yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Komisi IV DPR melawat ke Prancis dan China untuk studi banding tentang hewan ternak, dalam rangka perancangan UU Peternakan dan Kesehatan Hewan. Kritik publik pun mengiringi perjalanan mereka seperti terekam dalam komentar-komentar di media sosial.
Kritik keras juga disampaikan sejumlah lembaga. Koordinator Investigasi dan Advokasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), Uchok Sky Khadafi, menegaskan kunjungann itu merupakan bentuk ketidakpekaan anggota DPR kepada keresahan publik.
Menurutnya, biaya kunjungan itu menelan Rp1,72 miliar. Biaya perjalanan ke Paris, Prancis menelan biaya sekitar Rp1,091 miliar dan ke China sebesar Rp632 juta.
Anggaran ke Paris itu untuk sebelas anggota DPR dan tiga staf selama enam hari. Untuk anggota DPR dijatah Rp938,6 juta dan untuk staf Rp153 juta.
Rincian anggaran ke China sebesar Rp632 juta terbagi Rp553,8 juta untuk 13 anggota DPR dan Rp78,86 juta untuk tiga staf DPR.
"Keberangkatan ini menjelang penutupan akhir tahun yang betul-betul merepotkan kedutaan RI di Paris dan menyusahkan rakyat sendiri lantaran duit dipakai hanya untuk jalan-jalan kilat saja," kata Uchok.
Dia menyayangkan anggota Dewan yang tidak peka meskipun kritik pedas telah bertubi-tubi disampaikan. "Seharusnya anggota DPR itu membantu masyarakat yang tidak mampu."
Penjelasan DPR
Selasa 11 Desember 2012, kemarin, Wakil Ketua Komisi IV DPR Firman Subagyo menegaskan bahwa DPR studi banding ke Prancis dan China itu dalam rangka merancang undang-undang.
Sebelum berangkat ke luar negeri, para anggota DPR itu sudah berdiskusi dengan sejumlah pengamat dan ahli dari berbagai universitas di tanah air. Yang dibahas adalah soal peternakan dan segala penyakitnya.
Namun, mereka tetap perlu melakukan studi banding ke luar negeri itu untuk penyempurnaan terutama soal penyakit kuku dan mulut hewan ternak. Jadi studi banding ke luar negeri itu memang sangat diperlukan dan tidak mengada-ada.
Kritik keras juga disampaikan sejumlah lembaga. Koordinator Investigasi dan Advokasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), Uchok Sky Khadafi, menegaskan kunjungann itu merupakan bentuk ketidakpekaan anggota DPR kepada keresahan publik.
Menurutnya, biaya kunjungan itu menelan Rp1,72 miliar. Biaya perjalanan ke Paris, Prancis menelan biaya sekitar Rp1,091 miliar dan ke China sebesar Rp632 juta.
Anggaran ke Paris itu untuk sebelas anggota DPR dan tiga staf selama enam hari. Untuk anggota DPR dijatah Rp938,6 juta dan untuk staf Rp153 juta.
Rincian anggaran ke China sebesar Rp632 juta terbagi Rp553,8 juta untuk 13 anggota DPR dan Rp78,86 juta untuk tiga staf DPR.
"Keberangkatan ini menjelang penutupan akhir tahun yang betul-betul merepotkan kedutaan RI di Paris dan menyusahkan rakyat sendiri lantaran duit dipakai hanya untuk jalan-jalan kilat saja," kata Uchok.
Dia menyayangkan anggota Dewan yang tidak peka meskipun kritik pedas telah bertubi-tubi disampaikan. "Seharusnya anggota DPR itu membantu masyarakat yang tidak mampu."
Penjelasan DPR
Selasa 11 Desember 2012, kemarin, Wakil Ketua Komisi IV DPR Firman Subagyo menegaskan bahwa DPR studi banding ke Prancis dan China itu dalam rangka merancang undang-undang.
Sebelum berangkat ke luar negeri, para anggota DPR itu sudah berdiskusi dengan sejumlah pengamat dan ahli dari berbagai universitas di tanah air. Yang dibahas adalah soal peternakan dan segala penyakitnya.
Namun, mereka tetap perlu melakukan studi banding ke luar negeri itu untuk penyempurnaan terutama soal penyakit kuku dan mulut hewan ternak. Jadi studi banding ke luar negeri itu memang sangat diperlukan dan tidak mengada-ada.