yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Anggota Dewan komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bidang Pasar Modal, Nurhaida, Senin 17 Juni 2013, menyatakan bahwa kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi tidak akan berdampak langsung mengakibatkan keanjlokan harga saham-saham di pasar modal.
Menurut Nurhaida, kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi memang bisa mempengaruhi persepsi investor di pasar. Namun pandangan pasar terhadap fundamental perekonomian Indonesia masih baik.
"Harapan kami semua, termasuk investor, ingin semuanya berjalan dengan baik," ujar Nurhaida di kantornya, Jakarta.
Indeks harga di pasar saham, menurut Nurhaida, dipengaruhi mekanisme tarik menarik antara permintaan (demand) dan penawaran (supply).
Dampak lanjutan akibat kenaikan harga BBM bersubsidi, seperti lonjakan inflasi dan pelemahan nilai tukar mata uang, merupakan faktor yang tidak langsung mempengaruhi pasar.
Inflasi tinggi dan kejatuhan nilai tukar mata uang dampaknya memang bisa negatif terhadap laju pertumbuhan ekonomi. Kedua hal inilah yang bisa berdampak hantaman langsung pada pasar modal.
"Jadi tidak berarti pararel begitu BBM naik kemudian harga saham turun. Belum tentu juga, tergantung persepsi pasarnya. Nah itu persepsi pasar dipengaruhi banyak hal," kata Nurhaida.
Pasar modal Indonesia, Nurhaida melanjutkan, telah memiliki rangkaian kebijakan pemulihan untuk mengantisipasi atau meredam gejolak pasar yang mungkin terjadi.
"Jadi sudah ada prosedur operasi standarnya. Ketika pasar mengalami gejolak yang masuk dalam ketentuan kriteria untuk penyehatan, prosedur itu akan dilakukan," kata Nurhaida.