• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Kamu Mau Jadi Mahasiswa atau Mau Jadi Robot?

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Kamu Mau Jadi Mahasiswa atau Mau Jadi Robot?

Cangkeman.net -Aku heran sama kawan-kawan mahasiswa, mereka ini dibiayai oleh orang tuanya berjuta-juta bahkan hingga puluhan juta rupiah untuk kuliah. Tapi banyak dari mereka mengambil kesempatan itu cuma untuk mengucapkan kata, "iya, Bu. Tidak, Pak. Baik, Bu. Sudah cukup, Pak. Terima kasih, Bu. Terima Kasih, Pak. Mohon maaf, Bu, Mohon maaf, Pak." sembari tidak lepas dengan emothigh five.

Yang jadi pertanyaanku adalah, apakah mereka benar-benar memahami apa yg dipaparkan oleh dosen, atau cuma sebatas memahami dirinya sendiri bahwa mereka belum paham, alhasil cuma kalimat itu yg dapat mereka ucapkan. Menurutku, kalau sikap yg lahir dari seorang mahasiswa itu cuma sebatas itu-itu saja, itu sangat tidak etis & tidak memiliki rasa hormat kepada orang tua yg sudah membiayainya. Ya, meskipun kita juga harus akui hal itu tidak terjadi pada semua mahasiswa. Tapi sejauh ini yg saya rasakan sebagai mahasiswa, mahasiswa seperti tadi itu jumlahnya mayoritas.

Tak perlu riset segala macam untuk membuktikannya, kalau anda juga mahasiswa pasti juga menemukan kawan-kawan yg sikapnya seperti itu. Atau jangan-jangan kalian juga termasuk? Tapi kayanya enggak mungkin jamaahCangkemanyang jadi mahasiswa itu sikapnya cuma manut, manut & manut layaknya robot buatan china. Aku menyebutnya robot, karena mereka itu secara sistematis & konsisten bersikap seperti itu ketika kelas perkuliahan. Beragam pertanyaan, diskusi, & saling bantah nyaris jarang ditemukan di dalam kelas.

Para mahasiswa robot ini cuma kalau dijelaskan berbagai macam materi perkuliahan biasanya hana akan ditelah mentah-mentah, seakan-akan materinya akan langsung representatif dalam otaknya. Padahal semestinya otak kita itu bertugas untuk mengolah segala hal yg masuk lalu menilai apakah yg masuk tersebut benar atau tidak, relevan atau tidak. Kalau dibilang semua yg diajarkan dosen adalah suatu kebenaran, itu sangat berbahaya bagi stimulus kita, kita akan mudah terkena hoaks, juga akan mudah termakan oleh sesuatu yg sifatnya dogmatis. Maksudku begini, yg namanya dosen itu cuma identitas, autentisitasnya masih manusia, & kita tahu bahwa manusia itu tidak sering benar. Bukan cuma pada dosen saja, semua yg dikatakan oleh semua orang itu menurutku cuma perspektif, bukan kebenaran. Maka dari itu kita perlu menimbang, menyaring, memikirkan sesuatu yg kita dapat. Bukan cuma menerima, menerima, & menerima.

Mempertanyakan, mendebat, danmendiskusikan apa yg dihinggakan dosen memang kerapkali dinilai sebagai sesuatu yg melanggar etika. Menurutku, banyak sekalimis-persepsi tentang hal ini. Dengan mendayapakai akal kita, bukan berarti kita tidak memiliki etika kepada dosen. Justru malah kita beretika kepada Tuhan yg sudah memberikan akal. Lagian nih, hal-hal yg patut dipertimbangkan dari paparan dosen itu adalah segala sesuatu yg sifatnya masih abstrak & relatif, bukan tentang personalitasnya. Fokus kita adalah pada yg dihinggakan, bukan pada yg menyampaikan. Pun dengan bahasa & cara-cara yg beretika.

Pada intinya, jangan sering puas dengan pemaparan dosen. Beliau itu memang seorang yg pakar dalam bidangnya. Tetapi bukan berarti ketika beliau ahli, beliau tidak hilang dari aspek kesalahan. Lagipula yg namanya mahasiswa itu yah orang yg lagi mencari ilmu di perguruan tinggi. Yang artinya sudah sepantasnya untuk mendayapakai akalnya, bukan malah mendayapakai budaya manut, manut, & manut seperti halnya robot.

Kita ini makhluk istimewa yg dikaruniai akal & juga termasuk manusia beruntung karena sempat jadi mahasiswa, di mana banyak di antara kita yg tidak dapat mencapai hal itu. Jadi kalau kita masih begini & begitu seperti halnya robot, apa kalian enggak sungkan kepada orang tua yg membiayai, & Tuhan yg memberikan akal?

Tulisan ini ditulis oleh Ahmad Fauzan diCangkemanpada 15 Oktober 2021


Hari ini 00:18
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.