yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Pil biru alias Viagra dikenal bisa mengatasi masalah seksual pada pria. Namun kini peneliti menemukan saingan viagra yakni hormon berpelukan.
Oksitosin, hormon berpelukan, secara dramatis dapat meningkatkan kinerja seksual pria. Dan hormon berpelukan memberikan hasil yang setara dengan viagra.
Hal tersebut berdasarkan temuan para peneliti sebagaimana dilansri Dailymail, Senin (9/4).
Salah satu ilmuwan di balik penemuan dan pengembangan Viagra sangat terkesan dengan hasil hormon berpelukan itu. Ia menggambarkan pengobatan dengan oksitosin memiliki potensi blockbuster alias obat yang sangat laris.
Oksitosin adalah hormon yang dibuat secara alami dalam tubuh, baik pada pria dan wanita, dan hormon ini berpengaruh dengan seks, ketertarikan seksual, kepercayaan, dan keyakinan.
Dosis tambahan dari 'hormon berpelukan' dilepaskan ke dalam darah ibu selama persalinan, dan memicu produksi ASI sertamembanjiri otak selama menyusui, yang membantu ibu dan bayi berikatan kuat.
Dan baru-baru ini telah ditunjukkan hasilnya bahwa pria bisa menjadi lebih sensitif dan berperasaan, tapi dampaknya pada fisik pria belum diketahui sampai sekarang.
Para peneliti di California menerbitkan sebuah makalah tentang efek hormon, setelah memberikannya kepada seorang ayah beranak tiga yang menderita attention deficit disorder dan mengalami kesulitan dalam menjaga hubungan sosial. Hubungannya dengan istrinya juga dalam kesulitan, dan obat-obatan konvensional tidak cocok atau memiliki efek samping yang tidak diinginkan.
Menurut laporan Journal of Sexual Medicine, penyemprotan hormon ke hidungnya sebanyak dua kali sehari sedikit membantu fobia sosialnya, tetapi memberikan keajaiban untuk kehidupan cintanya.
Libidonya yang sudah'sangat lemah' menjadi 'agak kuat', gairah seksualnya dari 'agak sulit' menjadi 'agak mudah' dan lebih mudah beraksi dan lebih memuaskan.
Semprotan itu juga menghasilkan manfaat emosional. Pria itu mengatakan ia merasa menjadi orang yang penuh kasih sayang terhadap istrinya, sementara dia mengatakan dia ingin lebih dekat dengannya dan lebih taktil. Efek positif dari hormon itu bisa lenyap jika ia berhenti menggunakan semprotan.
Tapi dampak itu tidak diterima semua orang. Pria yang diidentifikasi Mr B, juga menggunakan pelukan agar bekerja dengan pasangannya. Namun, orang itu tidak mengalami efek samping lain, meskipun menggunakan semprotan oksitosin dua kali sehari selama beberapa bulan.
Peneliti University of California mengatakan hasil yang ditunjukkan dari hormon berpelukan itu sama dengan orang-orang yang menggunakan Viagra.
"Temuan ini mendukung uji langsung yang menggunakan oksitosin untuk mengobati masalah vital dari fungsi manusia, terutama dalam konteks hubungan cinta."
Mike Wyllie, salah satu tim ilmuwan yang menemukan dan mengembangkan Viagra mengatakan bahwa obat yang didasarkan pada oksitosin bisa memiliki 'potensi blockbuster'. Namun, ia memperingatkan bahwa pengawas obat untuk berhati-hati menyetujui sebuah obat yang memiliki emosional serta efek fisik.
Oksitosin, hormon berpelukan, secara dramatis dapat meningkatkan kinerja seksual pria. Dan hormon berpelukan memberikan hasil yang setara dengan viagra.
Hal tersebut berdasarkan temuan para peneliti sebagaimana dilansri Dailymail, Senin (9/4).
Salah satu ilmuwan di balik penemuan dan pengembangan Viagra sangat terkesan dengan hasil hormon berpelukan itu. Ia menggambarkan pengobatan dengan oksitosin memiliki potensi blockbuster alias obat yang sangat laris.
Oksitosin adalah hormon yang dibuat secara alami dalam tubuh, baik pada pria dan wanita, dan hormon ini berpengaruh dengan seks, ketertarikan seksual, kepercayaan, dan keyakinan.
Dosis tambahan dari 'hormon berpelukan' dilepaskan ke dalam darah ibu selama persalinan, dan memicu produksi ASI sertamembanjiri otak selama menyusui, yang membantu ibu dan bayi berikatan kuat.
Dan baru-baru ini telah ditunjukkan hasilnya bahwa pria bisa menjadi lebih sensitif dan berperasaan, tapi dampaknya pada fisik pria belum diketahui sampai sekarang.
Para peneliti di California menerbitkan sebuah makalah tentang efek hormon, setelah memberikannya kepada seorang ayah beranak tiga yang menderita attention deficit disorder dan mengalami kesulitan dalam menjaga hubungan sosial. Hubungannya dengan istrinya juga dalam kesulitan, dan obat-obatan konvensional tidak cocok atau memiliki efek samping yang tidak diinginkan.
Menurut laporan Journal of Sexual Medicine, penyemprotan hormon ke hidungnya sebanyak dua kali sehari sedikit membantu fobia sosialnya, tetapi memberikan keajaiban untuk kehidupan cintanya.
Libidonya yang sudah'sangat lemah' menjadi 'agak kuat', gairah seksualnya dari 'agak sulit' menjadi 'agak mudah' dan lebih mudah beraksi dan lebih memuaskan.
Semprotan itu juga menghasilkan manfaat emosional. Pria itu mengatakan ia merasa menjadi orang yang penuh kasih sayang terhadap istrinya, sementara dia mengatakan dia ingin lebih dekat dengannya dan lebih taktil. Efek positif dari hormon itu bisa lenyap jika ia berhenti menggunakan semprotan.
Tapi dampak itu tidak diterima semua orang. Pria yang diidentifikasi Mr B, juga menggunakan pelukan agar bekerja dengan pasangannya. Namun, orang itu tidak mengalami efek samping lain, meskipun menggunakan semprotan oksitosin dua kali sehari selama beberapa bulan.
Peneliti University of California mengatakan hasil yang ditunjukkan dari hormon berpelukan itu sama dengan orang-orang yang menggunakan Viagra.
"Temuan ini mendukung uji langsung yang menggunakan oksitosin untuk mengobati masalah vital dari fungsi manusia, terutama dalam konteks hubungan cinta."
Mike Wyllie, salah satu tim ilmuwan yang menemukan dan mengembangkan Viagra mengatakan bahwa obat yang didasarkan pada oksitosin bisa memiliki 'potensi blockbuster'. Namun, ia memperingatkan bahwa pengawas obat untuk berhati-hati menyetujui sebuah obat yang memiliki emosional serta efek fisik.