• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Berita Kami Sebenarnya Lelah dan Kecewa

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. hendladi
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

hendladi

IndoForum Beginner D
No. Urut
113568
Sejak
15 Jan 2011
Pesan
685
Nilai reaksi
2
Poin
18
1803245620X310.JPG


KOMPAS.com — Tiga belas tahun bukan waktu yang pendek untuk sebuah pencarian. Tapi, juga bukan waktu yang panjang untuk sebuah perjuangan atas sebuah keyakinan. Yang pasti, 13 tahun telah melahirkan rasa lelah dan kecewa.

Ikatan Keluarga Orang Hilang (Ikohi) telah tiga belas tahun mencari 13 aktivis yang hilang pada tahun 1998 (baca: 13 Tahun Mencari 13 Orang Hilang). Apakah 13 tahun melunturkan optimisme? Ketua Ikohi Mugiyanto menjawab tegas, tidak pernah sama sekali.

"Pesimis menurut saya tidak, tapi lelah iya. Lelah dan kecewa. Saya rasa perasaan itu sah, ini sudah 13 tahun. Harapan mereka (keluarga korban) bukan suatu yang muluk-muluk. Harapan mereka sangat sederhana yang sangat ingin bisa diwujudkan oleh SBY (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono) dan siapa pun presidennya. Mereka ingin tahu kejelasan nasib keluarga mereka, apakah masih hidup? Kalau sudah mati, di mana kuburnya? Tapi, jawaban itu tidak pernah ada. Inilah yang menyebabkan perasaan lelah, marah dan kecewa," tutur Mugiyanto, dalam perbincangan dengan Kompas.com dalam sebuah kesempatan.

Tahun ini, genap 13 tahun peristiwa penculikan aktivis tahun 1998 terjadi. Ikohi mencanangkan “G13: Mereka Belum Kembali”. G artinya gerakan. "G13 itu inisitaif kita untuk kembali mengingatkan pemerintah dan masyarakat karena kebetulan ada memomentum 13 korban, 13 Maret, dan 13 tahun. Tiga belas orang belum kembali sampai hari ini," ujar Mugiyanto.

Rangkaian kegiatan “G13” berlangsung dari tanggal 1 Maret sampai 13 Maret. Ikohi menggelar kampanye di dunia maya, peluncuran album "Mereka Belum Kembali" oleh 13 band dan berisi 13 lagu. Selain itu, ada juga ada road show dengan berbagai media.

Tiga belas orang yang dinyatakan hilang adalah Petrus Bima Anugrah, Herman Hendrawan, Suyat, Wiji Thukul, Yani Afri, Sonny, Dedi Hamdun, Noval Al Katiri, Ismail, Ucok Siahaan, Hendra Hambali, Yadin Muhidin, dan Abdun Nasser.

Berbagai gejolak perasaan yang dihadapi Ikohi, lanjut Mugiyanto, tidak menyurutkan harapan para keluarga korban untuk mencari anak maupun suami mereka. Ada yang berusaha menerima keadaan, ada pula yang gigih berjuang pantang mundur.

"Tapi, mereka saya yakin tidak pernah kehilangan harapan. Ada yang mungkin berusaha menerima dan melupakan kekejaman Orde Baru, seperti artis Eva Arnas yang suaminya Deddy Hamdun termasuk 13 yang hilang. Saya tidak tahu persis kenapa Eva tidak terlibat lagi dalam advokasi, tapi menurut saya, dia pasti punya alasan sendiri. Mungkin dia sudah pasrah menerima keadaan ini," katanya menjelaskan.

Ikohi, ujar Mugiyanto, kadang hilang akal. Berbagai cara termasuk acara Kamisan (unjuk rasa keluarga korban pelanggaran HAM dengan berdiri di depan Istana Negara setiap hari Kamis pukul 16.00 hingga 17.00) ternyata tak mampu menggugah hati Presiden Yudhoyono untuk sekadar berbincang mendengar jeritan hati kebanyakan kaum ibu yang memakai baju hitam. Bahkan, Ikohi pernah sengaja melakukan aksi mendirikan tenda di depan istana agar ditangkap polisi yang berjaga di sana.

"Kita sudah melakukan banyak cara dan aksi. Kita sampai membuat kegiatan yang memang kita sengaja lakukan pada 29 September 2010 lalu, yaitu sengaja mendirikan tenda di depan istana dengan tujuan ditangkap oleh polisi. Kenapa? Karena hanya dengan cara demikian SBY memerhatikan kita karena selama ini diacuhkan terus," ungkap Mugi.

Kepastian

Korban dan keluarga korban, tegas Mugiyanto, pertama-tama mengharapkan satu hal: kepastian tentang nasib keluarga mereka. Ikohi juga secara tegas menolak gagasan rekonsiliasi. “Rekonsiliasi no way! Tidak ada perdamaian dengan pelaku. Enak saja selama ini dibiarkan, lalu minta rekonsilasi,” katanya.

Kalaupun ada gagasan rekonsiliasi, Ikohi punya syarat. “Jelaskan dulu di mana anak mereka dan di mana suami mereka. Mereka sudah meninggal atau masih hidup? Itu, kan, pertanyaan dan harapan-harapan yang sudah ratusan kali mereka sampaikan. Harus ada jawaban itu. Kalau tidak ada jawaban, jangan pernah ngomong rekonsiliasi,” tuturnya.

Selanjutnya, rekonsiliasi tidak menghapus tindak pidana. Ikohi ingin rekonsiliasi dibangun dengan kejujuran. “Kebenaran harus diungkap dan dibuktikan di pengadilan. Kami masih sangat yakin bahwa setiap tindak kejahatan harus ada hukumannya. Every single crime must be punished. Kenapa? Kalau tidak, kejadian yang sama akan berulang. Kami masih yakin bahwa hukuman bisa menimbulkan efek jera,” tegas dia.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.