roughtorer
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 44416
- Sejak
- 24 Mei 2008
- Pesan
- 6.755
- Nilai reaksi
- 175
- Poin
- 63
Kemarau
kau mungkin datang lagi
walau sekarang masih basah
kau tahu kau akan mengganas lagi
Coklat yang kurindu
mungkin akan tiba saat putus
walau mungkin terlalu dini
kemarau saat banjir dimana-mana
Kemarau
Mungkin aku akan mencari lagi
Atau mungkin aku akan menggantung lagi
atau mungkin aku akan mengerjap lagi
sesaat
untuk bangkit
dengan sayap baru
dengan busana hijau
dengan alas kaki dari baja
berwarna metalik jingga
yang mempesona kau
Kemarau
tidak kuharap datangmu
namun kau tahu kau akan kembali
mempersiapkan penyambutanmu
menyobek hati di dada
Namun jangan sesali
seandainya kemarau terjadi
kita berpisah
genggam cintaku
peluk rinduku
jalani saja
Semoga kemarau terlambat tahun ini
Terampil tak membatasi
angin utara membaur perih
diri….
Dan kamarau
Andai saja kau tak datang lagi
adakah hujan?
adakah angin?
adakah api?
adakah badai?
Sementara kenikmatan buta membutakan
sementara tawa menyiratkan tangis
Dan kenyataan tak sepahit yang manis
semantara manis ternyata getir
Diakah dalam pelukanmu malam ini?
Diakah yang mengawasi mimpimu saat memanggil namaku?
Atau aku hanya persinggahan
atau persinggahan ini memang untuk berlabuh?
Mampukah aku menghadapi kemarau kali ini
Bila dia datang
Dengan selaksa serdadau mara?
Apakah tungkai lenganku cukup kuat
untuk melindungi badan telanjangku
saat awan tak lagi bisa menaungi?
Atau mungkin aku akan dikerumuni semut
Atau burung nazar hitam yang mengharap aku adalah sesosok bangkai baru
Kemarau
Kengerian apa yang terlintas dibenakmu
hingga kau akan datang lagi
lagi dan lagi
Belum cukupkah azab menggores di pundakku
Belum dalamkah cukilan dagingku dengan pisaumu?
Mungkinkah ada yang masih tersisa
Saat banjir membersihkan semuanya
Keringat, sperma, darah…
Kalau kau datang kemarau
sempatkan membawa seikat kembang
tak perlu rose dolly parton
tak juga tulip dari belanda
bawa saja lily liar
aku suka liar
Mampukah merubah kemarau
kala dia datang dengan selaksa anak-anak mara?
Kala dia memamerkan muka bengis tanpa belas kasihan pada tubuh-tubuh lemah lunglai, pada jangkrik yang sekering kerupuk?
Kala dia menyadarkan aku bahwa kemarau sudah dekat.
Tak ingin habis sebelum sudah
Bersiap-siap, dosakah?
Kemarau pasti datang
tiket sudah ditangan
api sudah membara
mungkin hujan masih rindu
belai kasih bumi untuk bercumbu
Bila kau datang kemarau
semoga tak ada lagi air mata
kepada siapa aku berlindung
kau satu dunia
aku satu dunia
Kemarau
keputusan pahit
obat mungkin,
sepahit kenyataan
rapuh atas papan papan
penuh rayap
Rpt, 22 Februari 2008
kau mungkin datang lagi
walau sekarang masih basah
kau tahu kau akan mengganas lagi
Coklat yang kurindu
mungkin akan tiba saat putus
walau mungkin terlalu dini
kemarau saat banjir dimana-mana
Kemarau
Mungkin aku akan mencari lagi
Atau mungkin aku akan menggantung lagi
atau mungkin aku akan mengerjap lagi
sesaat
untuk bangkit
dengan sayap baru
dengan busana hijau
dengan alas kaki dari baja
berwarna metalik jingga
yang mempesona kau
Kemarau
tidak kuharap datangmu
namun kau tahu kau akan kembali
mempersiapkan penyambutanmu
menyobek hati di dada
Namun jangan sesali
seandainya kemarau terjadi
kita berpisah
genggam cintaku
peluk rinduku
jalani saja
Semoga kemarau terlambat tahun ini
Terampil tak membatasi
angin utara membaur perih
diri….
Dan kamarau
Andai saja kau tak datang lagi
adakah hujan?
adakah angin?
adakah api?
adakah badai?
Sementara kenikmatan buta membutakan
sementara tawa menyiratkan tangis
Dan kenyataan tak sepahit yang manis
semantara manis ternyata getir
Diakah dalam pelukanmu malam ini?
Diakah yang mengawasi mimpimu saat memanggil namaku?
Atau aku hanya persinggahan
atau persinggahan ini memang untuk berlabuh?
Mampukah aku menghadapi kemarau kali ini
Bila dia datang
Dengan selaksa serdadau mara?
Apakah tungkai lenganku cukup kuat
untuk melindungi badan telanjangku
saat awan tak lagi bisa menaungi?
Atau mungkin aku akan dikerumuni semut
Atau burung nazar hitam yang mengharap aku adalah sesosok bangkai baru
Kemarau
Kengerian apa yang terlintas dibenakmu
hingga kau akan datang lagi
lagi dan lagi
Belum cukupkah azab menggores di pundakku
Belum dalamkah cukilan dagingku dengan pisaumu?
Mungkinkah ada yang masih tersisa
Saat banjir membersihkan semuanya
Keringat, sperma, darah…
Kalau kau datang kemarau
sempatkan membawa seikat kembang
tak perlu rose dolly parton
tak juga tulip dari belanda
bawa saja lily liar
aku suka liar
Mampukah merubah kemarau
kala dia datang dengan selaksa anak-anak mara?
Kala dia memamerkan muka bengis tanpa belas kasihan pada tubuh-tubuh lemah lunglai, pada jangkrik yang sekering kerupuk?
Kala dia menyadarkan aku bahwa kemarau sudah dekat.
Tak ingin habis sebelum sudah
Bersiap-siap, dosakah?
Kemarau pasti datang
tiket sudah ditangan
api sudah membara
mungkin hujan masih rindu
belai kasih bumi untuk bercumbu
Bila kau datang kemarau
semoga tak ada lagi air mata
kepada siapa aku berlindung
kau satu dunia
aku satu dunia
Kemarau
keputusan pahit
obat mungkin,
sepahit kenyataan
rapuh atas papan papan
penuh rayap
Rpt, 22 Februari 2008