yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Jembatan Barelang VI, Batam ditabrak kapal APC Aussie 1, Rabu (6/6) dini hari. Akibatnya, bentang tengah jembatan patah.
Direktur Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Badan Pengelolaan Batam, Dwi Djoko Wiwoho menuturkan, kapal itu tengah buang sauh di perairan Galang Baru. Namun, kapal dibawa arus hingga akhirnya menabrak jembatan yang menghubungkan Pulau Galang dengan Pulau Galang Baru. "Kapal menabrak jembatan sekitar pukul 03.30," ujarnya.
Tabrakan itu membuat sambungan bentang tengah jembatan patah. Jembatan ditutup dan semua jenis mobil dilarang lewat.
Update berita pukul 14 : 40
Anjungan Penabrak Jembatan Hilang dari Radar
Tongkang APC Aussie 1 (sebelumnya disebut anjungan peristirahatan) yang menabrak Jembatan Barelang VI, Rabu (6/6/2012) dini hari tadi, ternyata hilang dari pantauan radar.
Sebelum menabrak, tongkang tanpa mesin dan sistem kemudi itu sudah delapan bulan buang sauh di sekitar jembatan.
Manajer Pelayanan PT Batam Samudra Andre Moniaga menuturkan, pihaknya menangani penempatan tongkang itu. Selama ini, pihaknya mengawasi tongkang itu melalui radar dan pelacak posisi (GPS).
"Tadi malam sekitar pukul 02.00, tongkang hilang dari layar radar. Sekitar sejam kemudian kami mendapat laporan tongkang menabrak jembatan," ujarnya di Batam.
Tongkang sepanjang 110 meter dan lebar 33,55 meter itu sebelumnya buang sauh 6 km di sisi barat jembatan selama delapan bulan.
Andre menduga, kapal itu dihanyutkan arus kencang sehingga jangkarnya putus dan akhirnya menabrak jembatan Raja Kecil atau dikenal juga Jembatan Barelang VI.
"Kami siap bekerja sama untuk menangani kerusakan jembatan. Kami terus berkoordinasi dengan BP Batam sebagai pengelola jembatan," tuturnya.
Istono, Direktur Perencanaan dan Pembangunan BP Batam, mengatakan, pihaknya belum mengetahui sejauh apa kerusakan jembatan. Pihaknya belum bisa meneliti lebih lanjut kerusakan struktur jembatan.
"Pemeriksaan akurat bisa dilakukan setelah tongkang dipindahkan. Soal kapan dipindahkan, masih dikoordinasikan dulu antara kepolisian, Batam Samudra, dan BP Batam," ujarnya.
Jembatan itu dirancang untuk beroperasi 50 tahun sejak 1996. Namun, insiden pada Rabu dini hari dikhawatirkan memperpendek usia teknis satu-satunya akses jalur darat ke Pulau Galang Baru itu.
Direktur Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Badan Pengelolaan Batam, Dwi Djoko Wiwoho menuturkan, kapal itu tengah buang sauh di perairan Galang Baru. Namun, kapal dibawa arus hingga akhirnya menabrak jembatan yang menghubungkan Pulau Galang dengan Pulau Galang Baru. "Kapal menabrak jembatan sekitar pukul 03.30," ujarnya.
Tabrakan itu membuat sambungan bentang tengah jembatan patah. Jembatan ditutup dan semua jenis mobil dilarang lewat.
Update berita pukul 14 : 40
Anjungan Penabrak Jembatan Hilang dari Radar
Tongkang APC Aussie 1 (sebelumnya disebut anjungan peristirahatan) yang menabrak Jembatan Barelang VI, Rabu (6/6/2012) dini hari tadi, ternyata hilang dari pantauan radar.
Sebelum menabrak, tongkang tanpa mesin dan sistem kemudi itu sudah delapan bulan buang sauh di sekitar jembatan.
Manajer Pelayanan PT Batam Samudra Andre Moniaga menuturkan, pihaknya menangani penempatan tongkang itu. Selama ini, pihaknya mengawasi tongkang itu melalui radar dan pelacak posisi (GPS).
"Tadi malam sekitar pukul 02.00, tongkang hilang dari layar radar. Sekitar sejam kemudian kami mendapat laporan tongkang menabrak jembatan," ujarnya di Batam.
Tongkang sepanjang 110 meter dan lebar 33,55 meter itu sebelumnya buang sauh 6 km di sisi barat jembatan selama delapan bulan.
Andre menduga, kapal itu dihanyutkan arus kencang sehingga jangkarnya putus dan akhirnya menabrak jembatan Raja Kecil atau dikenal juga Jembatan Barelang VI.
"Kami siap bekerja sama untuk menangani kerusakan jembatan. Kami terus berkoordinasi dengan BP Batam sebagai pengelola jembatan," tuturnya.
Istono, Direktur Perencanaan dan Pembangunan BP Batam, mengatakan, pihaknya belum mengetahui sejauh apa kerusakan jembatan. Pihaknya belum bisa meneliti lebih lanjut kerusakan struktur jembatan.
"Pemeriksaan akurat bisa dilakukan setelah tongkang dipindahkan. Soal kapan dipindahkan, masih dikoordinasikan dulu antara kepolisian, Batam Samudra, dan BP Batam," ujarnya.
Jembatan itu dirancang untuk beroperasi 50 tahun sejak 1996. Namun, insiden pada Rabu dini hari dikhawatirkan memperpendek usia teknis satu-satunya akses jalur darat ke Pulau Galang Baru itu.