Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Kaskus DeYudi69 -Meninggal dunia memang sudah jadi takdir dari semua manusia & makhluk hidup lainnya.
sumber gambar
Adalah suatu hal yg normal bila suatu saat kita akan berhenti bernapas, namun, tak ada yg tahu kapan dimana & bagaimana akan terjadinya kematian itu.
Salah satu faktor yg paling biasa penyebab dari sebuah kematian adalah usia yg sudah tua. Seiring bertambahnya usia, tak cuma tubuh kita saja yg ikut menua, sepertinya jiwa kita pun akan letih berada dalam wadah yg lemah.
Dalam benak ane sering memikirkan, kematian itu sebuah anugrah atau sebuah musibah.
Melihat dari realita yg terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat, maupun membaca sejarah & cerita turun temurun di setiap wilayah yg kian melegenda, ane rasa kematian memang seperti pisau bermata dua.
Di satu sisi, maut membawa musibah, namun bagi beberapa orang kematian yg damai adalah sebuah anugrah.
Kenapa ane katakan demikian? Karena memang seperti itu yg ane lihat secara langsung di masyarakat.
Kematian itu akan dianggap musibah apabila merenggut banyak nyawa yg tak berdosa, misal terjadi karena tanah longsor, banjir bandang, tsunami, maupun akibat dari ledakan bom bunuh diri. Tak terkecuali pandemi Covid-19.
Lalu, kematian yg bagaikan sebuah anugrah terindah dari Tuhan itu yg seperti apa?
Bertepatan dengan bulan Agustus yg jadi bulan kelahiran NKRI, bayangan ane terlintas ke masa lalu, dimana saat masa penjajahan Belanda & penjajahan Jepang, banyak para pribumi yg jadi tenaga kerja paksa tanpa diupah sepeserpun yg mana lebih tepatnya sudah seperti budak, kerja Rodi, kerja Romusha, bahkan para gadis & perempuan dijadikan sebagai jugun ianfu (budak perempuan pada masa penjajahan jepang).
sumber gambar
Ane dapat merasakan, betapa beratnya penderitaan mereka para pendahulu kita, mungkin dalam benak mereka sempat terbersit, lebih baik mati saja meregang nyawa dari pada harus disiksa belama-lama hingga pada akhirnya mati jua. Kematian yg singkat & tanpa rasa sakit sedikitpun.
Semoga para pejuang kemerdekaan & para pendahulu kita yg sudah gugur dalam mempertahankan tanah kelahirannya dari para penjajah mendapat tempat yg terbaik di sisiNya.
Satu lagi hal yg ane saksikan secara langsung, bagaimana kematian itu adalah sebuah anugrah terindah dari Tuhan, dimana, seorang nenek yg sudah tua renta tergeletak begitu saja di tempat tidur tanpa sanggup berbuat banyak hal, 95 persen bagian tubuhnya seolah sudah mati, yg
masih berfungsi cuma bagian leher & kepalanya saja, sedangkan bagian dada ke bawah sudah seperti tulang terbungkus kulit saja. Ane tak harap membuka bukti diri aslinya, namun ane cuma harap memetik hikmah dari apa yg sudah ane lihat.
Selama kurang lebih 10 tahun tersiksa berada di tempat tidur & sesekali duduk di kursi roda, akhirnya nenek itu mengembuskan napas terakhirnya, itu pun dengan anugrah dari Tuhan Sang Pemilik Kehidupan.
Konon, sang nenek mempelajari suatu ilmu negatif, & juga pengelaris dagangannya dengan cara datang ke rumah oknum dukun berilmu hitam.
Mungkin sesuatu berkekuatan astral yg tertanam di dalam tubuh sang nenek yg sudah mengikat rohnya pada tubuh yg sudah usang yg juga kemungkinan termakan oleh benda astral tersebut, yg mana benda berkekuatan astral tersebut merupakan pemberian dari oknum dukun berilmu hitam yg dahulu sang nenek datangi.
Sampai akhirnya, dengan bantuan daun kelor & air suci yg sudah dimohonkan anugrah dari Tuhan melalui lantunan doa suci, sang nenek pergi ke alam yg sudah sepatutnya.
Air suci & daun kelor itu diminumkan & diperpakai untuk membasuh sekujur tubuh sang nenek.
Mengingat kematian sebagai pengingat kita dalam berbuat itu tidaklah salah, dengan begitu sudah sepatutnya kita menyiapkan diri dalam menghadapi kematian.
Yang perlu kita persiapkan bukanlah uang, emas, atau apa pun itu kemewahan yg bersifat duniawi, namun, amal & perbuatan baik kita semasa hidup. Apa saja yg sudah kita perbuat selama ini? Coba renungkan!
Saat kita meninggal kelak, kita tak akan membawa semua kenikmatan duniawi, melainkan membawa karma yg kita ukir dalam urat nadi semasa kita hidup.
Ane sendiri semasa hidup ini tak pernah sekalipun melihat seperti apa itu surga, maupun seperti apa itu neraka, namun ane yakin, alam baka itu ada.
Bila tak ada alam baka lalu kemana perginya ruh yg menciptakan semua makhluk hidup itu tetap bernapas semasa hidupnya?
Semoga thread ane kali ini dapat jadi renungan kita bersama dalam menjalani hidup, yg memang ada kalanya kita merasa bahagia bagai di surga, & ada saatnya kita merasa putus asa bagai di neraka.
Sampai jumpa lagi di thread ane selanjutnya ya, ane sendiri juga manusia kotor yg tak luput dari dosa, namun, jangan lupa untuk sering berbuat kebaikan, sekecil apa pun itu.
Baca Juga : Resep Mudah Membuat Sayur Kelentang
Penulis : DeYudi69
Sumber referensi : opini pribadi & disini, disini, disini, disini
Hari ini 00:09
sumber gambar
Adalah suatu hal yg normal bila suatu saat kita akan berhenti bernapas, namun, tak ada yg tahu kapan dimana & bagaimana akan terjadinya kematian itu.
Salah satu faktor yg paling biasa penyebab dari sebuah kematian adalah usia yg sudah tua. Seiring bertambahnya usia, tak cuma tubuh kita saja yg ikut menua, sepertinya jiwa kita pun akan letih berada dalam wadah yg lemah.
Dalam benak ane sering memikirkan, kematian itu sebuah anugrah atau sebuah musibah.
Melihat dari realita yg terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat, maupun membaca sejarah & cerita turun temurun di setiap wilayah yg kian melegenda, ane rasa kematian memang seperti pisau bermata dua.
Di satu sisi, maut membawa musibah, namun bagi beberapa orang kematian yg damai adalah sebuah anugrah.
Kenapa ane katakan demikian? Karena memang seperti itu yg ane lihat secara langsung di masyarakat.
Kematian itu akan dianggap musibah apabila merenggut banyak nyawa yg tak berdosa, misal terjadi karena tanah longsor, banjir bandang, tsunami, maupun akibat dari ledakan bom bunuh diri. Tak terkecuali pandemi Covid-19.
Lalu, kematian yg bagaikan sebuah anugrah terindah dari Tuhan itu yg seperti apa?
Bertepatan dengan bulan Agustus yg jadi bulan kelahiran NKRI, bayangan ane terlintas ke masa lalu, dimana saat masa penjajahan Belanda & penjajahan Jepang, banyak para pribumi yg jadi tenaga kerja paksa tanpa diupah sepeserpun yg mana lebih tepatnya sudah seperti budak, kerja Rodi, kerja Romusha, bahkan para gadis & perempuan dijadikan sebagai jugun ianfu (budak perempuan pada masa penjajahan jepang).
sumber gambar
Ane dapat merasakan, betapa beratnya penderitaan mereka para pendahulu kita, mungkin dalam benak mereka sempat terbersit, lebih baik mati saja meregang nyawa dari pada harus disiksa belama-lama hingga pada akhirnya mati jua. Kematian yg singkat & tanpa rasa sakit sedikitpun.
Semoga para pejuang kemerdekaan & para pendahulu kita yg sudah gugur dalam mempertahankan tanah kelahirannya dari para penjajah mendapat tempat yg terbaik di sisiNya.
Satu lagi hal yg ane saksikan secara langsung, bagaimana kematian itu adalah sebuah anugrah terindah dari Tuhan, dimana, seorang nenek yg sudah tua renta tergeletak begitu saja di tempat tidur tanpa sanggup berbuat banyak hal, 95 persen bagian tubuhnya seolah sudah mati, yg
masih berfungsi cuma bagian leher & kepalanya saja, sedangkan bagian dada ke bawah sudah seperti tulang terbungkus kulit saja. Ane tak harap membuka bukti diri aslinya, namun ane cuma harap memetik hikmah dari apa yg sudah ane lihat.
Selama kurang lebih 10 tahun tersiksa berada di tempat tidur & sesekali duduk di kursi roda, akhirnya nenek itu mengembuskan napas terakhirnya, itu pun dengan anugrah dari Tuhan Sang Pemilik Kehidupan.
Konon, sang nenek mempelajari suatu ilmu negatif, & juga pengelaris dagangannya dengan cara datang ke rumah oknum dukun berilmu hitam.
Mungkin sesuatu berkekuatan astral yg tertanam di dalam tubuh sang nenek yg sudah mengikat rohnya pada tubuh yg sudah usang yg juga kemungkinan termakan oleh benda astral tersebut, yg mana benda berkekuatan astral tersebut merupakan pemberian dari oknum dukun berilmu hitam yg dahulu sang nenek datangi.
Sampai akhirnya, dengan bantuan daun kelor & air suci yg sudah dimohonkan anugrah dari Tuhan melalui lantunan doa suci, sang nenek pergi ke alam yg sudah sepatutnya.
Air suci & daun kelor itu diminumkan & diperpakai untuk membasuh sekujur tubuh sang nenek.
Mengingat kematian sebagai pengingat kita dalam berbuat itu tidaklah salah, dengan begitu sudah sepatutnya kita menyiapkan diri dalam menghadapi kematian.
Yang perlu kita persiapkan bukanlah uang, emas, atau apa pun itu kemewahan yg bersifat duniawi, namun, amal & perbuatan baik kita semasa hidup. Apa saja yg sudah kita perbuat selama ini? Coba renungkan!
Saat kita meninggal kelak, kita tak akan membawa semua kenikmatan duniawi, melainkan membawa karma yg kita ukir dalam urat nadi semasa kita hidup.
Ane sendiri semasa hidup ini tak pernah sekalipun melihat seperti apa itu surga, maupun seperti apa itu neraka, namun ane yakin, alam baka itu ada.
Bila tak ada alam baka lalu kemana perginya ruh yg menciptakan semua makhluk hidup itu tetap bernapas semasa hidupnya?
Semoga thread ane kali ini dapat jadi renungan kita bersama dalam menjalani hidup, yg memang ada kalanya kita merasa bahagia bagai di surga, & ada saatnya kita merasa putus asa bagai di neraka.
Sampai jumpa lagi di thread ane selanjutnya ya, ane sendiri juga manusia kotor yg tak luput dari dosa, namun, jangan lupa untuk sering berbuat kebaikan, sekecil apa pun itu.
Baca Juga : Resep Mudah Membuat Sayur Kelentang
Penulis : DeYudi69
Sumber referensi : opini pribadi & disini, disini, disini, disini