yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Penyelenggaraan PON XVIII – 2012 Riau sarat cobaan. Dari kasus korupsi yang menyeret sejumlah pejabat dan para legislator daerah, belum rampungnya sejumlah venue padahal waktu pelaksanaan yang dijadwalkan 9 September 2012 makin dekat, hingga ancaman gangguan, salah satunya dari provinsi tetangga, Jambi. Berupa kabut asap.
Hingga saat ini kabut asap akibat kebakaran ribuan hektar lahan dan hutan di Jambi belum juga hilang. Kedekatan jarak dua provinsi serta arah angin, menimbulkan kekhawatiran, asap akan mengarah ke Riau.
"Jambi berbatasan langsung dengan Riau. Untuk itu Pemerintah Provinsi Jambi akan berupaya melakukan pemadaman terhadap ribuan hektar lahan dan hutan yang terbakar, agar tidak menganggu pelaksanaan PON di Riau," terang Gubernur Jambi, Hasan Basri Agus usai memantau lokasi kebakaran lahan di Desa Arang-Arang, Kumpeh Ulu, Kabupaten Muarojambi Provinsi Jambi, Sabtu 25 Agustus 2012.
Selain melakukan pemadaman secara intensif dengan menurunkan personel Manggala Agni di lokasi kebakaran, Pemerintah Provinsi Jambi juga akan bertemu dengan Menkokesra, Selasa 28 Agustus 2012 untuk membahas persoalan kabut asap.
"Jika hujan tidak turun-turun juga dalam waktu dekat, dan kabut asap semakin tebal, kita akan minta bantuan kepada Menkokesra untuk hujan buatan di Provinsi Jambi," jelas gubernur.
Dijelaskannya, saat ini upaya yang dilakukan Manggala Agni di lokasi kebakaran lahan dengan menyemprot dan menyuntik lahan gambut hingga tidak mengeluarkan asap. Sebab, untuk memadamkan api di lahan gambut yang ada di Desa Arang-Arang cukup sulit. "Menyuntik gambut dengan air sedalam 1,5 meter sampai jadi bubur salah satu cara yang dilakukan. Karena, api bisa sampai kedalaman 5 meter di lahan gambut ini," terangnya.
Sejauh ini, Manggala Agni hanya bisa memadamkan api 1,5 hektar per hari. Sedangkan, lahan yang terbakar di Desa Arang-Arang saja 1.000 hektar lebih. "Manggala Agni sudah stand by di lokasi kebakaran sejak Juli lalu. Kita harapkan, lahan yang terbakar ini bisa segera dipadamkan," ujarnya.
Gubernur juga mengakui, kondisi asap di Jambi semakin mengkhawatirkan. Sebab, selain makin pekat, juga penerbangan di Jambi beberapa kali mengalami gangguan. "Saat pagi hari, banyak lalu lintas penerbangan terganggu dan tidak bisa mendarat di Jambi," ungkapnya.
Berdasarkan laporan terbaru yang didapatkan Hasan Basri Agus, titik panas atau hot spot di Jambi pada Sabtu 25 Agustus 2012 terdapat 10 titik. Sedangkan di Sumatera Selatan terdapat puluhan titik panas. "Kabut asap ini, bisa juga dari kiriman provinsi lain. Kita tidak mengada-ngada. Karena, titik panas ini berdasarkan pantauan satelit NOAA," ungkapnya.
Sedangkan mengenai kesehatan udara di Jambi diketahuinya masih dalam kondisi sedang. Sehingga, masih belum perlu dilakukan pembagian masker kepada anak sekolah dan masyarakat. Meski demikian, jika tidak segera diatasi dan ditanggulangi, tidak menutup kemungkinan kondisi udara di Jambi menjadi semakin tidak sehat.
"Saya sudah memberikan instruksi kepada bupati/walikota untuk melarang masyarakat melakukan pembakaran lahan. Karena, sanksi akan diberikan kepada yang membakar lahan dengan sengaja," tegasnya.
Upaya sosialisasi terus dilakukan Pemerintah Provinsi Jambi ke tengah masyarakat. Dengan harapan, pembakaran lahan atau hutan tidak terjadi lagi. Sebab, diprediksi, musim kemarau di Provinsi Jambi akan terus berlanjut sampai Oktober 2012 ini.
Sementara itu, diakui Trisiswo, Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jambi, tugas utama mereka melakukan pengawasan di kawasan konservasi. Namun, dikarenakan hanya Manggala Agni yang memiliki alat lengkap untuk memadamkan kebakaran lahan, maka untuk lahan masyarakat juga mereka yang ikut memadamkan. "Saat ini sudah dua tim Manggala Agni diturunkan untuk memadamkan api di lahan gambut. Satu tim sekitar 30 orang anggota," jelasnya.
Diakuinya, untuk Provinsi Jambi, ada ribuan hektar lahan dan hutan yang terbakar dan menyebabkan kabut asap. Selain di Kabupaten Muarojambi, juga terjadi di Taman Nasional Berbak (TNB) Kabupaten Tanjung Jabung Timur. "Ada 300 hektar hutan yang terbakar di Taman Nasional Berbak yang berada di pantai timur Provinsi Jambi," ungkapnya.
Pihaknya diakuinya akan terus berupaya memadamkan api yang saat ini masih terus membakar lahan gambut di beberapa titik lahan di Muarojambi. "Manggala Agni akan terus masuk ke lokasi kebakaran lahan, dan berupaya untuk memadamkan api penyebab kabut asap ini," tegasnya.
Hingga saat ini kabut asap akibat kebakaran ribuan hektar lahan dan hutan di Jambi belum juga hilang. Kedekatan jarak dua provinsi serta arah angin, menimbulkan kekhawatiran, asap akan mengarah ke Riau.
"Jambi berbatasan langsung dengan Riau. Untuk itu Pemerintah Provinsi Jambi akan berupaya melakukan pemadaman terhadap ribuan hektar lahan dan hutan yang terbakar, agar tidak menganggu pelaksanaan PON di Riau," terang Gubernur Jambi, Hasan Basri Agus usai memantau lokasi kebakaran lahan di Desa Arang-Arang, Kumpeh Ulu, Kabupaten Muarojambi Provinsi Jambi, Sabtu 25 Agustus 2012.
Selain melakukan pemadaman secara intensif dengan menurunkan personel Manggala Agni di lokasi kebakaran, Pemerintah Provinsi Jambi juga akan bertemu dengan Menkokesra, Selasa 28 Agustus 2012 untuk membahas persoalan kabut asap.
"Jika hujan tidak turun-turun juga dalam waktu dekat, dan kabut asap semakin tebal, kita akan minta bantuan kepada Menkokesra untuk hujan buatan di Provinsi Jambi," jelas gubernur.
Dijelaskannya, saat ini upaya yang dilakukan Manggala Agni di lokasi kebakaran lahan dengan menyemprot dan menyuntik lahan gambut hingga tidak mengeluarkan asap. Sebab, untuk memadamkan api di lahan gambut yang ada di Desa Arang-Arang cukup sulit. "Menyuntik gambut dengan air sedalam 1,5 meter sampai jadi bubur salah satu cara yang dilakukan. Karena, api bisa sampai kedalaman 5 meter di lahan gambut ini," terangnya.
Sejauh ini, Manggala Agni hanya bisa memadamkan api 1,5 hektar per hari. Sedangkan, lahan yang terbakar di Desa Arang-Arang saja 1.000 hektar lebih. "Manggala Agni sudah stand by di lokasi kebakaran sejak Juli lalu. Kita harapkan, lahan yang terbakar ini bisa segera dipadamkan," ujarnya.
Gubernur juga mengakui, kondisi asap di Jambi semakin mengkhawatirkan. Sebab, selain makin pekat, juga penerbangan di Jambi beberapa kali mengalami gangguan. "Saat pagi hari, banyak lalu lintas penerbangan terganggu dan tidak bisa mendarat di Jambi," ungkapnya.
Berdasarkan laporan terbaru yang didapatkan Hasan Basri Agus, titik panas atau hot spot di Jambi pada Sabtu 25 Agustus 2012 terdapat 10 titik. Sedangkan di Sumatera Selatan terdapat puluhan titik panas. "Kabut asap ini, bisa juga dari kiriman provinsi lain. Kita tidak mengada-ngada. Karena, titik panas ini berdasarkan pantauan satelit NOAA," ungkapnya.
Sedangkan mengenai kesehatan udara di Jambi diketahuinya masih dalam kondisi sedang. Sehingga, masih belum perlu dilakukan pembagian masker kepada anak sekolah dan masyarakat. Meski demikian, jika tidak segera diatasi dan ditanggulangi, tidak menutup kemungkinan kondisi udara di Jambi menjadi semakin tidak sehat.
"Saya sudah memberikan instruksi kepada bupati/walikota untuk melarang masyarakat melakukan pembakaran lahan. Karena, sanksi akan diberikan kepada yang membakar lahan dengan sengaja," tegasnya.
Upaya sosialisasi terus dilakukan Pemerintah Provinsi Jambi ke tengah masyarakat. Dengan harapan, pembakaran lahan atau hutan tidak terjadi lagi. Sebab, diprediksi, musim kemarau di Provinsi Jambi akan terus berlanjut sampai Oktober 2012 ini.
Sementara itu, diakui Trisiswo, Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jambi, tugas utama mereka melakukan pengawasan di kawasan konservasi. Namun, dikarenakan hanya Manggala Agni yang memiliki alat lengkap untuk memadamkan kebakaran lahan, maka untuk lahan masyarakat juga mereka yang ikut memadamkan. "Saat ini sudah dua tim Manggala Agni diturunkan untuk memadamkan api di lahan gambut. Satu tim sekitar 30 orang anggota," jelasnya.
Diakuinya, untuk Provinsi Jambi, ada ribuan hektar lahan dan hutan yang terbakar dan menyebabkan kabut asap. Selain di Kabupaten Muarojambi, juga terjadi di Taman Nasional Berbak (TNB) Kabupaten Tanjung Jabung Timur. "Ada 300 hektar hutan yang terbakar di Taman Nasional Berbak yang berada di pantai timur Provinsi Jambi," ungkapnya.
Pihaknya diakuinya akan terus berupaya memadamkan api yang saat ini masih terus membakar lahan gambut di beberapa titik lahan di Muarojambi. "Manggala Agni akan terus masuk ke lokasi kebakaran lahan, dan berupaya untuk memadamkan api penyebab kabut asap ini," tegasnya.