Strategi PENDZALIMAN DIRI.... LAGI....
Jokowi Heran, 7 Tahun di Solo Tak Ada Kejadian Menonjol
SOLO, KOMPAS.com — Wali Kota Solo Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi mengaku heran dengan tiga kejadian penyerangan pos polisi secara berturut-turut di Kota Solo. Sebab, selama tujuh tahun pemerintahannya, belum pernah ada kejadian menonjol yang berkaitan dengan kekerasan.
Jokowi mengungkapkan hal itu ketika ditemui di kantornya di Balai Kota Solo, Jumat (31/8/2012). "Sudah tiga kali kejadian seperti ini. Saya tidak tahu apakah ada hubungannya dengan pilkada atau tidak, yang pasti selama ini tidak pernah ada kejadian apa-apa. Tiba-tiba menjelang pilkada ada-ada saja kejadian semacam ini," tuturnya.
Jokowi menyatakan prihatin atas peristiwa yang menewaskan seorang petugas kepolisian Bripka Dwi Data Subekti itu. Jokowi mengaku akan menemui Kepala Polda Jateng dan jajaran TNI untuk berkoordinasi lebih jauh.
***
Benarkah? Padahal 2011 lalu ada bom di Solo
***
Bom Bunuh Diri di Gereja Kepunton Solo
Metrotvnews.com, Solo: Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Jalan Arif Rahman Hakim, Solo, Jawa Tengah, menjadi sasaran bom bunuh diri. Ledakan bom terjadi pada Ahad (25/9) sekitar pukul 10.55 WIB seperti diungkapkan Kepala Bidang Humas Polda Jateng, Kombes Jihartono kepada Metro TV, siang ini.
Polisi belum dapat memastikan jumlah korban tewas dan terluka dalam kejadian ini. Yang pasti seorang yang diduga pelaku bom bunuh tewas akibat ledakan ini. "Yang lain masih diidentifikasi," ujarnya.
Saat ini polisi sedang melakukan olah tempat kejadian perkara. Tim dari Polda Jateng juga telah dikirim ke Solo. Menurut informasi yang diperoleh, bom meledak usai jemaat keluar gereja.
Untuk mengetahui lokasi persis ledakan masih perlu identifikasi lebih lanjut. Begitu juga dengan kekuatan ledakan. "Low atau high explosive yang menentukan ahlinya yaitu tim gegana," kata Kombes Jihartono.
Menurut informasi yang diperoleh kontributor Metro TV, bom terdengar dalam radius 500 meter. Ia juga baru tahu bahwa sejauh ini seorang tewas dan beberapa orang terluka akibat kejadian ini.(BEY)
***
JOKOWI KEMANA TUH? Apa kasus bom bunuh diri bukan termasuk HAL YANG SERIUS DAN MENONJOL? Oh, mungkin karena waktu itu BELUM TERKENAL, BELUM IKUT PILKADA, JADI GAK ADA MEDIA YANG PEDULI AMA DIA DEH
Dan pelaku teror Solo ternyata....
***
Polri: Pelaku Penembakan di Solo Jaringan Teroris
SOLO, KOMPAS.com - Teror beruntun yang mengarah kepada anggota kepolisian di Kota Solo, Jawa Tengah, dalam dua pekan terakhir menuntut aparat untuk meningkatkan kewaspadaan. Pelaku penembakan, yang memiliki mobilitas tinggi, bisa memanfaatkan situasi, dan perbuatannya menimbulkan keresahan di masyarakat, diduga adalah jaringan teroris.
”Tindakan itu mengarah pada teror, bukan kejahatan konvensional,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal (Pol) Boy Rafli Amar, di Jakarta, Jumat (31/8/2012). Selama ini jaringan teroris juga menargetkan polisi sebagai sasaran aksinya.
Kamis malam, dua orang tidak dikenal mendatangi pos polisi di dekat Plaza Singosaren, Kecamatan Serengan, Solo. Pelaku menembak Brigadir Kepala Dwi Data Subekti yang bertugas di pos itu. Dwi Data tewas dengan empat luka tembakan di dada dan di lengan (Kompas, 31/8). Jenazah Dwi Data hari Jumat dimakamkan di Pemakaman Astana Temu Ireng di Kabupaten Karanganyar, Jateng.
Penembakan terhadap Dwi Data merupakan teror ketiga yang diterima polisi di Solo selama Agustus 2012. Pada 17 Agustus, Brigadir Kepala Endro dan Brigadir Kukuh yang bertugas di pos pengamanan Lebaran di Gemlegan, Serengan, Solo, ditembak. Pada 18 Agustus, pos pengamanan Lebaran di Gladak, Solo, dilempar granat (Kompas, 18-23/8).
Menurut Boy, Polri terus menyelidiki penembakan dan teror di Solo itu. ”Selongsong peluru diketahui. Jenis senjata api juga sudah diketahui,” katanya. Sepeda motor yang digunakan pelaku juga sudah teridentifikasi.
”Kami terus bergerak dan belum dapat menyimpulkan keterkaitan ketiga kasus itu,” kata Kepala Polda Jateng Inspektur Jenderal Didiek S Triwidodo ketika berkunjung ke rumah almarhum Dwi Data di Jaten, Karanganyar.
Terduga pelaku ditembak
Jumat malam, polisi bergerak cepat. Seorang terduga pelaku penembakan terhadap Dwi Data, yang belum diidentifikasi polisi, tewas ditembak di Kelurahan Tipes, Kecamatan Serengan. Pelaku diduga melawan sehingga terjadi tembak-menembak di Jalan Veteran, Solo, tak jauh dari pusat perbelanjaan Lotte Mart. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 21.30. Dalam peristiwa itu, satu anggota polisi juga tertembak.
Menurut saksi mata Sri Sumiati (46), ia sempat mendengar suara tembakan tiga kali. ”Semula saya kira suara petasan. Setelah ada ramai-ramai, saya keluar,” katanya.
Dalam tembak-menembak tersebut, terlihat satu orang terjatuh. Setelah itu, beberapa orang datang mengangkat orang yang terjatuh itu. Polisi masih mengidentifikasi orang yang tertembak itu, yang diduga pelaku penembakan terhadap Dwi Data.
Kepala Polda Jateng membenarkan adanya tembak-menembak antara polisi, terutama Densus Antiteror, dan terduga pelaku penembakan. ”Ada penggerebekan Densus. Satu orang terduga teroris tewas dan satu anggota polisi tertembak,” ujar Didiek. Dikabarkan satu polisi yang tertembak itu akhirnya juga tewas.
TAK TERKAIT PILKADA
Sebelumnya Boy menyebutkan, polisi bisa menembak di tempat pelaku dalam pengejaran. Tembak di tempat itu tentu dilakukan sesuai prosedur. ”Penggunaan senjata api terhadap pelaku yang menggunakan senjata api itu wajar dilakukan. Ini sesuai prinsip tegas dan dapat dipertanggungjawabkan,” katanya.
Boy menambahkan, sejauh ini belum ada keterkaitan kasus penembakan itu dengan Pemilu Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta, terkait pencalonan Wali Kota Solo Joko Widodo (Jokowi) sebagai calon gubernur. ”Kita harus proporsional. Jangan terjebak pemikiran yang tak berdasarkan fakta,” katanya.
Secara terpisah, Jokowi berharap teror di Solo segera terungkap. Namun, hal yang paling penting adalah warga meningkatkan kewaspadaan. Jika ada hal-hal yang mencurigakan, warga diminta segera melapor. Fungsi perlindungan masyarakat dari Satuan Polisi Pamong Praja Kota Solo juga akan dimaksimalkan.
Gubernur Jateng Bibit Waluyo, di Semarang, mengimbau warga di Solo agar tak terpengaruh dengan kasus itu. ”Jangan ada lagi hal aneh-aneh. Mari bekerja keras memajukan daerah itu,” ujarnya.
Berlangsung cepat
Sejumlah warga Solo, yang saat penembakan terhadap Dwi Data berada di sekitar tempat kejadian, Kamis malam, menyaksikan pelaku melarikan diri dengan sepeda motor berwarna biru. Warga tak berani mendekat karena pelaku yang memakai helm dan penutup mulut sempat melepaskan tembakan ke atas pula.
Suparno (46), warga yang berada 15 meter dari lokasi kejadian, mengaku melihat pelaku penembakan kembali ke sepeda motor yang dikendarai rekannya, dengan berjalan pelan sambil memasukkan senjata api ke pakaiannya. Sejak terdengar tembakan yang pertama hingga pelaku melarikan diri, dia memperkirakan peristiwa itu hanya berlangsung sekitar dua menit.
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Jateng Ahmad Daroji menilai, rentetan teror di Solo menunjukkan intelijen kecolongan. Ia berharap, aparat intelijen dari berbagai lembaga untuk bersinergi mengungkapkan teror itu. Ia juga berharap, teror di Solo tak dikaitkan dengan Pilkada DKI Jakarta.
Tokoh masyarakat Solo, Mudrick S Sangidu, sepakat dengan Daroji, kasus beruntun di Solo itu sebagai bukti aparat intelijen kecolongan. Dari tiga kasus yang semuanya menyerang kepolisian, hal itu merupakan peringatan kepada institusi kepolisian.
”Seolah-olah pelaku mengajak menjadikan polisi sebagai musuh bersama. Kalau dikaitkan dengan Pilkada DKI Jakarta, terlalu jauh,” ujarnya.
Menurut ahli hukum dari Universitas Sebelas Maret, Solo, M Jamin, teror di Solo jelas mengarah kepada polisi saja. Karena itu, polisi ditantang untuk mengungkapkan kasus itu.
”Kejadian sebelumnya kan sudah ada bukti forensik yang sebenarnya bisa diungkapkan. Polisi melalui intelijen seharusnya bisa mendeteksi,” katanya. (SON/UTI/FER/WHO)
***
Pencitraan terus... oh yeah...
dikurip dari sini
Jokowi Heran, 7 Tahun di Solo Tak Ada Kejadian Menonjol
SOLO, KOMPAS.com — Wali Kota Solo Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi mengaku heran dengan tiga kejadian penyerangan pos polisi secara berturut-turut di Kota Solo. Sebab, selama tujuh tahun pemerintahannya, belum pernah ada kejadian menonjol yang berkaitan dengan kekerasan.
Jokowi mengungkapkan hal itu ketika ditemui di kantornya di Balai Kota Solo, Jumat (31/8/2012). "Sudah tiga kali kejadian seperti ini. Saya tidak tahu apakah ada hubungannya dengan pilkada atau tidak, yang pasti selama ini tidak pernah ada kejadian apa-apa. Tiba-tiba menjelang pilkada ada-ada saja kejadian semacam ini," tuturnya.
Jokowi menyatakan prihatin atas peristiwa yang menewaskan seorang petugas kepolisian Bripka Dwi Data Subekti itu. Jokowi mengaku akan menemui Kepala Polda Jateng dan jajaran TNI untuk berkoordinasi lebih jauh.
***
Benarkah? Padahal 2011 lalu ada bom di Solo
***
Bom Bunuh Diri di Gereja Kepunton Solo
Metrotvnews.com, Solo: Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Jalan Arif Rahman Hakim, Solo, Jawa Tengah, menjadi sasaran bom bunuh diri. Ledakan bom terjadi pada Ahad (25/9) sekitar pukul 10.55 WIB seperti diungkapkan Kepala Bidang Humas Polda Jateng, Kombes Jihartono kepada Metro TV, siang ini.
Polisi belum dapat memastikan jumlah korban tewas dan terluka dalam kejadian ini. Yang pasti seorang yang diduga pelaku bom bunuh tewas akibat ledakan ini. "Yang lain masih diidentifikasi," ujarnya.
Saat ini polisi sedang melakukan olah tempat kejadian perkara. Tim dari Polda Jateng juga telah dikirim ke Solo. Menurut informasi yang diperoleh, bom meledak usai jemaat keluar gereja.
Untuk mengetahui lokasi persis ledakan masih perlu identifikasi lebih lanjut. Begitu juga dengan kekuatan ledakan. "Low atau high explosive yang menentukan ahlinya yaitu tim gegana," kata Kombes Jihartono.
Menurut informasi yang diperoleh kontributor Metro TV, bom terdengar dalam radius 500 meter. Ia juga baru tahu bahwa sejauh ini seorang tewas dan beberapa orang terluka akibat kejadian ini.(BEY)
***
JOKOWI KEMANA TUH? Apa kasus bom bunuh diri bukan termasuk HAL YANG SERIUS DAN MENONJOL? Oh, mungkin karena waktu itu BELUM TERKENAL, BELUM IKUT PILKADA, JADI GAK ADA MEDIA YANG PEDULI AMA DIA DEH
Dan pelaku teror Solo ternyata....
***
Polri: Pelaku Penembakan di Solo Jaringan Teroris
SOLO, KOMPAS.com - Teror beruntun yang mengarah kepada anggota kepolisian di Kota Solo, Jawa Tengah, dalam dua pekan terakhir menuntut aparat untuk meningkatkan kewaspadaan. Pelaku penembakan, yang memiliki mobilitas tinggi, bisa memanfaatkan situasi, dan perbuatannya menimbulkan keresahan di masyarakat, diduga adalah jaringan teroris.
”Tindakan itu mengarah pada teror, bukan kejahatan konvensional,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal (Pol) Boy Rafli Amar, di Jakarta, Jumat (31/8/2012). Selama ini jaringan teroris juga menargetkan polisi sebagai sasaran aksinya.
Kamis malam, dua orang tidak dikenal mendatangi pos polisi di dekat Plaza Singosaren, Kecamatan Serengan, Solo. Pelaku menembak Brigadir Kepala Dwi Data Subekti yang bertugas di pos itu. Dwi Data tewas dengan empat luka tembakan di dada dan di lengan (Kompas, 31/8). Jenazah Dwi Data hari Jumat dimakamkan di Pemakaman Astana Temu Ireng di Kabupaten Karanganyar, Jateng.
Penembakan terhadap Dwi Data merupakan teror ketiga yang diterima polisi di Solo selama Agustus 2012. Pada 17 Agustus, Brigadir Kepala Endro dan Brigadir Kukuh yang bertugas di pos pengamanan Lebaran di Gemlegan, Serengan, Solo, ditembak. Pada 18 Agustus, pos pengamanan Lebaran di Gladak, Solo, dilempar granat (Kompas, 18-23/8).
Menurut Boy, Polri terus menyelidiki penembakan dan teror di Solo itu. ”Selongsong peluru diketahui. Jenis senjata api juga sudah diketahui,” katanya. Sepeda motor yang digunakan pelaku juga sudah teridentifikasi.
”Kami terus bergerak dan belum dapat menyimpulkan keterkaitan ketiga kasus itu,” kata Kepala Polda Jateng Inspektur Jenderal Didiek S Triwidodo ketika berkunjung ke rumah almarhum Dwi Data di Jaten, Karanganyar.
Terduga pelaku ditembak
Jumat malam, polisi bergerak cepat. Seorang terduga pelaku penembakan terhadap Dwi Data, yang belum diidentifikasi polisi, tewas ditembak di Kelurahan Tipes, Kecamatan Serengan. Pelaku diduga melawan sehingga terjadi tembak-menembak di Jalan Veteran, Solo, tak jauh dari pusat perbelanjaan Lotte Mart. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 21.30. Dalam peristiwa itu, satu anggota polisi juga tertembak.
Menurut saksi mata Sri Sumiati (46), ia sempat mendengar suara tembakan tiga kali. ”Semula saya kira suara petasan. Setelah ada ramai-ramai, saya keluar,” katanya.
Dalam tembak-menembak tersebut, terlihat satu orang terjatuh. Setelah itu, beberapa orang datang mengangkat orang yang terjatuh itu. Polisi masih mengidentifikasi orang yang tertembak itu, yang diduga pelaku penembakan terhadap Dwi Data.
Kepala Polda Jateng membenarkan adanya tembak-menembak antara polisi, terutama Densus Antiteror, dan terduga pelaku penembakan. ”Ada penggerebekan Densus. Satu orang terduga teroris tewas dan satu anggota polisi tertembak,” ujar Didiek. Dikabarkan satu polisi yang tertembak itu akhirnya juga tewas.
TAK TERKAIT PILKADA
Sebelumnya Boy menyebutkan, polisi bisa menembak di tempat pelaku dalam pengejaran. Tembak di tempat itu tentu dilakukan sesuai prosedur. ”Penggunaan senjata api terhadap pelaku yang menggunakan senjata api itu wajar dilakukan. Ini sesuai prinsip tegas dan dapat dipertanggungjawabkan,” katanya.
Boy menambahkan, sejauh ini belum ada keterkaitan kasus penembakan itu dengan Pemilu Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta, terkait pencalonan Wali Kota Solo Joko Widodo (Jokowi) sebagai calon gubernur. ”Kita harus proporsional. Jangan terjebak pemikiran yang tak berdasarkan fakta,” katanya.
Secara terpisah, Jokowi berharap teror di Solo segera terungkap. Namun, hal yang paling penting adalah warga meningkatkan kewaspadaan. Jika ada hal-hal yang mencurigakan, warga diminta segera melapor. Fungsi perlindungan masyarakat dari Satuan Polisi Pamong Praja Kota Solo juga akan dimaksimalkan.
Gubernur Jateng Bibit Waluyo, di Semarang, mengimbau warga di Solo agar tak terpengaruh dengan kasus itu. ”Jangan ada lagi hal aneh-aneh. Mari bekerja keras memajukan daerah itu,” ujarnya.
Berlangsung cepat
Sejumlah warga Solo, yang saat penembakan terhadap Dwi Data berada di sekitar tempat kejadian, Kamis malam, menyaksikan pelaku melarikan diri dengan sepeda motor berwarna biru. Warga tak berani mendekat karena pelaku yang memakai helm dan penutup mulut sempat melepaskan tembakan ke atas pula.
Suparno (46), warga yang berada 15 meter dari lokasi kejadian, mengaku melihat pelaku penembakan kembali ke sepeda motor yang dikendarai rekannya, dengan berjalan pelan sambil memasukkan senjata api ke pakaiannya. Sejak terdengar tembakan yang pertama hingga pelaku melarikan diri, dia memperkirakan peristiwa itu hanya berlangsung sekitar dua menit.
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Jateng Ahmad Daroji menilai, rentetan teror di Solo menunjukkan intelijen kecolongan. Ia berharap, aparat intelijen dari berbagai lembaga untuk bersinergi mengungkapkan teror itu. Ia juga berharap, teror di Solo tak dikaitkan dengan Pilkada DKI Jakarta.
Tokoh masyarakat Solo, Mudrick S Sangidu, sepakat dengan Daroji, kasus beruntun di Solo itu sebagai bukti aparat intelijen kecolongan. Dari tiga kasus yang semuanya menyerang kepolisian, hal itu merupakan peringatan kepada institusi kepolisian.
”Seolah-olah pelaku mengajak menjadikan polisi sebagai musuh bersama. Kalau dikaitkan dengan Pilkada DKI Jakarta, terlalu jauh,” ujarnya.
Menurut ahli hukum dari Universitas Sebelas Maret, Solo, M Jamin, teror di Solo jelas mengarah kepada polisi saja. Karena itu, polisi ditantang untuk mengungkapkan kasus itu.
”Kejadian sebelumnya kan sudah ada bukti forensik yang sebenarnya bisa diungkapkan. Polisi melalui intelijen seharusnya bisa mendeteksi,” katanya. (SON/UTI/FER/WHO)
***
Pencitraan terus... oh yeah...
dikurip dari sini