Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Pukul 10:28 WITA, Minggu 28 Maret 2021, sebuah dentuman mengguncang Makassar. Ledakan itu---secara harfiah & simbolik---mengoyak lanskap keimanan, keamanan, & kewarasan kolektif kita. Media nasional segera menyiarkan berita: bom bunuh diri di depan Gereja Katedral. Dua pelaku, sepasang suami istri, konon meledakkan diri di tengah jemaat yg baru saja selesai misa. Umat panik. Negara siaga. Narasi dibentuk.
Namun, di balik narasi yg disusun dengan cepat & rapi, terdapat serpihan-serpihan keganjilan---rekahan kecil dalam bangunan wacana resmi yg membuka celah bagi kecurigaan kritis. Ledakan ini bukan sekadar tindak kekerasan. Ia menyerupaiscriptedritual, sebuah liturgi kekuasaan, tempat tubuh manusia dijadikan alat, waktu dijadikan simbol, & narasi dijadikan dogma.
Video "detik-detik ledakan" segera viral di media sosial. Namun satu fakta kecil terlewatkan oleh banyak orang: rekaman itu bukan footage asli CCTV, melainkan hasilre-recording---dokumentasi ulang mengpakai ponsel kepada layar monitor. Tidak adarawfootage, tidak adatimestampdigital, tidak ada metadata yg dapat diverifikasi.
Secara semiotik, ini adalahsecond orderimage---gambar dari gambar, tanda dari tanda. Jean Baudrillard menyebutnyasimulacrum: representasi yg tidak lagi merujuk ke realitas, tetapi menciptakan realitas alternatif. Maka ledakan itu sejak awal sudah dibingkai, disutradarai, & didistribusikan bukan sebagai fakta, melainkantruth effect---efek dari sesuatu yg harap diyakini benar.
Video tersebut tidak berasal dari kamera gereja, tetapi dari gedung di seberang jalan. CCTV-nya tidak merekam halaman sendiri, melainkan memiring ke kiri, seolah-olah dipasang secara spesifik untuk menangkap ledakan yg akan terjadi.Angle-nyatidak lazim untuk sebuah kamera pengawas.
Apakah mungkin suatu CCTV secara kebetulan mengarah tepat ke titik ledakan, tanpa alasan keamanan kepada halaman gedungnya sendiri? Apakah kamera itu mengintai sesuatu yg belum terjadi---atau justru sesuatu yg sudah dijadwalkan?
Tubuh pelaku pria & wanita ditemukan dalam keadaan tercerai-berai. Namun pose terakhir mereka, yg terekam sebelum ledakan, justru memunculkan tanda tanya lain: siapa yg memotret mereka saat sedang berboncengan? Foto itu tajam, bersih, & memilikiangleterlalu rendah untuk kamera pengintai biasa. Jika dari CCTV, mengapa bukan videonya yg dirilis? Jika dari aparat, mengapa tidak dicegah?
Postur perempuan juga ganjil: ia duduk menyamping ke kanan, padahal posisi biasa di Indonesia adalah menghadap ke kiri, demi stabilitas tubuh di atas motor. Maka tubuh yg jadi pelaku justru tampil sebagaimise en scne---setting panggung---di mana kematian mereka sudah dipersiapkan bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk dipertontonkan.
Ledakan terjadi pada pukul 10:28. Waktu ini terlalu presisi, terlalu "rapi" untuk sekadar hasil kebetulan. Ia tidak bulat (misal: 10:30 atau 11:00), tidak lazim (karena gereja biasanya sudah selesai misa sejak pukul 10). Namun angka ini memiliki resonansi simbolik yg mengejutkan---dan menggetarkan.
Matius 10:28 dalam Alkitab berbunyi:
"Dan janganlah anda takut kepada mereka yg dapat membunuh tubuh, tetapi yangtidak berkuasa membunuh jiwa..."
Sebuah seruan spiritual untuk tidak gentar menghadapi kekerasan fisik---karena yg utama adalah keselamatan jiwa. Jika waktu ledakan dikodekan pada ayat ini, maka ledakan itu bukan cuma peristiwa fisik, melainkan pernyataan teologis,spiritualizedviolenceyang mengonstruksi pelaku sebagai kekuatan jahat & umat sebagai martir.
Waktu jadi ayat. Ayat jadi narasi. Narasi jadi kebenaran.
Penting untuk mencermati siapa yg paling cepat menyusun narasi setelah ledakan. Dalam waktu kurang dari 24 jam, media arus utama, aparat keamanan, & pengamat terorisme menyampaikan simpulan: pelaku adalah bagian dari jaringanJamaah AnsharutDaulah(JAD), berafiliasi ISIS, & sudah "terpantau" selama beberapa waktu.
Namun, narasi ini tidak lahir di ruang hampa. Ia dibentuk & dipelihara oleh jaringan intelektual & lembagathink tankyang selama dua dekade terakhir memproduksi diskursus tentang "bahaya Islam radikal", "fundamentalisme agama", & "ekstremisne".
Melalui studi kebijakan, publikasi media, & pelatihan kontra-radikalisasi, mereka menciptakan hegemoni diskursif atas siapa yg layak dicurigai, siapa yg dianggap "rentan radikal", & siapa yg pantas dikebiri secara simbolik. Konsep-konsep sepertipreventive deradicalization,earlywarning, danviolent extremism monitoringtelah jadi perangkat epistemik dalam menciptakan "musuh internal" permanen.
Narasi ini sangat kompatibel dengan kepentingan negara & aktor global dalam mengontrol agama sebagai entitas sosial-politik. Maka tidak mengherankan kalau tiap ledakan sering disusul oleh narasi anti-fundamentalisme yg nyaris siap saji, lengkap dengan data grafis, kutipan tokoh, & peta jaringan.
Ledakan jadi panggung, & wacana kontra-radikalisme jadi sutradara yg tak terlihat.
Jika semua kejanggalan ini kita satukan---rekaman tak asli, CCTVnyeleneh, pose tubuh yg janggal, waktu simbolik, & narasi instan yg ditulis oleh aktor-aktor global---maka kita berhadapan bukan dengan terorisme biasa, tetapi dengan liturgi kekuasaan. Ledakan jadi ritual simbolik, media jadi mimbar, & korban jadi tumbal.
Negara modern sering memerlukan musuh internal untuk mempertahankan solidaritas eksternal. Dalam kerangka Giorgio Agamben, ini adalah produksihomo sacer---figur manusia yg dapat dikorbankan tanpa konsekuensi hukum, justru demi memurnikan ruang publik. Si pelaku bom, yg tak dapat bicara karena sudah hancur, jadi kambing hitam dalam upacara penguatan negara.
Ledakan bom Makassar bukan sekadar dentuman. Ia adalah bentuk ekspresi teologis kekuasaan dalam bentuk kekerasan simbolik. Ia bukan insiden, melainkan inskripsi---penulisan ulang sejarah melalui tubuh yg hancur & waktu yg disakralkan. Dari CCTV yg salah arah, hingga waktu yg menunjuk ke Injil, semuanya menyatu dalam satu dramaturgi besar: teror sebagai wahyu.
Dan kalau benar ini semua adalah rekayasa, maka kita tidak sedang menyaksikan seorang pelaku yg fanatik, melainkan seorang manusia yg dikutuk dalam diam, dipilih sebagai simbol, lalu dikorbankan dalam ritual kekuasaan. Ia mungkin tidak tahu apa yg ia tunggangi, tidak paham naskah akbar yg sedang dimainkan. Ia---yang kini tak bersuara, tak utuh, tak dikenal---dapat jadi adalah korban dari terorisme yg sesungguhnya: terorisme yg tidak meledakkan bom, tetapi meledakkan makna, logika, & kemanusiaan itu sendiri.
Mereka membunuhnya dua kali. Sekali dengan bom, sekali dengan narasi.