yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Kemarau panjang yang melanda sejumlah daerah, tidak hanya memicu puso, tapi juga "menyedot" air di puluhan waduk yang tersebar di seluruh Indonesia. Sedikitnya 10 waduk kering dan 42 lainnya dalam kondisi waspada, di antaranya tiga waduk besar di Jawa Barat.
Menurut Kapala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho, Jumat 7 September 2012, berdasarkan data dari Kementerian Pekerjaan Umum, dari 71 waduk di Indonesia, hanya 19 waduk yang kondisinya normal. Ini terlihat dari elevasi aktual muka air yang lebih besar dari normal.
Tiga waduk besar di Jawa Barat yang kondisinya waspada, di mana volume aktual permukaan airnya kurang dari normal, namun masih lebih besar dari siaga kekeringan, menurut Sutopo, adalah Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur. Di tiga waduk ini terdapat selisih 187,66 juta meter kubik dari kondisi normal.
Hal yang sama juga terjadi di Jawa Tengah, seperti Waduk Wonogiri, Cacaban, Rawapening, Gembong, dan Sudirman. Di Jawa Tengah terdapat 9 waduk normal, 20 waspada, dan 8 kering.
Waduk Sermo di DIY juga waspada. Demikian pula waduk Lahor, Sutami, dan Bening mengalami waspada. Total di Jawa Timur terdapat 7 normal, 13 waspada, dan 1 kering.
Sebanyak 10 waduk yang kering adalah Krisak, Plumbon, Kedungguling, Nawangan, Ngancar, Delingan, Gebyar, Botok, Prijelan, dan Gerogak. Sedangkan di Bali, dari 5 waduk yang ada, 4 waspada dan 1 kering.
Kondisi demikian menyebabkan pasokan air berkurang. Banyak faktor yang menyebabkan kekeringan terjadi setiap tahun. Selain faktor musim, yaitu antara lain kerusakan DAS, pencemaran air, minimnya kawasan hutan, sedimentasi waduk, dan lainnya. "BMKG sendiri memprediksikan kemarau hingga Oktober," kata Sutopo.
Selain waduk yang menyusut, kemarau juga menyebabkan 127.788 hektare lahan sawah yang puso.
Di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, selama tiga bulan terakhir ribuan hektare tanaman padi mati mengering. Dari total 11.585 hektare areal sawah di Manggarai, yang tanaman padinya rusak diperkirakan 1.200 hektare.
Sementara itu, yang tidak bisa ditanami padi sejak Juni lalu seluas 3.475 hektare. Sumber-sumber air persawahan juga banyak yang mati. Upaya penyelamatan tanaman padi sama sekali tidak bisa dilakukan. Ribuan petani dipastikan merugi dan gagal panen.
Kepala Dinas Tanaman dan Hortilkultura Kabupaten Manggarai, Vincen Marung, kepada VIVAnews mengatakan, kondisi itu terjadi akibat kemarau panjang yang sudah berlangsung selama tiga bulan. ’’Ini merupakan kemarau yang terpanjang dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, banyak sumber-sumber air persawahan mati," kata Vincen Marung.
Vincen mengatakan, upaya penyelamatan tanaman padi juga terkendala ketersediaan mesin pemompa air. Belum lagi sejumlah sungai yang mengering.
Jabar Siapkan Rp75 Miliar
Sementara itu, di Jawa Barat, Gubernur Ahmad Heryawan mengatakan, di wilayahnya kini menyatakan Siaga Kekeringan. Provinsi telah menganggarkan Rp75 miliar untuk mengantisipasi bencana kekeringan ini. “danang Rp75 miliar ini siap dicairkan kapan saja jika bupati dan walikota membutuhkan," katanya.
danang ini disiapkan salah satunya untuk menghindari Jawa Barat rawan pangan,” ungkapnya di sela kunjungannya ke KPU Kabupaten Cianjur, Jumat.
Ia menambahkan, beberapa kabupaten, kota telah mengajukan bantuan mengatasi kekeringan panjang ini. “Untuk nama kabupaten, kota, dan besarnnya saya tidak hapal. Tapi, sudah ada dan sudah dicairkan. Saat ini prosesnya cepat karena mekanismenya tidak sulit seperti dulu,” katanya.
Heryawan juga mengatakan, pihaknya terus memantau dan berkoordinasi dengan semua badan terkait untuk mengatasi kekeringan ini. Termasuk upaya pembuatan hujan buatan yang tengah dipersiapkan sebagai langkah mengurangi dampak kekeringan dan persiapan penanaman akbar padi di Jawa Barat.
Menurut Kapala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho, Jumat 7 September 2012, berdasarkan data dari Kementerian Pekerjaan Umum, dari 71 waduk di Indonesia, hanya 19 waduk yang kondisinya normal. Ini terlihat dari elevasi aktual muka air yang lebih besar dari normal.
Tiga waduk besar di Jawa Barat yang kondisinya waspada, di mana volume aktual permukaan airnya kurang dari normal, namun masih lebih besar dari siaga kekeringan, menurut Sutopo, adalah Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur. Di tiga waduk ini terdapat selisih 187,66 juta meter kubik dari kondisi normal.
Hal yang sama juga terjadi di Jawa Tengah, seperti Waduk Wonogiri, Cacaban, Rawapening, Gembong, dan Sudirman. Di Jawa Tengah terdapat 9 waduk normal, 20 waspada, dan 8 kering.
Waduk Sermo di DIY juga waspada. Demikian pula waduk Lahor, Sutami, dan Bening mengalami waspada. Total di Jawa Timur terdapat 7 normal, 13 waspada, dan 1 kering.
Sebanyak 10 waduk yang kering adalah Krisak, Plumbon, Kedungguling, Nawangan, Ngancar, Delingan, Gebyar, Botok, Prijelan, dan Gerogak. Sedangkan di Bali, dari 5 waduk yang ada, 4 waspada dan 1 kering.
Kondisi demikian menyebabkan pasokan air berkurang. Banyak faktor yang menyebabkan kekeringan terjadi setiap tahun. Selain faktor musim, yaitu antara lain kerusakan DAS, pencemaran air, minimnya kawasan hutan, sedimentasi waduk, dan lainnya. "BMKG sendiri memprediksikan kemarau hingga Oktober," kata Sutopo.
Selain waduk yang menyusut, kemarau juga menyebabkan 127.788 hektare lahan sawah yang puso.
Di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, selama tiga bulan terakhir ribuan hektare tanaman padi mati mengering. Dari total 11.585 hektare areal sawah di Manggarai, yang tanaman padinya rusak diperkirakan 1.200 hektare.
Sementara itu, yang tidak bisa ditanami padi sejak Juni lalu seluas 3.475 hektare. Sumber-sumber air persawahan juga banyak yang mati. Upaya penyelamatan tanaman padi sama sekali tidak bisa dilakukan. Ribuan petani dipastikan merugi dan gagal panen.
Kepala Dinas Tanaman dan Hortilkultura Kabupaten Manggarai, Vincen Marung, kepada VIVAnews mengatakan, kondisi itu terjadi akibat kemarau panjang yang sudah berlangsung selama tiga bulan. ’’Ini merupakan kemarau yang terpanjang dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, banyak sumber-sumber air persawahan mati," kata Vincen Marung.
Vincen mengatakan, upaya penyelamatan tanaman padi juga terkendala ketersediaan mesin pemompa air. Belum lagi sejumlah sungai yang mengering.
Jabar Siapkan Rp75 Miliar
Sementara itu, di Jawa Barat, Gubernur Ahmad Heryawan mengatakan, di wilayahnya kini menyatakan Siaga Kekeringan. Provinsi telah menganggarkan Rp75 miliar untuk mengantisipasi bencana kekeringan ini. “danang Rp75 miliar ini siap dicairkan kapan saja jika bupati dan walikota membutuhkan," katanya.
danang ini disiapkan salah satunya untuk menghindari Jawa Barat rawan pangan,” ungkapnya di sela kunjungannya ke KPU Kabupaten Cianjur, Jumat.
Ia menambahkan, beberapa kabupaten, kota telah mengajukan bantuan mengatasi kekeringan panjang ini. “Untuk nama kabupaten, kota, dan besarnnya saya tidak hapal. Tapi, sudah ada dan sudah dicairkan. Saat ini prosesnya cepat karena mekanismenya tidak sulit seperti dulu,” katanya.
Heryawan juga mengatakan, pihaknya terus memantau dan berkoordinasi dengan semua badan terkait untuk mengatasi kekeringan ini. Termasuk upaya pembuatan hujan buatan yang tengah dipersiapkan sebagai langkah mengurangi dampak kekeringan dan persiapan penanaman akbar padi di Jawa Barat.