• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Kemenhub: Kami Tidak Melarang Aplikasi!

yan raditya

IndoForum Addict E
No. Urut
163658
Sejak
31 Jan 2012
Pesan
24.461
Nilai reaksi
72
Poin
48
Kementerian Perhubungan mengklarifikasi kekeliruan di masyarakat yang menyebutkan adanya pelarangan angkutan berbasis aplikasi.

Kepala Pusat Penerangan Kemehub JA Barata mengatakan, pelarangan tidak ditujukan kepada penggunaan aplikasi, melainkan aspek legalitas angkutan umum sesuai yang diatur dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

"Jadi yang dilarang bukan aplikasinya. Karena aplikasi juga sudah banyak dipakai kok sama taksi-taksi resmi. Tapi kalau aplikasi ini dipakai oleh sesuatu yang tidak berizin, tentu masalah," kata Barata kepada Kompas.com, Jumat (18/12/2015).

Terkait dengan aspek legalitas, Barata mengatakan bahwa kendaraan yang digunakan sebagai angkutan umum harus memiliki izin resmi yang ditandai dengan penggunaan pelat kuning.

Aspek tersebut tidak ditemukan pada layanin ojek berbasis aplikasi dan Uber.

Khusus untuk Uber, Barata menyatakan sampai saat ini layanin tersebut tidak pernah berusaha mengajukan izin sebagai angkutan umum.

Dalam menjalankan aplikasinya, mereka juga diketahui tidak menggandeng perusahaan taksi resmi, melainkan para pemilik mobil pribadi.

"Padahal sebuah operator angkutan harus punya izin resmi. Untuk menandakan mereka sudah memenuhi tangung jawabnya, seperti membayar pajak, melakukan uji kendaraan secara berkala, dan mengasuransikan penumpangnya," tutur Barata.

"Kalau tidak ada izin, tanggung jawabnya di mana? Kalau ada apa-apa, gimana?" kata dia lagi.

Terkait pelarangan ojek berbasis aplikasi, Barata menyatakan sepeda motor memang tidak direkomendasikan laik digunakan sebagai angkutan umum.

Ia menegaskan aturan tersebut sudah diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Menurut Barata, tidak diremomendasikannya sepeda motor sebagai angkutan umum disebabkan kendaraan tersebut memiliki tingkat kestabilan yang rendah.

"Dampaknya tentu saja ke penumpangnya itu sendiri," ucap Barata.

Ia memastikan peraturan yang sama berlaku terhadap ojek-ojek pangkalan. Meskipun demikian ia mengakui pihaknya mengalami kesulitan menindak ojek pangkalan.

Sebab, kata dia, secara kasat mata operasional ojek pangkalan tidak dapat dibedakan dengan penggunaan sepeda motor pada umumnya.

"Kita kan enggak bisa membedakan orang yang lagi berhenti di ujung gang itu (pengguna sepeda motor) lagi nunggu penumpang atau lagi nunggu adiknya," pungkas Barata.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.