Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Quote:
Twitter @nuicemedia
Hai GanSis! Bicara soal keadilan, jujur saya sering teringat sama quote Patrick Star, yg berbunyi: "hidup ini memang tidak adil, maka itu biasakanlah dirimu". Meski Si Bintang laut asal Bikini Bottom itu terkesan idiot, namun perkataannya ada benarnya.
Dari itu juga saya jadi belajar untuk terbiasa menyikapi & memahami arti sebuah keadilan. Apa itu keadilan? Keadilan apa sesungguhnya yg kita cari? Entahlah.
Saya pikir mayoritas diantara kita setuju kalau tatanan dunia akhir-akhir ini bercandanya semakin kelewatan. Barangkali definisi "adil" akan berubah gara-gara pandemi.
Lebih setahun Pandemi Covid-19 ini berlangsung sejak awal 2020. Ada yg taat protokol kesehatan hingga sekarang. Ada yg gak percaya Covid-19 sejak awal. Ada juga yg sudah menyerah & abai prokes.
Ketidakadilan bagi mereka yg sering taat prokes. Sementara yg lain abai & menciptakan Pandemi terus berlangsung lama.
Dan bagi mereka yg abai prokes juga tidak dapat disalahkan sepihak. Karena mereka tetap butuh penghidupan. Sebab dunia selain krisis kesehatan juga krisis keuangan.
Maka dari itu, kita dapat berbuat apa? ketika di Tanah Abang terjadi kerumunan orang-orang berburu baju baru untuk dipakai dihari raya. Selain faktor tradisi, momen seperti ini memang sering dinantikan para pedagang disana.
Mungkin ada yg komen: "bukannya dapat jual online aja!?!". Nyatanya tidak semua orang dapat beradaptasi dengan cepat.
Jadi, keadilan seperti apa yg kita cari dari kasus seperti Tanah Abang. Siapa yg salah & siapa yg paling menderita?
Dimana keadilan bagi warga di daerah, dimana kasus Covid-19 sebenarnya berpusat di Ibukota & sekitarnya, tetapi dampaknya satu Indonesia. Awalnya saya berpikir demikian, tetapi ternyata di daerah juga gak kalah dakjalnya.
Yang jelas yg paling jahat ialah mafia karantina & oknum tes antigen bekas. Merekalah tipikal manusia berotak kikir. Yang sebenarnya juga kasus ini sudah mulai tercium sejak lama dimana ada jual beli surat bebas Covid-19.
Perbuatan begitu sangat menyakitkan hati & mematahkan semangat semua orang yg selama ini berjuang supaya Covid-19 berakhir. Tapi beberapa lainnya malah berbuat sebaliknya.
Terutama, saya gak paham lagi sama oknum yg meloloskan pendatang tanpa karantina & tanpa peduli positif atau negatif Covid-19. Gak tahu lagi!!
Apakah saya, kamu, kita semua harus terbiasa dengan hal-hal demikian? Apa ini yg dimaksud keadilan? Selama ini kita sudah berdarah-darah, nafas juga tidak bebas lagi terhalang masker. Sementara ada orang yg selama ini ogah pakai masker, justru dijadikan "duta masker"
Please 2021, jadi gini kali.
Tapi bagaimanapun kita mesti kuat & pantang menyerah. Yuk dapat yuk!!
Meski sulit, tetapi kita mesti menerima kenyataannya. Penyangkalan cuma memperburuk situasi. Beruntung saya kemarin ketemu kutipan menarik dari pengguna Quora. Kiranya ini dapat menolong kita berdamai dengan keadaan & memaklumi segala yg membangongkan ini.
Ada 300 etnis yg punya sejarahnya masing-masing. Ada yg sudah membangun candi Borobudur sebelum Kerajaan Inggris lahir, ada yg sudah berdiplomasi dengan Kekaisaran China & Kesultanan Ottoman sejak ratusan tahun yg lalu, sementara yg lain baru mengenal tulisan di zaman 20. Masing-masing etnis punya aspirasi kedaerahan masing-masing, punya sejarah membanggakannya masing-masing.
Ketika sudah sejak zaman dulu ada seorang Pati bersumpah menyatukan seluruh Nusantara (yang sebenarnya hampir seluruh Asia Tenggara). Tapi, di masa sekarang masih ada yg berpikir untuk memecah belah & bercerai berai. Bahkan tetangganya sendiri, dituduh mengerjakan pesugihan babi ngepet. Yang belakangan diketahui pesugihan babi ngepet itu cuma karangan bebas sejumlah orang di Depok.
Hingga hingga ada meme seperti ini:
Sekali lagi, kita dapat apa? Kenyataannya memang seperti inilah kita sekarang, disinilah kita berada dengan orang-orang di dalam. Saya setuju dengan thread salah satu IFers disini:Tuduh Tetangga Babi Ngepet, Ibu Wati adalah Sampel Masyarakat Kebanyakan.
@riandaprayoga #NapaweiPost
Binjai, 7 Mei 2021 Hari ini 18:03
Twitter @nuicemedia
Hai GanSis! Bicara soal keadilan, jujur saya sering teringat sama quote Patrick Star, yg berbunyi: "hidup ini memang tidak adil, maka itu biasakanlah dirimu". Meski Si Bintang laut asal Bikini Bottom itu terkesan idiot, namun perkataannya ada benarnya.
Dari itu juga saya jadi belajar untuk terbiasa menyikapi & memahami arti sebuah keadilan. Apa itu keadilan? Keadilan apa sesungguhnya yg kita cari? Entahlah.
Saya pikir mayoritas diantara kita setuju kalau tatanan dunia akhir-akhir ini bercandanya semakin kelewatan. Barangkali definisi "adil" akan berubah gara-gara pandemi.
Lebih setahun Pandemi Covid-19 ini berlangsung sejak awal 2020. Ada yg taat protokol kesehatan hingga sekarang. Ada yg gak percaya Covid-19 sejak awal. Ada juga yg sudah menyerah & abai prokes.
Ketidakadilan bagi mereka yg sering taat prokes. Sementara yg lain abai & menciptakan Pandemi terus berlangsung lama.
Dan bagi mereka yg abai prokes juga tidak dapat disalahkan sepihak. Karena mereka tetap butuh penghidupan. Sebab dunia selain krisis kesehatan juga krisis keuangan.
Maka dari itu, kita dapat berbuat apa? ketika di Tanah Abang terjadi kerumunan orang-orang berburu baju baru untuk dipakai dihari raya. Selain faktor tradisi, momen seperti ini memang sering dinantikan para pedagang disana.
Mungkin ada yg komen: "bukannya dapat jual online aja!?!". Nyatanya tidak semua orang dapat beradaptasi dengan cepat.
Jadi, keadilan seperti apa yg kita cari dari kasus seperti Tanah Abang. Siapa yg salah & siapa yg paling menderita?
Dimana keadilan bagi warga di daerah, dimana kasus Covid-19 sebenarnya berpusat di Ibukota & sekitarnya, tetapi dampaknya satu Indonesia. Awalnya saya berpikir demikian, tetapi ternyata di daerah juga gak kalah dakjalnya.
Yang jelas yg paling jahat ialah mafia karantina & oknum tes antigen bekas. Merekalah tipikal manusia berotak kikir. Yang sebenarnya juga kasus ini sudah mulai tercium sejak lama dimana ada jual beli surat bebas Covid-19.
Perbuatan begitu sangat menyakitkan hati & mematahkan semangat semua orang yg selama ini berjuang supaya Covid-19 berakhir. Tapi beberapa lainnya malah berbuat sebaliknya.
Terutama, saya gak paham lagi sama oknum yg meloloskan pendatang tanpa karantina & tanpa peduli positif atau negatif Covid-19. Gak tahu lagi!!
Apakah saya, kamu, kita semua harus terbiasa dengan hal-hal demikian? Apa ini yg dimaksud keadilan? Selama ini kita sudah berdarah-darah, nafas juga tidak bebas lagi terhalang masker. Sementara ada orang yg selama ini ogah pakai masker, justru dijadikan "duta masker"
Please 2021, jadi gini kali.
Tapi bagaimanapun kita mesti kuat & pantang menyerah. Yuk dapat yuk!!
Meski sulit, tetapi kita mesti menerima kenyataannya. Penyangkalan cuma memperburuk situasi. Beruntung saya kemarin ketemu kutipan menarik dari pengguna Quora. Kiranya ini dapat menolong kita berdamai dengan keadaan & memaklumi segala yg membangongkan ini.
Ada 300 etnis yg punya sejarahnya masing-masing. Ada yg sudah membangun candi Borobudur sebelum Kerajaan Inggris lahir, ada yg sudah berdiplomasi dengan Kekaisaran China & Kesultanan Ottoman sejak ratusan tahun yg lalu, sementara yg lain baru mengenal tulisan di zaman 20. Masing-masing etnis punya aspirasi kedaerahan masing-masing, punya sejarah membanggakannya masing-masing.
Ketika sudah sejak zaman dulu ada seorang Pati bersumpah menyatukan seluruh Nusantara (yang sebenarnya hampir seluruh Asia Tenggara). Tapi, di masa sekarang masih ada yg berpikir untuk memecah belah & bercerai berai. Bahkan tetangganya sendiri, dituduh mengerjakan pesugihan babi ngepet. Yang belakangan diketahui pesugihan babi ngepet itu cuma karangan bebas sejumlah orang di Depok.
Hingga hingga ada meme seperti ini:
Sekali lagi, kita dapat apa? Kenyataannya memang seperti inilah kita sekarang, disinilah kita berada dengan orang-orang di dalam. Saya setuju dengan thread salah satu IFers disini:Tuduh Tetangga Babi Ngepet, Ibu Wati adalah Sampel Masyarakat Kebanyakan.
@riandaprayoga #NapaweiPost
Binjai, 7 Mei 2021 Hari ini 18:03