• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Berita KBRI Tak Latah, Lansia Mati Kedinginan

hendladi

IndoForum Beginner D
No. Urut
113568
Sejak
15 Jan 2011
Pesan
685
Nilai reaksi
2
Poin
18
1029558620X310.JPG


JAKARTA, KOMPAS.com - Duta Besar Republik Indonesia untuk Jepang M Lutfi menyatakan, hingga saat ini pihaknya telah memastikan keberadaan warga negara Indonesia di Jepang dalam kondisi aman. Dubes mengatakan tidak ingin ikut-ikutan panik dan meminta WNI dievakuasi keluar dari Jepang.

”Namun, kami tetap berada dalam posisi mempersiapkan diri untuk menghadapi kondisi terburuk. Rencana darurat telah kami siapkan jika sewaktu-waktu kami harus mengevakuasi semua WNI di Jepang. Kami sudah siap,” kata Dubes, Jumat (18/3).

”Saat ini pun saya sudah didampingi 11 pakar nuklir dari Indonesia, baik mereka yang tengah belajar maupun mengajar di sini. Mereka memberikan masukan dan analisis didasarkan pada data dan informasi resmi Pemerintah Jepang,” ujar Lutfi.

”Saya merasa sangat terbantu dengan keberadaan kesebelas pakar ini. Mereka memberikan masukan dan analisis bahkan sampai 24 jam terus-menerus. Sampai sekarang mereka masih belum memberikan masukan kalau sudah saatnya keluar dari Jepang,” kata Lutfi lagi.

Berdasarkan masukan para pakar itu, tambah Lutfi, pihaknya telah mengevakuasi WNI dari radius 50 kilometer dari pusat kebocoran nuklir. Namun, sampai sekarang, Dubes masih belum melihat ada kekhawatiran signifikan untuk mengevakuasi semua WNI keluar dari Tokyo, apalagi Jepang.

Menurut Lutfi, jumlah WNI di wilayah Prefektur Fukushima yang terdata sebanyak 52 orang. Sebanyak 24 orang dari mereka telah keluar dari wilayah itu. Selebihnya masih belum mau keluar dari sana karena merasa aman dan ada jaminan dari perusahaan tempat mereka bekerja. ”Jadi, saya tidak bisa memaksa mereka keluar dari sana,” katanya.

Lebih lanjut Lutfi menambahkan, dari sekitar 1.500 WNI yang berada di radius bahaya bagi radiasi, sekitar 1.300 orang dapat diidentifikasi kondisi dan keberadaan mereka. Kini tinggal sekitar 326 WNI lagi yang masih terus dicari kepastian kabarnya.

Dia mengaku kesulitan karena 326 orang itu bekerja sebagai awak kapal laut, yang baru berada di darat sekali dalam tiga bulan.

Lutfi menambahkan, pihaknya masih terus mencari kepastian soal empat anak buah kapal Kuni Maru yang dikabarkan hilang akibat tsunami.

6.911 orang tewas

Seminggu pascabencana, Kepolisian Nasional Jepang memperkirakan total korban tewas 6.911 orang dan yang dinyatakan hilang 10.316 orang. Angka-angka itu masih dapat terus bertambah.

Wali Kota Ishinomaki di Prefektur Miyagi melaporkan, jumlah orang hilang dari wilayahnya saja lebih dari 10.000 orang. NHK memberitakan sedikitnya 10.000 warga di kota pelabuhan, Minamisanriku, di prefektur yang sama juga belum diketahui nasibnya.

”Bukan tidak mungkin semua keluarga yang ada di kawasan tersebut tewas tersapu tsunami sehingga tidak satu pun tersisa untuk melaporkan anggota keluarga mereka yang hilang,” ujar Dave Stone, salah seorang sukarelawan.

Stone adalah pemimpin pemadam kebakaran di Los Angeles, AS. Bersama pasukannya, dia sudah berpengalaman diterjunkan di berbagai kawasan bencana.

Kondisi tak kalah menyedihkan juga terjadi dan dialami oleh mereka yang berhasil selamat dari bencana alam besar itu. Sejumlah sekolah di wilayah Prefektur Miyagi seolah menjadi lokasi pemakaman di mana nama-nama mereka yang tewas dan hilang dipampang di pintu dan dinding sekolah.

Antrean panjang warga yang akan berbelanja bahan makanan dan kebutuhan lain di sejumlah supermarket juga mengular. Sementara kebanyakan dari pengungsi berusia lanjut terlihat hanya mampu berdiam diri di penampungan-penampungan. Mereka tidak tahu akan ke mana mereka setelah semua itu.

Salju tebal dan suhu udara yang dingin, ditambah kelangkaan minyak tanah sebagai bahan bakar alat penghangat di penampungan, semakin memperparah situasi. Padahal, seperti dilaporkan kantor berita Kyodo, dari 2.200 fasilitas penampungan korban bencana, terdapat sedikitnya 380.000 orang di sana.

Insiden mengerikan terjadi ketika pasukan bela diri Jepang menemukan sedikitnya 128 orang lanjut usia (lansia) ditinggalkan begitu saja oleh para petugas rumah sakit sekitar 2 kilometer dari reaktor nuklir Fukushima. Kebanyakan dari mereka ditemukan dalam keadaan koma. Sebanyak 14 orang lansia dipastikan tewas tidak lama setelah ditemukan, sementara 11 orang lansia tewas begitu mereka sampai di lokasi penampungan baru di rumah jompo Kesennuma.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.