hendladi
IndoForum Beginner D
- No. Urut
- 113568
- Sejak
- 15 Jan 2011
- Pesan
- 685
- Nilai reaksi
- 2
- Poin
- 18
JAKARTA, KOMPAS.com — Kenapa Anda ke Monas? Bagi mereka yang berasal dari luar Jabodetabek, apalagi dari luar Jawa, jawabannya hampir pasti untuk melihat Monumen Nasional. Akan tetapi, jika pertanyaan yang sama diajukan kepada pengunjung yang berasal dari wilayah Jakarta dan sekitarnya, jawaban berbeda sangat mungkin kita dapatkan.
Livia Septiani, siswi kelas I, SD Ratih, Cempaka Putih Barat, Jakarta Timur, saat ditemui, Minggu (6/3/2011) sore, sedang asyik bermain bersama teman-teman sebayanya di sisi selatan Lapangan Medan Merdeka. Dia mengaku sejak kecil sudah sering diajak orangtua berkunjung ke Monas, tapi belum sekalipun dia masuk ke gedung Monumen Nasional. "Enggak penting," ujar Livia saat ditanyai alasannya.
Entahkah Livia melihat Tugu Monas sebatas salah satu gedung tinggi yang banyak terdapat di Ibu Kota? Atau bisa juga karena dia belum memahami nilai seni dan sejarah monumen itu. Yang pasti hanya satu tujuannya ke Taman Monas, "Cuma pengin main aja. Tempatnya luas banget," tambahnya spontan.
Tak jauh dari Livia dan teman-temannya, ibu-ibu mereka bercengkerama sambil menikmati penganan. Dari posisi duduk mereka yang membelakangi Monas, terlihat bahwa monumen yang dibangun pada 1961 itu mungkin sudah tak begitu menarik bagi mereka.
"Karena sudah akrab, kami sering janjian untuk bercengkerama bersama di areal Taman Monas (nama lain Lapangan Medan Merdeka) sekaligus untuk menghibur anak-anak," ujar Bu Ima tentang kelompoknya.
Tak berbeda jauh dengan sang anak, Ima pun baru sekali masuk ke Monumen Nasional. Itu pun telah lama berlalu, saat dia masih duduk di bangku SD. "Sekali aja udah cukup, Mas," ujarnya, saat ditanyai alasan keengganannya.
Padahal, ibu dua anak itu termasuk rutin berkunjung ke Monas, baik bersama keluarga, tetangga, teman arisan, maupun komunitas barunya saat ini.
Maria, remaja putri asal Bekasi, bersama dua temannya lebih memilih sisi barat Taman Monas yang dipenuhi pepohonan rindang. Mereka mengaku tidak memiliki tujuan khusus ke Taman Monas. "Suasananya di sini tenang dan sejuk," kata Maria.
Selain ke Monas, ketiga sahabat karib itu mengaku sering berkumpul di Taman HI Bekasi, yang suasananya mirip Taman Monas. "Saya bukan anak mal," kata Maria, membedakan dirinya dengan teman-teman sebayanya yang kerap pelesiran ke mal.
Maria mengaku lebih menyukai taman dan ruang terbuka untuk mengisi waktu libur. "Mungkin perlu dibangun juga di Bekasi, biar kami tak perlu jauh-jauh ke sini," ujarnya.
Dadih (40) mungkin sedikit unik. Dia duduk sendirian di dekat kolam Taman Monas Barat, tak jauh dari tempat sekelompok muda-mudi berlatih vokal grup. Saat ditanyai, lelaki asal Labuan, Banten, ini mengaku sering ke Monas.
"Aku cuma pengin cari inspirasi," katanya, tanpa menjelaskan maksudnya lebih lanjut. Monas dan kawasan pantai Ancol adalah dua tempat favorit Dadih untuk mencari inspirasi.
Livia, Maria, dan Dadih adalah bagian dari masyarakat Jakarta yang melihat Monas, bukan lagi sebatas monumen sejarah. Monas bagi mereka bukan hanya tugu berarsitektur paduan lingga dan yoni dengan puncak lidah api bersepuh emas 50 kg.
Bagi mereka, Monas adalah ruang terbuka di mana mereka bisa melakukan kegiatan alternatif. Monas adalah taman kota seluas 80 hektar di mana anak-anak dapat berlari-lari dengan bebas; tempat di mana sekelompok ibu dapat menikmati pertunjukan air mancur sambil berarisan.
Monas adalah lapangan di mana anak-anak muda bisa bermain futsal hingga dini hari, tempat terbuka di mana latihan vokal grup tidak akan mengganggu aktivitas Dadih yang sedang mencari ketenangan, tempat yang nyaman dan tenang bagi muda-mudi yang ingin memadu kasih di bawah rindangnya pepohonan, tempat di mana tiga orang bapak mencoba menaikkan layangan hingga melampaui tinggi tugu tersebut.
Akhirnya, Monas sebenarnya refleksi dari kebutuhan masyarakat modern kota akan ruang terbuka alternatif di mana mereka bisa sejenak keluar dari rutinitas dan belenggu kesibukan harian.
Sekarang tinggal kesadaran dan peran Pemprov DKI Jakarta dan daerah-daerah penyangga untuk menyediakan sarana dan prasarana ruang publik yang dibutuhkan masyarakatnya.