Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Lagi & lagi masalah pendidikan tidak akan pernah habis untuk dibahas, terlebih pendidikan harus melalui wadah tertentu seperti sekolah!
Di zaman modern sesudah pandemi terjadi ternyata pendidikan tidak harus berada dalam sekolah, dengan adanya internet membuka banyak ilmu lebih mudah untuk dipelajari. Lantas kalau belajar secara berdikari itu bukanlah pendidikan? Tentu jawabnya tidak bukan?
Oke, nanti saja kita pikirkan hal itu, saat ini kita akan bahas kalau sekolah sebelum pandemi ada yg menganggapnya sebagai penjara! Hmm, sangat menarik bukan.
Terlebih ada ungkapan bahwa sekolah menciptakan banyak orang jadi pintar! Ouhh, sepertinya hal ini harus di kritisi, karena pintar itu dalam hal apa? Karena faktanya generasi masyarakat yg bersekolah di Indonesia merosot kualitasnya, ini terlihat dari moralitas bangsa ini yg gagal jadi pintar karena bersekolah.
Intermezzo sedikit, masih ingat kasus Kolonel & 2 orang anak buah lainnya di jajaran TNI yg menabrak orang lalu tidak bertanggung jawab, bahkan korban dibuang ke sungai lalu mati. Secara jabatan pangkat kolonel itu orang pintar namun secara moral sudah gagal. Jadi pintar itu jadi abstrak sekarang ini.
Tapi kita tinggalkan dulu intermezzo diatas, karena pintar & moral mengatakan banyak orang berbeda. Oke, bung kita lanjut pembahasannya.
Disini bukan kita tak boleh bersekolah, namun sistem pendidikan di Indonesia malah memperburuk kualitas generasi muda. Kenapa dapat dihinggakan hal seperti itu?
Jadi begini ceritanya, kalau anda pernah membaca tulisan dari George Bernard Shaw seorang dramawan, kritikus juga polemis. Dia mengatakan "Sekolah itu kadang-kadang lebih buruk daripada penjara" karena menurut dia, dipenjara tidak ada PR, dipenjara tidak ada seseorang harus berpengetahuan tertentu, tidak ada yg dipaksa untuk dicekoki berbagai macam ilmu hingga berjam-jam lantas setelah itu terakhirnya akan ada penilaian. Hal itulah yg menyebabkan Bernard berpendapat demikian.
Ternyata pendapat tersebut dapat dibenarkan ketika kita masuk ke dalam dunia sekolah, contohnya anak SD sudah diberikan pertanyaan yg tidak relevan untuk kehidupan dirinya pada waktu itu maupun masa yg akan datang.
Misalnya gini, anak-anak ditanyakan macam-macam arah aliran sungai? Lalu dijawab ada sungai konsekuen, subsekuen, obsekuen, resekuen, insekuen. Nah setelah anak-anak itu paham lantas hafal arah aliran sungai, itu untuk apa? Karena ketika ia dewasa HRD buruh pabrik tidak akan bertanya tentang arah aliran sungai, bahkan penghulu ketika menikahpun tidak mempertanyakan tentang soal arah aliran sungai.
Bahkan untuk pejabat negara seperti Presiden, Menteri & DPR juga mungkin tidak paham tentang soal teknis tentang arah aliran sungai. Tapi buktinya mereka dapat jadi pejabat negara! Artinya pertanyaan-pertanyaan seperti itu tak relevan untuk masa depan peserta didik.
Karena pertanyaan itu jadi acuan nilai siswa, ada kkm nya, kalau tidak sesuai kkm akan dapat tidak naik kelas. Maka pertanyaan-pertanyaan itu jadi sangat penting.
Padahal kalau kita mau berkaca pada pendidikan di masa Belanda, sekolah itu bukan untuk ujian tetapi mendidik anak supaya berfikir secara kritis. Tak heran banyak orang hebat dengan pemikiran kritisnya lahir di masa Belanda.
Pendidikan eropa saat ini mengajarkan siswa untuk berfikir kritis, kronologis, & optimis untuk terbiasa menghadapi hal seperti itu dimasa depannya nanti. Bakat mereka yg digali & disempurnakan untuk jadi para ahli.
Sedangkan pendidikan di Indonesia dapat menciptakan bakat-bakat yg dimiliki si anak hilang. Contoh simple, anak itu suka menggambar ketika di kelas tetapi kalau ketahuan guru dimarahi, maka pelukis di Indonesia sudah sengaja dimatikan sejak SD.
Bahkan contoh yg hangat & jadi perbincangan para penulis di facebook, dimana ada guru pondok asrama sekolah merobek buku novel dari siswa didik. Ini sama saja mematikan minat belajar membaca anak, bahkan mematikan jiwa novelis muda yg harap berkarya. Intinya pelajaran itu harus sesuai kurikulum, harus sesuai dengan aturan-aturan ketat yg berlaku. Apakah ini bukan penjara namanya?
Berapa banyak siswa yg dipaksa belajar tentang pelajaran yg tidak dia minati. Bakat-bakat mereka seakan dibunuh, inilah yg menyebabkan SDM di Indonesia krisis. Karena tidak pakar dalam bidangnya, bayangkan lulusan Sarjana pertanian kerja dibagian administrasi itupun ada loker dari orang dalam.
Jadi Sekolah seakan dipaksa oleh pemerintah untuk pintar dalam satu hal, tetapi gak ngerti pintarnya itu untuk apa! Bukannya begitu?
Ini kritik untuk pendidikan Indonesia yg masih berjibaku dengan nilai ujian, ditakutkan masa depan Sekolah akan digantikan oleh google, youtube, bayangkan ada orang sukses karena nyontek dari youtube.
Mereka dapat berkreasi sesuai bakatnya di youtube, para penulis novel, cerpen, dapat menuang bakatnya di kaskus. Komikus dapat berkarya di webtoon, musikus dapat berkarya di spotify.
Kalau sudah seperti ini fungsi sekolah untuk apa nantinya? Karena siswa sudah tak membutuhkan guru, mereka sering bertanya di forum, menciptakan komunitas & sebagainya. Mereka pintar berkat adanya teknologi internet, ini yg harus diwaspadai. Bahkan untuk jadi ustadz pun dapat cuma dengan mengandalkan google, teknologi tidak dapat dibendung.
Contoh simple, Fiki Naki belajar bahasa asing cuma melalui youtube & ome tv. Dan hasilnya dapat menciptakan konten dengan bayaran yg luar biasa, apakah Fiki membayar guru bahasa? Tidak ia belajar karena menuruti bakatnya yg memang suka bahasa, & guru bahasa di youtube sudah banyak supaya dapat native speaker.
Kuncinya cuma mau atau tidak belajar sesuai bakatnya, jadi sekolah cuma untuk mendapatkan ijazah saja. Tapi dapat jadi dimasa depan ijazahpun tak berlaku, & banyak orang tua siswa lebih bahagia mengeluarkan uang untuk memasang wifi 5G. Agar si anak dapat menyalurkan bakatnya dengan belajar dari internet. Daripada harus membayar untuk sekolah, tidak ada jaminan juga sekolah akan jadi orang sukses dimasa depan!
Contoh simple balita masa kini sering melihat youtube, ketika si balita tadi sering mendengarkan lagu bahasa Inggris, konten bahasa Inggris maka bahasa Inggris si anak pun sudah terasah secara tidak langsung paham dengan bahasa Inggris.
Apakah dimasa depan Pintar juga tidak harus dari Sekolah? Semoga sistem pendidikan di Indonesia dapat berbenah.
Apa tanggapanmu dengan hal ini kawan?
Terima kasih yg sudah membaca thread ini hingga akhir, bila ada kritik silahkan dihinggakan & semoga thread ini bermanfaat, tetap sehat & merdeka. See u next thread.
"Nikmati Membaca Dengan Santuy"
--------------------------------------
Tulisan : c4punk@2021
referensi : klik, klik
Pic : google