Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Seperti yg sudah saya ceritakan pada bagian sebelumnya, teramat banyak yg mempengaruhi terciptanya sebua rindu. Entah itu jarak, kehilangan, kepergian, atau ketertinggalan. Hal-hal tersebut mencetus kelahiran sebuah rindu. Namun, paa kenyataan hubunganku denganmu, saya mengalami fase di mana saya tinggal olehmu tanpa sebab, menciptakan rasa hangat yg dahulu begitu nikmat, berganti dengan sebuah rindu yg teramat dharap. Diam tanpa satu pun ucapan.
Waktuku kini dikendalikan oleh rasa rindu. Apalagi saat malam dating, rindu pun sudah menikamku habis-hadapatn. Kadang saya heran. Saat letih datang, rindu sering kali tidak mengerti, ia bahagia berkediaman pada diriku. Membuat mata sulit memejam, menciptakan logika & pikiranku jadi bentakan.
Bila sudah demikian, apa yg begitu indah dari sebuah mengatakan rindu kalau bukan menikmati kesendirian, merayakan sepi pada kehampaan masing-masing, saling memeluk dari pada keheningan rindu yg begitu bising. Saling memenjarakan asa untuk berjumpa & menikmati air mata sebagai satu-satuya hidangan wajib kala merindu.
Kadang saya berfikir harap membunuh rasa ini. Tapi, saat saya mencoba menikamnya, semakin hatiku merasa tertusuk pisau yg kutancapkan sendiri. Di saat saya igin menjaga jarak dengan rimdu, rindu malah semakin kurasa dekat. Atau, rindu sudah benar-benar melekat pada hati & pikiran ini? Jikalau memang sudah melekat, begitu cepatkah ia bertempat pada hati ini? Atau, ini adalah sebuah kado dari keterpisahan kita yg tidak beralasan? Kalau benar ini adalah kado, kapan saya menerimanya? Mengapa saya memilikinya saat segalanya sudah berakhir? Mengapa saya memilikinya saat segalanya sudah berakhir? Bukankah saat anda pergi, tidak ada satu pun pemberian yg kmu tinggalkan.
Rindu itu pemaksa yg tidak bias ditolak. Ia seperti tuan & saya selayak budak yg harus menuruti semua keharapannya. Aku tidak akan pernah sanggup mengutarakan mengatakan menolak, sekalipun hal-hal yg dilakukan bertolak belakang dalam segi rasional. Walau terkadang diriku terlihat sangat kuat, namun pada rindu diriku bias saja lemahdan terikat. Membelenggu diriku sendiri oleh rindu yg saya ciptakan sendiri. Lalu, yg saya temukan hanyalah keterpaksaan-keterpaksaan yg berusaha untuk kunikmati. Diri menolak, namun hatiku tidak bia berbuat banyak.
Dirimu adalah rumah tempat rasaku berkediaman. Namun, saat kita saling diam, teroakau oleh jarak, terbunuh oleh kepergian, terpenjara pada kehampaan, & mendapati kehilangan, rindu akan berkediaman & bermukim pada hati kita yg tidak lagi aman.
Hari ini 09:02
Waktuku kini dikendalikan oleh rasa rindu. Apalagi saat malam dating, rindu pun sudah menikamku habis-hadapatn. Kadang saya heran. Saat letih datang, rindu sering kali tidak mengerti, ia bahagia berkediaman pada diriku. Membuat mata sulit memejam, menciptakan logika & pikiranku jadi bentakan.
Bila sudah demikian, apa yg begitu indah dari sebuah mengatakan rindu kalau bukan menikmati kesendirian, merayakan sepi pada kehampaan masing-masing, saling memeluk dari pada keheningan rindu yg begitu bising. Saling memenjarakan asa untuk berjumpa & menikmati air mata sebagai satu-satuya hidangan wajib kala merindu.
Kadang saya berfikir harap membunuh rasa ini. Tapi, saat saya mencoba menikamnya, semakin hatiku merasa tertusuk pisau yg kutancapkan sendiri. Di saat saya igin menjaga jarak dengan rimdu, rindu malah semakin kurasa dekat. Atau, rindu sudah benar-benar melekat pada hati & pikiran ini? Jikalau memang sudah melekat, begitu cepatkah ia bertempat pada hati ini? Atau, ini adalah sebuah kado dari keterpisahan kita yg tidak beralasan? Kalau benar ini adalah kado, kapan saya menerimanya? Mengapa saya memilikinya saat segalanya sudah berakhir? Mengapa saya memilikinya saat segalanya sudah berakhir? Bukankah saat anda pergi, tidak ada satu pun pemberian yg kmu tinggalkan.
Rindu itu pemaksa yg tidak bias ditolak. Ia seperti tuan & saya selayak budak yg harus menuruti semua keharapannya. Aku tidak akan pernah sanggup mengutarakan mengatakan menolak, sekalipun hal-hal yg dilakukan bertolak belakang dalam segi rasional. Walau terkadang diriku terlihat sangat kuat, namun pada rindu diriku bias saja lemahdan terikat. Membelenggu diriku sendiri oleh rindu yg saya ciptakan sendiri. Lalu, yg saya temukan hanyalah keterpaksaan-keterpaksaan yg berusaha untuk kunikmati. Diri menolak, namun hatiku tidak bia berbuat banyak.
Dirimu adalah rumah tempat rasaku berkediaman. Namun, saat kita saling diam, teroakau oleh jarak, terbunuh oleh kepergian, terpenjara pada kehampaan, & mendapati kehilangan, rindu akan berkediaman & bermukim pada hati kita yg tidak lagi aman.
Hari ini 09:02