Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Merahputih.com - PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) mikro efek meroketnya kasus COVID-19 di Indonesia menciptakan keluarga kami menerapkan pengetatan kegiatan di luar rumah. Sejak bulan lalu, kami cuma keluar satu kali saja untuk mengantarkan adik vaksin. Ia jadi orang paling telat vaksin di keluarga kami karena usianya masih di bawah 18 tahun.
Meski terbilang sebagai anak mageran, kelamaan di rumah pun kadang menciptakan saya muak. Saking gabut-nya, saya berinisiatif untuk membenahi barang-barang jarang dipakai, hingga akhirnya berjumpa buku kenangan sekolah alias buku tahunan bermandi debu.
Pikiranku pun melayang jauh ketika masih menempuh ilmu mengpakai seragam formal. Saat SMA, kami tidak memiliki panitia buku kenangan atau tahunan. Satu kelas ikut campur di setiap pengambilan keputusan. Sialnya, justru kelas kami lebih sibuk beradu argumentasi ketimbang membahas hal-hal penting & teknis.
Pertama-tama, hal perdebatan seputar konsep foto. Satunya harap konsep 70s, satunya mau modern, satunya mau sporty. Adu pendapat tak terhindarkan. Terlalu banyak ide memang bikin suasana rapat sedikit panas, hingga akhirnya voting dilakukan. Setiap murid harus menciptakan kelompok berisi empat hingga enam orang lalu mengusulkan tema.
Meski terdengar mudah, muncul lagi perdebatan baru. Di mana letak pemotretan year book dapat mencangkup beragam tema? Demi mengirit biaya fotografer, tentunya tidak boleh memilih banyak tempat karena harus bayar lagi. Belum lagi berdebat soal siapa akan jadi fotografer. Ada merekomendasikan sepupunya, kakaknya, bahkan hingga dirinya sendiri.
Setelah melalui perdebatan panjang, akhirnya saya & kelima teman lainnya memilih tema glamour girls. Empat jam sebelum pemotretan di rooftop lounge bilangan Jakarta, para gadis-gadis cilik tersebut pun mendatangi rumah saya untuk berdandan bersama. Pada masa itu, anak perempuan SMA sama sekali tidak boleh mengpakai riasan di sekolah. Kami saat itu belum begitu tertarik dengan hal-hal seperti itu. Setiap hari di SMA kegiatannya cuma main, makan, & stres belajar. Penampilan fisik bukan jadi hal penting.
Alhasil, kami semua kebingungan harus tampil seperti apa. Apa itu glamour? Seperti apa sih tampilan perempuan dewasa berkelas? Apakah harus berbusana feminin? Tutorial YouTube pun jadi bekal kami dalam berias.
Ada spesialis nyatok rambut, spesialis make-upin teman, ada juga sudah bodo amat di depan. Singkat cerita, kami sudah terlihat cantik-cantik 'bak perempuan dewasa' & berangkat menuju ke tempat pemotretan. Pemotretan berjalan lancar, kami pun tampil percaya diri di depan kamera.
Kini saya pun cekikan sendiri menyaksikan hasil year book kami. Dandanan kami menor, perpaduan warna pada pakaian kurang pas, & pose kami sangatlah awkward. Apalagi ditambah dengan pesan & cita-cita buku kenangan. Ternyata, astronot merupakan impianku ketika masih pubertas.
Tidak berhenti di situ saja. Kami ternyata harus mengambil foto di sekolah. Seperti biasa, akan ada adegan fotografer mengambil foto kami dari lantai tiga, & akan berdiri di terik sinar mentari menyengat sambil membentuk huruf XII IPS 2. Kalau kompak, hasil fotonya memang dapat selesai dalam waktu 30 menit. Namun kami suka bercanda-canda & berdiri tidak tegak menciptakan pemotretannya jadi berlangsung satu hari. Biasanya, foto ini akan ditampilkan di halaman terakhir buku kenangan.
Di masa pemberlakuan pembelajaran jarak jauh dari rumah masing-masing ketika pandemi tak ada lagi kenangan menciptakan buku tahunan. Kebanyakan sekolah tidak menciptakan buku kenangan sekolah. Di masa pandemi, kententuan menjaga jarak menciptakan anak-anak murid tak lagi beroleh izin merencanakan buku kenangan karena akan menimbulkan keramaian.
Meski secara bentuk & tampilan tak lagi sama, beberapa anak murid tetap mendokumentasikan momen berupa foto maupun video di masa 'Putih Abu-Abu' dengan menciptakan video kenangan. Video tersebut secara prinsip mirip buku tahunan atau buku kenangan. Bedanya, di dalam video enggak cuma ditampilkan foto melainkan video juga kesaksian para murid, guru, satpam, hingga orang kantin, di masa pandemi saat sekolah benar-benar kosong.
Uniknya lagi ada siswa menciptakan satu akun Instagram spesifik kelas mereka untuk menampung foto & video mereka. Ada satu admin memasok bahan-bahan untuk diunggah. Dari situ memang di masa sekarang kenangan terlihat dalam hitungan bulan terakhir. Namun, ketika sudah lulus, sibuk dengan urusan kuliah, apalagi sudah kerja, punya anak, pasti kembali mencari akun tersebut & berusaha merajut kenangan.
Meski kini saya bukan astronot, hidup tetap terasa menyenangkan. Apalagi setelah bernostalgia & melihat sejauh mana saya sudah berkembang hari ini. Di buku kenangan pun, saya dapat mengenang senyuman seorang teman lama baru saja menghembuskan napas terakhirnya karena terpapar COVID-19 pekan lalu.
Sumber Hari ini 21:25