserta id card, mereka sudah eksis mengaku sebagai insan pers. Padahal nama media yg mereka buat sangar itu, belum terdaftar di Dewan Pers Nasional.
Target Jurnalis Abal-abal
Salah satu kelebihan dari "Jurnalis Abal-abal" adalah dalam menentukan target. Tanpa analisis & cuma mendasar pada sumber yg mereka miliki, dugaan tak kuat tentang adanya kasus sensitif, maka disitulah mereka beraksi. Dan tentu targetnya adalah orang yg dapat di peras & di perdaya. Mulai dari RT, Kadus, Kades Muspika, Muspida, pengusaha, penerima bantuan, & bahkan orang kecil sekalipun.
Pada prakteknya, "Jurnalis Abal-abal" ini mengenyampingkan unsur objektivitas dalam mengerjakan peliputan berita. Dalam mengerjakan proses "86", mereka tidak bergerak sendirian, sedikitnya bertiga. Dilapangan, mereka mencecar target dengan pertanyaan seperti penyidik. Kemudian mengerjakan investigasi & pendalaman kasus, seperti yg dilakukan inspektorat atau jaksa. Dan setelah semua drama dianggap cukup, barulah muncul tawaran sejumlah uang sebagai tanda damai. Hebat, kan?
Cara Menyikapinya
Sebelum semua drama mereka dimulai, alangkah baiknya untuk menanyakan keabsahan jurnalis & medianya. Atau dapat mengecek di situs Dewan Pers Nasional. Jika dirasa mencurigakan, silahkan ditolak atau laporkan pada polisi. Biasanya, ancaman yg mereka pakai itu, pakai jurus "anda akan dilaporkan" atau "anda akan ditulis di media". Acuhkan saja, karena itu cuma gertakan untuk mendapatkan makan.
Sumber Gambar
Sumber Gambar
Sumber Gambar
Sumber Gambar Hari ini 07:23