Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Di tahun 80an hingga awal 2000an, saat itu pencaplokan dari gadget masih belum semasif sekarang, bocah-bocah bermain dengan permainan yg amat beragam. Tak cuma soal ketangkasan seperti gobak sodor atau lompat tinggi, tetapi juga yg bermodalkan mainan misalkan masak-masakan. Sungguh di masa itu bermain adalah surga.
Berbicara soal mainan zaman dulu, ada satu yg pastinya kita ingat, khususnya bagi yg laki-laki. Mainan ini adalah tulup atau semacam batang bambu berdiameter kecil yg disusun sedemikian rupa sehingga menyerupai senapan. Jika dimainkan, rasanya seperti benar-benar turun di medan tempur. Betapa tidak, selain harus menghindari tembakan, kita juga harus membidik lawan.
Tulup (dalam bahasa Jawa) atau sumpit, bentuknya sederhana. Berupa laras bambu yg tidak beruas serta berukuran kecil, mungkin seukuran telunjuk atau jempol orang dewasa. Ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan dapat pendek atau panjang. Bahkan dulu, banyak yg berjualan tulup di sekitar SD.
Hal seru soal Tulup tentu adalah ketika memainkannya. Permainan ini konsepnya tembak-tembakan, jadi harus mengpakai peluru.
Bahan untuk pelurunya, biasanya memakai kacang hijau. Caranya kacang hijau dimasukkan dalam mulut, lalu ditembakan dengan cara ditiup kuat-kuat lewat lubang tulupnya. Makanya, tak jarang, anak-anak jaman itu sering mendapat amarah dari ibunya gara-gara kacang hijau di dapur habis buat peluru.
Seiring berjalannya waktu, permainan anak-anak pun makin berkembang. Kabar buruknya, Tulup juga seolah menghilang sekarang.
Ada baiknya mainan-mainan seperti ini dihidupkan lagi, tak cuma untuk melestarikan budaya tradisional, tetapi juga menolong anak-anak sekarang untuk lebih aktif bergerak. Selain itu, permainan perang tulup juga mengajarkan sportivitas. Sebab sebelum permainanan dimulai, anak-anak akan menciptakan peraturan terlebih dahulu, misalnya bagian tubuh mana yg tidak boleh ditembak. SUMBER Hari ini 19:42
Berbicara soal mainan zaman dulu, ada satu yg pastinya kita ingat, khususnya bagi yg laki-laki. Mainan ini adalah tulup atau semacam batang bambu berdiameter kecil yg disusun sedemikian rupa sehingga menyerupai senapan. Jika dimainkan, rasanya seperti benar-benar turun di medan tempur. Betapa tidak, selain harus menghindari tembakan, kita juga harus membidik lawan.
Tulup (dalam bahasa Jawa) atau sumpit, bentuknya sederhana. Berupa laras bambu yg tidak beruas serta berukuran kecil, mungkin seukuran telunjuk atau jempol orang dewasa. Ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan dapat pendek atau panjang. Bahkan dulu, banyak yg berjualan tulup di sekitar SD.
Hal seru soal Tulup tentu adalah ketika memainkannya. Permainan ini konsepnya tembak-tembakan, jadi harus mengpakai peluru.
Bahan untuk pelurunya, biasanya memakai kacang hijau. Caranya kacang hijau dimasukkan dalam mulut, lalu ditembakan dengan cara ditiup kuat-kuat lewat lubang tulupnya. Makanya, tak jarang, anak-anak jaman itu sering mendapat amarah dari ibunya gara-gara kacang hijau di dapur habis buat peluru.
Seiring berjalannya waktu, permainan anak-anak pun makin berkembang. Kabar buruknya, Tulup juga seolah menghilang sekarang.
Ada baiknya mainan-mainan seperti ini dihidupkan lagi, tak cuma untuk melestarikan budaya tradisional, tetapi juga menolong anak-anak sekarang untuk lebih aktif bergerak. Selain itu, permainan perang tulup juga mengajarkan sportivitas. Sebab sebelum permainanan dimulai, anak-anak akan menciptakan peraturan terlebih dahulu, misalnya bagian tubuh mana yg tidak boleh ditembak. SUMBER Hari ini 19:42