Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
al-fatihah untuk semua korban mulai dari Aremania maupun aparat, termasuk diantaranya ada balita & anak-anak dibawah umur. Update resmi terakhir mengatakan setidaknya 187 orang meninggal, namun ada yg mengatakan tembus 219 & kemungkinan masih bertambah. Tentu ini adalah jumlah yg sangat banyak, & merupakan suatu tragedi yg kelam untuk sebuah tontonan sepakbola yg dimana kita tau istilah sepakbola adalah pemersatu bangsa. Tapi tidak ada sepakbola seharga nyawa.
Tragedi ini harus jadi bahan evaluasi bagi operator liga, panitia pelaksana, & aparat keamanan. Semua punya andil dalam tragedi ini, tidak boleh ada pembenaran sepihak.
Dengan jumlah korban jiwa yg setidaknya mencapai 187 orang, tragedi ini sudah resmi menduduki peringkat ke-2 dalam "Deadliest Soccer Match in History" sejarah pertandingan sepakbola yg paling mematikan. Itu bukan sekedar angka, tetapi nyawa.
https://dl.kaskus.id/cdn--2-tstatic-net.cdn.ampproject.org/i/s/cdn-2.tstatic.net/tribunnews/foto/bunk/images/anggota-tni-terlihat-melepaskan-tendangan-ke-suporter-arema-fc.jpg
APARAT
Represif > Preventif
Muncul banyak pertanyaan, kenapa harus pakai gas air mata dalam tragedi ini ? Ketika gas air mata ditembakan ke arah tribun, para supporter panik & berhamburan untuk keluar stadion. Akses yg sempit menciptakan para supporter berdesakan, terinjak satu sama lain, & sesak nafas. Dalam salah satu pasal FIFA juga sudah cukup menjelaskan larangan penggunaan gas air mata dalam pengamanan pertandingan. Ada juga informasi yg mengatakan bahwa pintu stadion ditutup untuk menghindari supporter yg dari luar masuk ke dalam stadion. Pertanyaanya apakah aparat yg diluar stadion tidak punya skenario untuk mencegah penonton yg diluar masuk ke dalam stadion? Who Knows?
Selain itu, pemukulan oleh aparat kepada supporter juga semakin memicu keributan. Bahkan disalah satu video yg beredar, pemukulan kepada supporter terjadi di tribun. Hal tersebut memancing beberapa supporter marah & mengejar aparat tersebut hingga masuk kedalam lapangan.
Yang jadi kontroversi adalah mengenai pernyataan aparat bahwa tindakan pengamanan yg dilakukan sudah sesuai prosedur. Pertanyaanya adalah aparat mengikuti prosedurnya siapa?
ORIENTASI PT.LIB-PSSI
Profit, profit & profit
Mengadakan Derby Jatim (High Risk Match) saat malam pekan di jam rawan adalah kesalahan fatal. Mengapa? Karena malam pekan merupakan waktu ramai-ramainya massa & susahnya pengawasan.
Panpel sudah mengajukan surat untuk main sore demi menghindari resiko tetapi malah ditolak. Alasanya? Tentu jelas karena hak siar. Yang punya hak siar minta main malam. Kita tau, pemegang hak siar adalah sebagai 'pembeli' tetapi jangan semata-mata karena profit keselamatan pemain, supporter, & aparat yg dikorbankan.
BLUNDER PANPEL AREMA
Inkonsisten Dalam Berorientasi
Diawal kita dapat mengapresiasi usaha Panpel yg mengajukan jadwal match di sore hari meskipun ditolak PT. LIB
Tapi disisi lain, Panpel menjual tiket melebihi kapasitas & kesepakatan dengan pihak kepolisian. Seharusnya cuma ada 38rb tiket yg boleh dijual tetapi dari informasi yg ada, tiket yg terjual sebanyak 42rb.
AREMANIA
Kedewasaan
Faktor kedewasaan supporter jadi salah satu pemicu dalam tragedi ini. Terlalu berlebihan menyikapi kekalahan & mudah terprovokasi jadi poin utama.
Disebuah video yg beredar memperlihatkan awalnya ada 3 supporter yg masuk ke lapangan, baru setelahnya ratusan supporter lainya menyusul. Evaluasi untuk para koordinator kedepannya untuk lebih dapat menjaga & mengendalikan supporter.
Menurut opini TS, semua pihak punya andil dalam tragedi ini. Sangat tidak adil kalau sanksi cuma dijatuhkan untuk arema & suporternya. Lantas bagaimana sanksi untuk aparat. PT. LIB bahkan PSSI sendiri ?
Who Knows?
Stop melempar pertanyaan siapa yg salah, tapi
Siapa yg berbohong dari tragedi ini?
Sumber :
Kompas Kemarin 22:41