yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Peringatan dua abad Kadipaten Puro Pakualaman Yogyakarta akan diisi berbagai kegiatan budaya mulai hari Kamis (21/6) hingga Minggu (24/6/2012). Puncak acara peringatan akan ditandai karnaval mubeng Kadipaten Paku Alaman.
Rencananya, karnaval mengitari Kadipaten Puro Paku Alam itu akan diikuti warga Yogyakarta dengan mempertontonkan berbagai gaya budaya khas masing-masing warga kampungnya.
Ketua Panitia Peringatan, Kanjeng Gusti Pangeran Tjondrokusumo, Senin (11/6/2012), menjelaskan, dua (dwi) abad Puro Pakualaman jatuh pada 22 Juni 1812. Tanggal itu merupakan hari jumenengan (naik tahta) Kanjeng Gusti Paku Alam I. Jumenengan itu awal dimulainya pemerintahan Puro Pakualaman.
Acara peringatan diawali dengan ziarah agung. Berangkat dari Puro Pakualaman pukul 10 menuju Makam Raja-Raja di Kotagede Yogyakarta. Makam raja-raja Kotagede ini merupakan makam yang dimiliki oleh dua Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta. Kadipaten Puro Pakualaman sendiri dulu merupakan bagian dari Keraton Surakarta.
Selepas dari Makam Raja-Raja Kotagede, ziarah dilanjutkan ke makam Girigondo yang merupakan makam dari trah Pakualaman. Malam harinya pukul 20.00 di Bangsal Sewotomo berlangsung mujahadah akbar yang dipimpin Kyai Haji Abdul Muhaimin dari Pesantren Nurul Umahat Kotagede.
Sebelum Mujahadah dilakukan persembahan tembang-tembang Mocopat (tembang Jawa) bersama. Tari klasik Yang istimewa dalam peringatan ini adalah kembali ditampilkannya tari-tari klasik kekayaan dari Keraton Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman. Tari-tari dari dua lembaga pemangku budaya Jawa ini merupakan karya-karya yang sudah berusia ratusan tahun.
Selepas persembahan tari dilanjutkan dengan sarasehan tentang Hadeging Projo atau tentang berdirinya Kadipaten Pakualaman. Peringatan juga akan diisi dengan kegiatan klasik dan khas masyarakat Jawa, lomba tumpeng.
Tumpeng merupakan bangunan dari nasi yang dibuat mirip gunung atau kerucut, di seputar tumpeng diisi dengan sayur-sayuran yang disebut "gudangan" dan berbagai sesaji lainnya. Lomba tumpeng ini diikuti oleh warga tingkat kecamatan di seluruh wilayah Provinsi DI Yogyakarta.
Rencananya, karnaval mengitari Kadipaten Puro Paku Alam itu akan diikuti warga Yogyakarta dengan mempertontonkan berbagai gaya budaya khas masing-masing warga kampungnya.
Ketua Panitia Peringatan, Kanjeng Gusti Pangeran Tjondrokusumo, Senin (11/6/2012), menjelaskan, dua (dwi) abad Puro Pakualaman jatuh pada 22 Juni 1812. Tanggal itu merupakan hari jumenengan (naik tahta) Kanjeng Gusti Paku Alam I. Jumenengan itu awal dimulainya pemerintahan Puro Pakualaman.
Acara peringatan diawali dengan ziarah agung. Berangkat dari Puro Pakualaman pukul 10 menuju Makam Raja-Raja di Kotagede Yogyakarta. Makam raja-raja Kotagede ini merupakan makam yang dimiliki oleh dua Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta. Kadipaten Puro Pakualaman sendiri dulu merupakan bagian dari Keraton Surakarta.
Selepas dari Makam Raja-Raja Kotagede, ziarah dilanjutkan ke makam Girigondo yang merupakan makam dari trah Pakualaman. Malam harinya pukul 20.00 di Bangsal Sewotomo berlangsung mujahadah akbar yang dipimpin Kyai Haji Abdul Muhaimin dari Pesantren Nurul Umahat Kotagede.
Sebelum Mujahadah dilakukan persembahan tembang-tembang Mocopat (tembang Jawa) bersama. Tari klasik Yang istimewa dalam peringatan ini adalah kembali ditampilkannya tari-tari klasik kekayaan dari Keraton Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman. Tari-tari dari dua lembaga pemangku budaya Jawa ini merupakan karya-karya yang sudah berusia ratusan tahun.
Selepas persembahan tari dilanjutkan dengan sarasehan tentang Hadeging Projo atau tentang berdirinya Kadipaten Pakualaman. Peringatan juga akan diisi dengan kegiatan klasik dan khas masyarakat Jawa, lomba tumpeng.
Tumpeng merupakan bangunan dari nasi yang dibuat mirip gunung atau kerucut, di seputar tumpeng diisi dengan sayur-sayuran yang disebut "gudangan" dan berbagai sesaji lainnya. Lomba tumpeng ini diikuti oleh warga tingkat kecamatan di seluruh wilayah Provinsi DI Yogyakarta.