facebookeb
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 210735
- Sejak
- 9 Jan 2013
- Pesan
- 7.471
- Nilai reaksi
- 96
- Poin
- 48
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengaku sudah bertemu dengan preman Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Namun, Jokowi tidak menjelaskan siapa preman yang dimaksud, di mana, dan kapan pertemuan itu digelar.
Setelah Penertiban
Sayangnya, PKL Tanah Abang Kembali ke Jalan
PKL Tanah Abang Rela Pindah asalkan ......
Pada pertemuan itu, Pemprov ingin memberi tahu program penataan di kawasan Tanah Abang. "Setelah itu, kami akan ambil tindakan. Proses penataan itu butuh waktu, insya Allah akan rampung,” kata Jokowi kepada jurnalis di Balaikota Jakarta, Senin (22/7/2013).
Gubernur mengingatkan kepada semua pihak agar berhati-hati meenggunakan fasilitas negara. Semua pihak tidak boleh menggunakan jalan di luar peruntukannya.
Jokowi yakin penataan kawasan Tanah Abang bisa rampung. Pemprov DKI Jakarta ingin memaksimalkan fungsi jalan di kawasan itu.
Konsepnya push and pull, menekan pedagang di jalan dan mendorong mereka masuk ke tempat yang disediakan. "Tidak mungkin jalan kendaraan itu dipakai untuk berjualan," katanya.
Di bawah koordinasi Dinas Perhubungan Provinsi DKI, penataan kawasan Tanah Abang berlangsung mulai Senin (22/7/2013). Penataan dilakukan dengan mengalihkan arus lalu lintas dari arah Karet atau Sudirman ke Jalan Kebon Jati dan Jati Bunder.
Sementara pengunjung Blok A dan Blok B Tanah Abang bisa masuk lewat pintu utara. Lintasan jalan untuk masuk ke Blok A dan B dari arah Karet dan Sudirman menjadi lebih panjang.
Tujuan pengalihan arus kendaraan ini ialah untuk mengurangi beban kendaraan di Jalan KH Mas Mansyur. Tidak hanya itu, penataan ini dilakukan untuk menertibkan pedagang kaki lima yang selama ini menempati badan jalan. Pemprov DKI Jakarta menyediakan tempat PKL di Blok G yang selama ini kosong.
Setelah Penertiban
Sayangnya, PKL Tanah Abang Kembali ke Jalan
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono mengatakan, keberadaan pedagang kaki lima (PKL), yang kembali mengokupasi Jalan Kebon Jati, Tanah Abang, Jakarta Pusat, terjadi karena berkurangnya volume kendaraan di jalan tersebut. Hal itulah yang menyebabkan PKL kembali ke jalan.
"Kalau jalannya dialiri terus kendaraan, PKL tidak akan punya kesempatan untuk maju," katanya saat ditemui di kawasan Tanah Abang, Senin (22/7/2013) sore.
Menurut Pristono, sejak pagi hingga siang tadi, arus kendaraan yang melewati Jalan Kebon Jati dari arah Jalan KH Mas Mansyur cukup tinggi. Hal itu karena banyak kendaraan yang masuk dalam gedung pasar.
Adapun menjelang sore, tidak ada lagi kendaraan yang hendak memasuki gedung pasar. Kendaraan justru keluar dari pasar sehingga menyebabkan penumpukan kendaraan di Jalan KH Mas Mansyur, tepat di bawah Jembatan Penghubung.
"Ini yang mereka manfaatkan. Volume kendaraan mengecil sehingga mereka mencari kesempatan dan maju," ujarnya.
Pristono optimistis, dengan pengalihan arus lalu lintas, PKL dengan sendirinya akan menyingkir dan masuk ke dalam pasar. Dia menyatakan bahwa efek positif dari pengalihan arus lalu lintas belum begitu terlihat karena baru hari pertama diberlakukan.
Ia mengatakan, target penertiban di Tanah Abang tidak hanya PKL, tetapi juga parkir liar, lori perusahaan ekspedisi, dan angkutan umum yang berhenti di sembarang tempat.
"Lori mulai berkurang karena ekspedisi yang di pinggir jalan sudah kita tertibkan dan diminta masuk ke dalam gedung. Begitu pula dengan angkutan ngetem," katanya.
Berdasarkan pengamatan kompas hingga pukul 17.00 WIB, lalu lintas di Jalan Kebon Jati terlihat lancar, meskipun PKL dan parkir liar kembali mengokupasi badan jalan. Kemacetan justru terjadi di Jalan KH Mas Mansyur ke arah Cideng, tepat di bawah jembatan penghubung. Hal itu terjadi karena banyak kendaraan yang keluar dari Gedung Blok B Pasar Tanah Abang. Adapun lalu lintas di terowongan masih lancar.
PKL Tanah Abang Rela Pindah asalkan ......
Sejumlah pedagang kaki lima di Tanah Abang menyesali rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk merelokasi PKL yang berjualan di bahu jalan menuju Gedung Blok G Pasar Tanah Abang. Mereka rela pindah asalkan mendapat jaminan keamanan.
Anton mengaku bersedia pindah apabila Pemprov DKI atau jajaran terkait bersedia memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan untuk berjualan di tempat itu. "Pokoknya PKL dipindahin boleh, tapi yang layaklah," katanya.
Ayu Hasana (50), pedagang lain, mengatakan pernah menempati Blok G. Namun, ia tak mendapat keuntungan sama sekali karena lokasi itu sepi pembeli.
"Saya pernah pindah ke Blok G, tapi nyamuk yang beli, enggak ada yang beli. Perut saya kelaparan. Bangkrut saya akhirnya sampai utang saya banyak ke mana-mana," kata Ayu.
Menurut Ayu, tempat relokasi PKL di gedung Blok G kurang tepat karena di lantai bawah gedung terdapat toko-toko grosir dan pakaian yang menjual dengan harga murah. Ia menilai kondisi seperti itu mempersulit pedagang untuk bersaing menjaring pembeli.