roughtorer
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 44416
- Sejak
- 24 Mei 2008
- Pesan
- 6.755
- Nilai reaksi
- 175
- Poin
- 63
Dalam melakukan perekrutan karyawan di perusahaan yang dulu aku pimpin dan di usahaku sekarang, aku memerlukan orang-orang jujur yang bisa loyal, punya tekad maju yang kuat, serta ulet dengan kerja keras yang tidak main-main. Tapi yang utama adalah jujur. Karena tanpa kejujuran. Aku tidak akan main-main dengan hal ini.
.
Kejujuran sifatnya relatif dan tidak bisa diuniversalkan. Ada wilayah-wilayah tertentu yang riskan bila diuangkapkan secara jujur. Namun dalam hal tertentu, jujur adalah mutlak. TAk ada pilihan, jujur atau mati...
.
Dalam setiap test yang aku lakukan pada calon karyawan, selalu aku selibkan selembar pertanyaan pribadi dari aku selain pertanyaan-pertanyaan psikotes dari personalia.
.
Pertanyaan pribadiku aku buat sendiri dengan pertimbangan-pertimbangan untuk mendapatkan kejujuran yang kumau dari calon-calon karyawanku. Pada keterangan di paling atas sejumlah pertanyaan yang akan aku ajukan, bisanya aku tulis dengan huruf besar dan di 'bold' seperti ini:
'
PERTANYAAN BERIKUT LEBIH MEMBUTUHKAN JAWABAN YANG JUJUR DARIPADA JAWABAN YANG BENAR
.
Yang kupertanyakan biasanya adalah hal-hal berikut:
.
1. Pernahkah anda melakukan onani/masturbasi?
2. Pernahkah anda mencicipi narkoba/miras?
Sehubungan dengan pertanyaan no. 2:
3. Kalau pernah, dari jenis apa?
4. Apa yang menyebabkan anda merasa perlu mencicipinya?
5. Mengapa anda berhenti?
6. Pernahkah anda merindukannya?
Lompati pertanyaan ke 3 - 6 bila jawaban no. 2 anda tidak pernah.
.
Pengisian pertanyaan itu biasanya yang paling membuat calon-calon karyawanku berkerut. Keringat dingin dan was-was. Apakah akan ditolak atau diterima bila menceritakannya dengan jujur masa lalu kelam yang pernah dijalani.
.
Lalu aku lanjutkan dengan wawancara lisan. Aku biasanya lebih tertarik pada 'pasien' yang menjawab 'pernah'. Karena tingkat kepastian kejujuran lebih besar bagi mereka yang mengaku dengan berani bahwa mereka pernah salah. Dan, jawaban tidak pernah, harus diuji kembali, karena tidak ada orang waras yang mau mengaku pernah kena narkoba kalau dia ternyata memang tidak pernah mencicipinya.
.
Bukan berarti jawaban tidak pernah menjadi tidak jujur. Tapi, wawancaralah yang akan menguji kejujuran calon-calon karyawan tersebut. Sama dengan masalah onani/masturbasi. Membicarakannya dalam konteks resmi dalam sebuah pelamaran kerja adalah lumrah. Tentu saja dengan tidak melibatkan instansi-instansi porno pikiran ikut bekerja.
.
Dan yang muncul sejauh ini adalah keefektifan. Keterbukaan yang dilakukan dengan pengakuan dosa masa lalu membuat calon karyawan menladi lebih 'plong'. Rasa lepas, mau diterima yah syukur, gak juga gak papa... membuat mereka lebih lancar dalam menjawab segala pertanyaan yang kuajukan. Dalam hal ini, jawaban dari wawancara langsung sangat menentukan penilaian dari apa yang sudah direkomendaiskan jawaban tulisan.
.
Dalam hal seperti ini, entah mengapa, aku lebih memilih mantan iblis yang sekarang sudah menyadari bahwa dia dulu iblis. Daripada malaikat lugu yang belum tahu apa yang dinamakan iblis.
.
Mungkin tidak adil rasanya bagi yang memang benar-benar malaikat. Tapi sekali lagi, ada wawancara lanjutan yang bisa menentukan kejujuran pada tingkat paling akurat dari calon karyawan yang melamar kerja.
.
Setiap manager pasti punya metode sendiri. Aku hanya menyisipkan apa yang aku rasa aku butuhkan. Seperti keadaan di lingkungan tempat aku berusaha. Dan kebiasaan anak-anak muda tanggung yang berusaha mencari kerja.
.
Tentu saja metode deteksi kejujuran seperti ini bukan universal. Karena kejujuran sebenarnya tidak bisa diukur. Kita selalu melakukan kebohongan-demi-kebohongan agar bisa berlaku bijaksana.
.
Pada istri dan anak saja anda kadang tidak mungkin jujur, apalagi pada orang lain seperti saya, anda, teman anda, pacar gelap anda, simpanan anda, supir anda dan siapa saja yang anda temui di jalan ke akherat ini....
.
salam
.
Kejujuran sifatnya relatif dan tidak bisa diuniversalkan. Ada wilayah-wilayah tertentu yang riskan bila diuangkapkan secara jujur. Namun dalam hal tertentu, jujur adalah mutlak. TAk ada pilihan, jujur atau mati...
.
Dalam setiap test yang aku lakukan pada calon karyawan, selalu aku selibkan selembar pertanyaan pribadi dari aku selain pertanyaan-pertanyaan psikotes dari personalia.
.
Pertanyaan pribadiku aku buat sendiri dengan pertimbangan-pertimbangan untuk mendapatkan kejujuran yang kumau dari calon-calon karyawanku. Pada keterangan di paling atas sejumlah pertanyaan yang akan aku ajukan, bisanya aku tulis dengan huruf besar dan di 'bold' seperti ini:
'
PERTANYAAN BERIKUT LEBIH MEMBUTUHKAN JAWABAN YANG JUJUR DARIPADA JAWABAN YANG BENAR
.
Yang kupertanyakan biasanya adalah hal-hal berikut:
.
1. Pernahkah anda melakukan onani/masturbasi?
2. Pernahkah anda mencicipi narkoba/miras?
Sehubungan dengan pertanyaan no. 2:
3. Kalau pernah, dari jenis apa?
4. Apa yang menyebabkan anda merasa perlu mencicipinya?
5. Mengapa anda berhenti?
6. Pernahkah anda merindukannya?
Lompati pertanyaan ke 3 - 6 bila jawaban no. 2 anda tidak pernah.
.
Pengisian pertanyaan itu biasanya yang paling membuat calon-calon karyawanku berkerut. Keringat dingin dan was-was. Apakah akan ditolak atau diterima bila menceritakannya dengan jujur masa lalu kelam yang pernah dijalani.
.
Lalu aku lanjutkan dengan wawancara lisan. Aku biasanya lebih tertarik pada 'pasien' yang menjawab 'pernah'. Karena tingkat kepastian kejujuran lebih besar bagi mereka yang mengaku dengan berani bahwa mereka pernah salah. Dan, jawaban tidak pernah, harus diuji kembali, karena tidak ada orang waras yang mau mengaku pernah kena narkoba kalau dia ternyata memang tidak pernah mencicipinya.
.
Bukan berarti jawaban tidak pernah menjadi tidak jujur. Tapi, wawancaralah yang akan menguji kejujuran calon-calon karyawan tersebut. Sama dengan masalah onani/masturbasi. Membicarakannya dalam konteks resmi dalam sebuah pelamaran kerja adalah lumrah. Tentu saja dengan tidak melibatkan instansi-instansi porno pikiran ikut bekerja.
.
Dan yang muncul sejauh ini adalah keefektifan. Keterbukaan yang dilakukan dengan pengakuan dosa masa lalu membuat calon karyawan menladi lebih 'plong'. Rasa lepas, mau diterima yah syukur, gak juga gak papa... membuat mereka lebih lancar dalam menjawab segala pertanyaan yang kuajukan. Dalam hal ini, jawaban dari wawancara langsung sangat menentukan penilaian dari apa yang sudah direkomendaiskan jawaban tulisan.
.
Dalam hal seperti ini, entah mengapa, aku lebih memilih mantan iblis yang sekarang sudah menyadari bahwa dia dulu iblis. Daripada malaikat lugu yang belum tahu apa yang dinamakan iblis.
.
Mungkin tidak adil rasanya bagi yang memang benar-benar malaikat. Tapi sekali lagi, ada wawancara lanjutan yang bisa menentukan kejujuran pada tingkat paling akurat dari calon karyawan yang melamar kerja.
.
Setiap manager pasti punya metode sendiri. Aku hanya menyisipkan apa yang aku rasa aku butuhkan. Seperti keadaan di lingkungan tempat aku berusaha. Dan kebiasaan anak-anak muda tanggung yang berusaha mencari kerja.
.
Tentu saja metode deteksi kejujuran seperti ini bukan universal. Karena kejujuran sebenarnya tidak bisa diukur. Kita selalu melakukan kebohongan-demi-kebohongan agar bisa berlaku bijaksana.
.
Pada istri dan anak saja anda kadang tidak mungkin jujur, apalagi pada orang lain seperti saya, anda, teman anda, pacar gelap anda, simpanan anda, supir anda dan siapa saja yang anda temui di jalan ke akherat ini....
.
salam