• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

JOKER is The Message

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
JOKER is The Message


Sebetulnya sudah lama saya harap mengulik tokoh fiktif Joker ini sejak tragedi penembakan di Aurora, Colorado 9 tahun lalu yg terinspirasi oleh film trilogi Batman, "The Dark Knight".

Dan makin kepharap lagi sejak rilis film "Joker" (2019) bentukan Warner Bros yg kontroversial penuh pro-kontra. Akhirnya hari ini pecah bisul juga menciptakan tulisan ini seiring muncul kejadian teror Joker di kereta Tokyo (31/10/2021). Dan bukan satu-satunya teror Joker di planet bumi ini sejak teror serupa yg menewaskan 12 korban penembakan massal di Amerika.

Bukan main kharisma tokoh fiktif Joker ini ..

Teringat dulu nonton film Batman versi tahun 90an yg masih bernuansa komikal & theatrikal. Melihat Joker yg diperankan Jack Nicholson masih 'lucu' betulan mirip badut, ngga jahat2 banget kesannya walaupun penjahat.

Tapi kok lihat tokoh Joker versi post-milenium ini beda ? Kharismatik, kelam, stress, suram.... psikopat-nya dapet ! Terus terang waktu nonton film Joker yg heboh itu saya sempat tersihir. Sangat persuasif, bagai menonton analisis psikologi Sigmund Freud dalam sebuah presentasi yg mudah & menghibur.


Joker adalah pesan.

Penggemar Joker itu banyak, tidak dapat dipungkiri. Lebih banyak dari Batman, sang pahlawan sepertinya. Film Joker adalah yg paling diantisipasi sejak debut sosok Joker yg heboh di film The Dark Knight.

Sampai ada yg bilang kalau film yg penjahatnya lebih keren dari jagoannya itu film Batman (haha..).

Joker adalah representasi & visualisasi tentang kondisi depresif banyak orang hari ini. Ketika dulu orang-otang tidak tahu apa masalah yg menimpa mental mereka, film Joker ini ibarat analisis psikologi cuma2. Kita tidak perlu mahal2 datang ke psikiater untuk mengetahui uraian kondisi psikis kita. Film Joker sudah mendeskripsikannya dengan impresif. Dan tanpa sadar kita (dapat) sepakat dengan uraian itu.

Dan gawatmya, kita juga dapat tak sadar sepakat dengan advis atau saran psikologis yg ditawarkan Joker.

Bukan Joker sebetulnya yg menawarkan ide jadi kejam begitu, melainkan ini :

"Whoever control the media, control the mind"


Tahun 1980 Marshall McLuhan sudah meyakini bahwa prilaku manusia itu berubah seiring dengan perkembangan media komunikasi massal yg ditemukan oleh manusia. Mulai dari era penemuan kertas & tinta, lalu mesin cetak, media massa koran, radio audio, lalu visual televisi, iklan, rekayasa film hingga hari ini internet & sosial media.

Setiap penemuan media yg baru diiringi pula oleh munculnya prilaku baru masyarakat. Dan sialnya, komersil & profit-minded sering jadi penunggang media2 itu, yg berikutnya melahirkan 'penyimpangan prilaku'.

Joker adalah akumulasi penyimpangan2 prilaku itu yg direpresentasikan kembali oleh media-media itu sendiri. Hasilnya adalah sebuah identitas atau "now i know who i am". Sebuah jawaban.

Kalau diibaratkan produk, Joker ini seperti tas Hermes, sebuah brand yg dapat membubuhkan jatidiri penggunanya yg berkelebihan duit. Hermes bukan sekedar tas tetapi identitas.

Orang-orang yg frustasi namun masih bingung dengan apa masalah mereka mendadak masalah itu teridentifikasi dalam kemasan dengan branding yg 'keren' bernama Joker.

Bukan masalah mental mereka tersolusikan, melainkan terlabeli. Stress itu keren. Psikopat itu keren. No problem with that, take it Why so serious... prilaku ignorant, dendam, suicidal, anarkis, anti-sosial seakan mendapatkan pembenaran.


Siaga media ?

Kita masih dapat turun ke jalan berunjuk rasa ke sebuah pemerintahan, tetapi tidak ke media. Media adalah raja tanpa mahkota. Penguasa tanpa teritori. Dan kita adalah warganya di dalam jagat citra. Apa yg mereka citrakan itulah realitas kita.

Hari ini bukan jamannya satu orang pemimpin yg otoriter mendikte banyak orang. Tapi jamannya banyak media mendikte banyak orang. Sialnya, yg paling menarik & nyeleneh kontennya - seperti film Joker - yg paling banyak digandrungi ketimbang yg hakiki & berfaedah.

Menjaga kewarasan & fikir saja tidak cukup untuk survive di zaman otoriter panser-panser media ini. Tidak terjerumus dalam realitas virtual mereka itu satu hal, namun tidak terimbas oleh prilaku2 menyimpang itu hal lain.

Siapa yg sangka ada pesakitan yg terinspirasi konten sebuah film, duduk di kereta Tokyo menebar teror...



Rakyat Prancis dulu tidak membayangkan kekuasaan otoriter Raja Louis XIV dapat tumbang. Atau membayangkan tumbangnya otoritarian seperti Unisovyet, Orde Baru, Jerman Nazi ... sekarang dapatkah kita membayangkan ambruknya tirani media-media ?

Entah kenapa saya merasanya sulit, karena kita sendiri sesungguhnya pelaku-pelaku media itu. Kitalah media itu. Kitalah konten. Kitalah profit. Kitalah punggawanya. Di satu sisi film Joker adalah sebuah balad, sebuah empati tetapi siapa sangka di sisi lain dia adalah sebuah inspirasi ?

"Medium is the message" (McLuhan)

Joker is the message

Tidak ada Joker, yg ada hanyalah media.



Siaga media bagi saya itu adalah seperti yg pernah dikatakan Sultan Agung, Raja Mataram dulu kepada para prajuritnya.

"ojo gumunan"

(jangan gumun / gampang terkesan)

Kata-kata yg masih relevan dengan saat ini, sering saya brainstorm kepada generasi-generasi setelah saya di mana realita kehidupan mereka akan betul2 disusun oleh media & sosial media. Tidak gampang terkesan & sering berfikir dekonstruktif mencari 'makna tersembunyi' dari setiap yg kita lihat.

Itu tadi ikhtiarnya. Sisanya? kita berdoa kepada Tuhan memohon kondusif & keselamatan sepenuh kita menyadari hidup dalam rimba belantara digital hari ini.

A lawless society. Di mana terlalu banyak orang untuk diatur oleh hukum yg tidak berdaya & kerap tertinggal. Hari ini 11:36
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.